fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Dua Jempol Buat EESS

"Kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan Sese...

"Kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan
Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan
Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya
Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat
Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat
Karena itu kami naik gunung" 

-Soe Hoek Gie


Eh ngomong-ngomong EESS itu apaan, Mat?


Itu loh, Elbrus Expedition STAPALA STAN. Masa ga tau sih? Ekspedisi pendakian puncak gunung Elbrus sebagai puncak tertinggi Eropa dalam rangka pendakian Seven Summits. Ini merupakan kali ke dua STAPALA berusaha buat naklukin Elbrus setelah dua puluh tahun lalu mereka gagal buat naek ke puncak Elbrus. Sebelumnya STAPALA udah pernah naek ke puncak Kilimanjaro. Itu loh puncak tertinggi di benua Afrika.

Wah keren ya! Tapi kok Cuma dua jempol sih?


Wakakak… Karena gue emang cuma punya dua jempol tangan. Ga sopan kan kalo ngasih jempol kaki. Ah ga mutu nih pertanyaannya.

Okok! Terus kenapa lo pengen nulis tentang EESS ini?


Ceritanya gini. Waktu gue lagi ke warnet (gara-gara modem gue mati gaya), gue baca berita di RMOL  kalo STAPALA gagal sampe ke puncak Elbrus gara-gara diserang badai. Buat gue sih walopun mereka ga sampe ke puncak itu udah cukup membanggakan. Yang gue sayangin itu komentar-komentarnya. Lagi dapet kali ya makanya sensi banget komentarnya. Biasalah para pengecut kan cuma berani komentar sebagai anonim. Liat aja sendiri komentar-komentar di RMOL itu. Gue rasa itu bikin eneg banget buat anak-anak STAPALA yang udah kerja keras selama ini. Baca aja di blognya biar tau gimana kerja keras mereka.  Picik banget pikiran mereka yang iri sama anak-anak STAPALA. Ketika gagal terus dicaci-maki tapi coba liat kalo EESS berhasil. Gue yakin mereka (komentator sensi) juga ikut bangga.

Menurut lo apa untungnya si ekspedisi kayak gini?


Menurut gue ekspedisi kek pendakian Seven Summits itu merupakan prestasi tertinggi buat para atlet pendaki gunung. Ngedaki gunung itu termasuk olahraga loh bukan rekreasi kek yang dibilang komentator anonim di berita itu. Ketika berhasil naklukin Seven Summits itu menjadi suatu kebanggaan karena udah mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Contohnya kek Mahitala. MPA dari Unpar yang beberapa bulan kemarin berhasil naklukin Seven Summits. Itu pertama kalinya loh tim pendaki Indonesia berhasil mencapai tujuh puncak di tujuh benua. Selain itu masih banyak juga manfaat ngedaki gunung lainnya.

Selain itu emang apa lagi manfaatnya?


Banyak banget manfaatnya. Tapi kalo ngomongin manfaat naek gunung yang paling gue suka pernyataannya Soe Hoek Gie. "Kami adalah manusia - manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itu kami naik gunung."  Maknanya kurang lebih kek gini. Dengan naek gunung kita akan lebih mencintai Indonesia karena kita akan lebih mengenal alam Indonesia. Naek gunung dapat menjadikan jasmani dan rohani yang sehat. Kenapa rohani juga? Karena ketika naik gunung kita akan melihat banyak bukti keagungan Tuhan. Dari puncak kita juga ngeliat kalo kita itu kecil banget di mata Tuhan.

Lo sendiri pernah naek gunung ga?


Pernah, waktu SMA gue pernah empat kali jalan kaki dari asrama ke puncak Tangkubanparahu. Pernah kebanjiran juga karena kehujanan pas lagi di kawah Ratu. Pernah juga gue sama temen-temen nyasar di hutan Tangkubanparahu.

Terus kenapa lo ga masuk STAPALA biar bisa naek gunung lagi?


Soalnya gue sadar fisik gue ga terlalu kuat. Apalagi gue paling ga tahan dingin. Padahal gue pernah tinggal di kaki gunung Burangrang. Apalagi waktu itu gue mikirnya butuh biaya besar buat ikutan PA. Peralatannya juga kan mahal-mahal. Tapi alesan kek gitu tuh salah banget sebenernya. Pas di UI gue sempet pengen ikutan MAPALA juga. Waktu itu gue pengen ikut Mapala karena gue pernah baca kalo Mapala punya kerjasama sama Walhi. Waktu SMA gue pernah kontak-kontak bahkan suka dapet undangan ikut acara The Walhi Institute, Walhi Jabar. Acaranya sabtu-minggu. Tapi karena hari minggu gue masih ada kegiatan dan baru bisa izin DL sekitar jam sepuluhaan kan ga mungkin juga gue ikut. Apalagi sabtu masih ada KBM sampe sore. Gue lebih suka ke penyelamatan lingkungannya, kalo jadi anak PA kan harus suka bercumbu dengan alam juga. Kek naek gunung, panjat tebing, sama kegiatan-kegiatan alam bebas lainnya.

Yah curcol mulu.


Yey, kan tadi lo yang nanya.

Ngomong-ngomong tentang STAPALA, menurut lo STAPALA itu kek gimana?


Menurut gue STAPALA itu organisasi paling kuat yang ada di kampus. Kalo istilah Pa Kusmanadji mah “organisasi elit”. Lo ga bisa sembarangan keluar masuk organisasi ini. Mau masuk aja kan ada diklatnya dulu. Ketat banget tuh seleksinya. Dia juga ga milih-milih latar belakang anggotanya. Maksudnya semua orang punya kesempatan buat masuk organisasi ini asalkan bisa lolos seleksinya. Terus alumninya juga masih care sama almamaternya. EEDS juga cukup besar kontribusi alumni di situ. Terus jiwa korsanya juga besar banget. Beberapa kali gue ada acara di plasma sampe malem. Dan sampe gue bubar anak-anak STAPALA masih ada di situ. Bukan nongkrong-nongkrong ga jelas tapi mereka latian sama ngerawat peralatan-peralatannya. Hampir tiap male loh itu.

Ada kata-kata terakhir?


Kata-kata terakhir? Kayak mau mati aja. Kata penutup kali. Walopun yang orang ada komentar-komentar bernada minor tentang EESS. TETAP SEMANGAT buat STAPALA. Jaga semangat ini hingga suatu saat nanti kalian berhasil mencapai puncak Elbrus dan lima puncak lainnya yang belum didaki. Gue bangga banget sama tim EESS. Semua atlet termasuk atlet yang ga berangkat dan semua crew EESS gue juga yakin perjuangan kalian udah besar banget. Cuma karena faktor alam aja yang belum ngizinin. Gue optimis suatu nanti STAPALA bakalan bisa ngibarin bendera Indonesia di enam puncak benua lainnya. Tetap berjuang buat mengharumkan nama almamater dan nama bangsa Indonesia.

WASSALAM,

Mampir juga ke:

Kampus 4387843076592849328

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Laman Facebook

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping