fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Kata Maaf Tidak Bisa Selalu Dijadikan Alibi untuk Menyelesaikan Masalah

Ketika montir ingin memperbaiki sebuah mobil mogok ia tidak bisa serta merta memperbaikinya tanpa mengetahui bagian mana dari mobil ters...


Ketika montir ingin memperbaiki sebuah mobil mogok ia tidak bisa serta merta memperbaikinya tanpa mengetahui bagian mana dari mobil tersebut yang mengalami kerusakan. Tulisan ini bukan semata-mata ingin mencari kambing hitam atas masalah-masalah yang terjadi di negeri ini atau pun untuk mengajak menjadi sukarelawan perang melaawan Malaysia seperti yang dilakukan pihak-pihak tertentu beberapa waktu yang lalu. Tulisan ini hanyalah pemikiran seorang warga negara awam yang ingin belajar membantu “sang montir” untuk memberbaiki mobil dengan mencoba mencari tahu bagian mana yang rusak dari mobil tersebut bukan hanya sekadar mencari kesalahan sang sopir yang setiap hari mengemudikan mobil tersebut.

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan di negeri kita ketika muncul suatu masalah baru kita begitu saja melupakan masalah sebelumnya meskipun penyelesaian masalah tersebut belum tuntas. Apa kita terlalu pemaaf? Takutnya hal ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang mempunyai maksud tidak baik. Kasus Munir, Trisakti, Century, video porno yang melibatkan tiga orang artis, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang sebenarnya belum terselesaikan tapi seolah-olah lenyap ditelan bumi, kita begitu saja melupakannya padahal ketika kasu-kasus tersebut baru mencuat ke permukaan kasus-kasus tersebut menjadi buah bibir di mana-mana. Bahkan kasus Indonesia – Malaysia pun sekarang sudah mulai kehilangan popularitasnya. Di facebook, twitter, koran, dan televisi begitu ramai memperbincangkan ketika kasus-kasus tersebut baru mencuat, akan tetapi seolah-olah tergantikan popularitasnya ketika sebuah kasus baru muncul, seperti artis senior yang tergeser popularitasnya oleh artis pendatang baru, seperti gosip artis yang sudah basi yang dilupakan begitu saja. Bukankah tujuan kita ramai memperbincangkannya untuk mencari solusi dari masalah tersebut bukan hanya dijadikan sebagai topik ngerumpi atau pun untuk memaafkannya begitu saja.

Berbicara masalah maaf-memaafkan, maaf itu hanya berlaku dalam hukum Tuhan (tobat) dan hukum sosial. Kata maaf tidak berlaku dalam hukum pidana, hukum perdata atau pun hukum kenegaraan. Kalau maaf dilegalisasi di ranah pidana atau perdata hal ini akan menciderai hukum tersebut. Contohnya seperti ini, kalau kita mempunyai hutang apakah hutang tersebut akan lunas begitu saja ketika kita meminta maaf kapada orang yang kita pinjam uangnya? Tentu tidak bukan? Karena hutang ini termasuk hukum perdata. Beda halnya ketika kita mempunyai salah kepada Tuhan, kita cukup meminta maaf dengar bertobat dan tentu saja dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Begitu juga ketika kita mempunyai salah dengan sesama manusia, Tuhan tidak akan memaafkan kita sebelum orang tersebut memaafkan kita karena Tuhan Maha Pemaaf. Ya, Tuhan memang Maha Pemaaf tapi jangan sampai kita sengaja melakukan salah kemudian minta maaf kepada Tuhan.

Melihat hubungan Indonesia-Malaysia menurut saya Indonesia terlalu tenggang kepada tetangga, Indonesia terlalu pemaaf. Apa akibatnya karena kita terlalu pemaaf? Warisan budaya yang diakui Malaysia, TKI yang dilecehkan, pulau-pulau milik Indonesia yang diklaim Malaysia semua itu mungkin tidak akan terjadi kalau kita sedikit memperlihatkan jati diri Sang Macan Asia yang sedang tertidur lelap. Karena ini merupakan masalah kenegaraan tentunya tidak bisa diselesaikan begitu saja hanya dengan kata maaf. Tidak harus dengan perang, seekor macan untuk memperlihatkan bahwa dia  macan sejati lawannya tidak perlu sampai menerkamnya, dengan sedikit auman dan memperlihatkan taringnya pun lawannya sudah takut. Begitu pula Indonesia, untuk memperlihatkan kategasannya tidak harus selalu dengan perang. Seperti Bung Karno, Indonesia waktu itu menyatakan keluar dari PBB karena Malaysia diangkat sebagai Dewan Keamanan Tidak Tetap PBB bahkan sekjen PBB sampai menangis karena tidak menyangka bahwa Bung Karno akan semarah itu. Bung Karno juga pernah mengumumkan “Ganyang Malaysia” yaitu pemutusan hubungan diplomasi dengan Malaysia karena menganggap Malaysia saat itu sebagai negara boneka sekutu Inggris di Asia Tenggara bahkan Indonesia sampai menyerang ke jantung Malaysia. Walaupun kasus yang sekarang berbeda konteksnya tapi alangkah lebih baiknya kalau kita belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut dan jangan sampai kita malah terjebak ke dalam permainan mereka yang ingin mengusik harga diri kita.

Seperti yang saya ungkapkan di awal, saya tidak bermaksud untuk mengajak menjadi sukarelawan perang, kalaupun saya menjadi suka relawan mungkin saya hanya akan mati konyol. Lagi pula kita masih mempunyai TNI lebih tangguh dan lebih berpengalaman daripada tentara Malaysia. Kenapa? Karena tentara kita sudah terbisasa menembak orang (di daerah-daerah konflik seperti Aceh, Poso, Ambon, dll) tidak seperti tentara Malaysia yang hanya melakukan simulasi-simulasi perang dan latihan tembaknya pun haya dengan sasaran boneka. Seperti yang diungkapkan oleh seorang sahabat, seorang perwira yang kebetulan di tugaskan di Kalimantan Timur di perbatasan dengan Malaysia, sebagai seorang perwira untuk berperang membela tanah air pun tentu saja mereka selalu siap siaga tinggal menunggu perintah pimpinan.

Berbicara masalah perang, ketika Rasulullah SAW akan menyatakan perang kepada musuh-musuhnya beliau terlebih dahulu melakukan beberapa tahapan perundingan, tidak begitu saja menyatakan perang. Memberikan pengertian dan terus memberikan pengertian sampai sembilan kali baru ketika sudah sembilan kali tidak bisa dengan cara itu maka “pedang kami yang akan berbicara”, kata Rasulullah SAW. Dan menurut informasi yang saya peroleh dari beberapa media pemberitaan, Kementrian Luar Negeri Indonesia sudah sembilan kali melayangkan surat kepada pemarintan Malaysia tetapi tidak satu pun yang digubris. Jadi sudah seharusnya pemerintah kita bertindak tegas dan sekali lagi saya tegaskan bahwa tegas tidak selalu dengan perang.

Akan tetapi, satu hal yang perlu diperhartikan bahwa hati-hati itu beda tipis dengan takut. Kalau masih takut ini masih wajar karena menurut Emha Ainun Najib juga “takut itu halal” yang berbahaya adalah ketika takut ini telah menjadi ketakutan. Tidak hanya takut kepada musuh tapi bisa juga takut kepada rakyat sendiri begitulah kalau sudah terlalu paranoid. Sebenarnya tidak ada yang perlu ditakuti kalau memang niat kita sudah lurus. Takut kepada rakyat? Menurut saya ini terlalu lebay, sebagai seorang pemimpin tentunya sudah lumrah kalau ada orang yang tidak suka kepadanya bahkan ada yang menginginkan kematiannya. Di Amerika mungkin seorang sudah banyak presidennya yang meninggal karena dibunuh oleh lawan-lawannya. Bahkan sahabat dekat Bung Karno pun, Kennedy, meninggal karena ditembak. Padahal banyak yang meramalkan mungkin Bung Karno tidak akan diturunkan seandainya Kennedy masih hidup, mungkin di posting saya berikutnya saya akan mencoba membicarakan kedekatan Bung Karno dengan pemimpin-pemimpin besar dunia waktu itu.

Dapat disimpulkan dari tulisan yang tidak jelas juntrungannya ini bahwa untuk menyelesaikan masalah yang berbeda ranah hukumnya tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sama dan kesalahan secara vertikal tidak bisa diselesaikan dengan cara menyelesaikan masalah secara horizontal begitu juga sebaliknya. Palsafah hidup orang Galuh itu “Teuas peureup lemes usap” (Keras tinju lembut belaian) artinya saling menyayangi terhadap sesama akan tetapi tetap bisa keras ketika ada yang mengganggu harga diri. Jangan takut karena kita benar tapi takutlah karena kita salah.

Karena masih dalam suasana lebaran, saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1431 H minal aidin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin.

“Teuas peureup lemes usap”
Indonesia 3818080535629682887

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping