fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Say “NO” to PeKaeS

Logo PeKaeS

Partai yang dibentuk tahun 1998 ini awalnya bernama Partai Keadilan (PK). Pemilu 1999 perolehan suaranya ga cukup banyak sehinnga ga bisa ikut Pemilu 2004. Akhirnya tahun 2004 partai ini ganti nama jadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Patai ini didiriin sama aktivis-aktivis gerakan Tarbiyah. Saat kemunculannya, tahun 1970-an dan 1980-an, gerakan Tarbiyah merupakan gerakan dakwah kampus yang make sistem pembinaan ala Tarbiyah Ikhwanul Muslimin di Mesir. Pergerakannya beda banget sama dua gerakan Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), yang moderat dan kultural. Kelompok aktivis Tarbiyah ini cukup militan dan merupakan gejala baru sebagai gerakan Islam ideologis.

Sudah jadi rahasia umum juga di kalangan para ahli kalo Rabitath al-A’lam al-Islami nyediain dana yang luar biasa besar buat gerakan-gerakan radikal di Indonesia melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Berbagai kegiatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang menggagas gerakan Tarbiyah yang merupakan awal mulanya PKS ikut ngenikmatin dana ini. Perkembangan gerakan Tarbiyah di kampus-kampus terbilang sangat cepat. Sehingga dalam sepuluh tahun sejak 1980 udah masuk ke kampus-kampus besar kek UI, ITB, UGM, Unair, Unbraw, Unhas.

Ohya, gue sendiri mulai antipati sama partai ini sejak ngeliat kelakuan kader-kader partainya di daerah gue yang menurut gue “GA BANGET!”. Di antaranya ada yang gunain masjid sebagai wadah kampanye. Khotbah Jumat aja make atribut partai di atas mimbar. Tambah lagi pas pemilu 2009 pengawas dari PKS bilang sama nenek-nenek yang bingung mau nyoblos apa. Katanya kalo mau masuk surga surga suruh milih PKS aja. Astagfirullah ya, sesuatu banget itu. Presiden partainya aja ga ada jaminan buat masuk surga gimana dia bisa bilang kalo yang milih dijamin masuk surga. Ternyata ga cuma orang awam kek gue yang bilang “TIDAK” untuk partai ini. Buktinya Muhammadiyah, sebagai ormas Islam ke dua terbesar di Indonesia, sampe ngeluarin Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 buat ngerespon ulah PKS.

Salah satu poin dalam keputusan tersebut bertujuan buat ngebebasin Muhammadiyah dari pengaruh, misi, infiltrasi, dan kepentingan partai politik yang selama ini mengusung misi dakwah atau bersayap dakwah. Karena telah memperalat Muhammadiyah sebagai ormas dengan visi-misi luhur sebagai organisasi Islam MODERAT untuk tujuan politik PKS. Berikut kutipannya:

“Segenap anggota Muhammadiyah perlu menyadari, memahami dan bersikap kritis bahwa seluruh partai politik di negeri ini, termsuk partai politik yang mengklaim diri atau mengembangkan sayap/kegiatan dakwah seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah benar-benar partai politik. Setiap partai politik berorientasi meraih kekuasaan politik. Karena itu, dalam menghadapi partai politik manapun kita harus tetap berpijak pada Khittah Muhammadiyah dan harus membebaskan diri dari, serta tidak menghimpitkan misi, kepentingan, kegiatan, dan tujuan partai politik tersebut." (keputusan poin 3)

Walopun gue memang bukan warga Muhamadiyah. Tapi gue setuju banget sama isi SKPP tersebut. Terutama kutipan poin 3 yang menyatakan kalo semua partai politik mempunyai orientasi yang sama yaitu untuk meraih kekuasaan. Dan tentu saja pihak yang paling terpukul atas keluarnya SKPP ini adalah PKS. Karena di SKPP itu namanya disebut secara terang-terangan. Sehingga PKS pun ngerespon dengan sebuah risalah.

Para aktivis garis keras juga sering menuding kalo orang asing make uang mereka buat ngehancurin Islam di Indonesia. Pada kenyataannya bangsa barat yang memberikan bantuan untuk Indonesia seperti Ford Foundation, The Asia Foundation, dan LibForAll Foundation mempublikasikan program-programnya secara transparan. Ini beda banget sama gerakan asing Wahibi, Ikhwanul Muslimin  dan kaki tangannya di Indonesia (termasuk PKS). Jelas banget kalo saat para aktivis garis keras tersebut menuding kalo orang asing make uang mereka buat ngehancurin Islam di Indonesia. Tentu kalo mereka tau persis karena yang mereka maksud orang asing adalah aktivis gerakan transnasional dari Timut Tengah. Mereka melakukan Wahabisasi, merusak Islam Indonesia yang spiritual, toleran, dan santun. Mereka ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam. Jadi apa bedanya mereka dengan NII yang jelas-jelas menginginkan Indonesia menjadi sebuah negara Islam?

Menurut para pengamat politik, aktivis gerakan transnasional termasuk partai yang dirasukinya (PKS) merupakan ancaman yang lebih besar daripada Jamaah Islamiyah (JI) terhadap Pancasila, UUD 1945, dan NKRI. Partai-partai berasas Islam seperti PKS biasanya nolak kalo dituduh akan mendirikan, atau seenggaknya memfasilitasi pendirian negara Islam. Namun Gus Dur sendiri, tokoh pluralisme yang juga tokoh besar NU, penah bilang kalo aspirasi pendirian negara Islam memang ada. Sementara kaum non-muslim menilainya isu ini secara objektif. Menurut mereka selama partai berasas kebangsaan masih ngedomonasi maka negara Islam tidak akan terwujud.

Tanggal 1-4 Februari 2008 PKS ngadain Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) di Bali. Dari rekomendasi yang dihasilkan, PKS keliatannya sangat menyoroti isu pluralitas dan semangat kebangsaan. Di situ PKS mengakui Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara dan konstitusi nasional bangsa. PKS juga menyatakan diri sebagai partai terbuka dan menerima caleg dari non-muslim. Dipilihnya Bali yang merupakan pulau Dewata juga sepertinya ingin memberi kesan bahwa PKS telah berubah. Para petinggi partai juga pada pake udeg-udeg, penutup kepala tradisi khas umat Hindu Bali.

Aneh binti ajaib memang. Setelah sepuluh tahun berdiri PKS baru saat itu ngomongin masalah pluralitas dan semangat kebangsaan. Alasannya tentu saja  buat nambah kekuatan politik di Pemilu 2009. PKS sadar bener kalo langkah ini ga diambil mereka ga akan berkutik berhadapan sama NU dan Muhammadiyah yang nyata-nyata bersebrangan sama mereka. Terlebih lagi karena keluaarnya keluarnya SKPP Muhammadiyah.

Namun keputusan yang diambil dalam Mukernas Bali itu kemudian dipertanyakan oleh para pendukungnya yang “kaget” sama perubahan yang begitu signifikan dari partainya. Karena itu PKS ngeluarin bayan (penjelasan) tentang keputusan sebagai partai terbuka dan perihal caleg non-muslim tadi. Isi penjelasannya bahwa sesuai keputusan Musyawarah Majelis Syuro PKS ke VII di Jakarta dan ditegaskan dalam Musyawarah Majelis Syuro PKS ke IX di Bali adalah “Bersih, Peduli, dan profesional. Kemudian isi dari penjelasan itu kita sering denger sebagai motto dari partai yang berlogo bulan yang saling membelakangi ini.

Dalam penjelasan tersebut, istilah “terbuka” ga pernah menjadi keputusan partai. Disebutin juga kalo PKS tetap sebagai partai dakwah yang berasaskan Islam, memiliki moral Islam, dan syariat Islam wajib dijalankan secara konsisten oleh para pemeluk Islam, terutama para kader PKS. Selanjutnya meminta agar ga lagi mewacanakan isu “partai terbuka”.

Kenapa gampang banget ya mungkirin keputusan hasil Mukernas Bali? Mukernas gitu loh! Bukan rapat ecek-ecek.  Begitu gampangnya kek membalikan telapak kaki. Ngerubah suatu keputusan yang sangat mendasar dengan kembalinya menjadi partai tertutup. Keknya PKS ingin mainin POLITIK BERMUKA DUA. Menjadi bunglon, berbeda wujud ketika berhadapan sama kadernya dan ketika berhadapan sama masyarakat luas di luar kadernya sebagai partai islam. Berarti Pancasila dan UUD 1945 cuma dijadiin tameng buat menangin suara rakyat. “Sungguh terlalu!” kalo kata Rhoma Irama, menghalalkan segala cara buat ngeraih tujuan politiknya.

Partai-partai yang dikendaliin pihak luar seperti PKS yang ada di Indonesia ini di beberapa negara juga ada dan tentunya dengan nama yang berbeda. Misalnya di Sudan ada Jamaah Islamiyah, di Aljazair ada FIS, dan di Palestina ada Hamas.

Bagaimana pun gue ga setuju sama pihak-pihak yang make agama buat kepentingan pribadi atau golongannya. Sebagai mahasiswa, yang paling bikin gue antipati sama PKS yaitu karena partai ini udah ngerasukin dunia kampus. Sehingga banyak mahasiswa yang secara terselubung atau pun secara terang-terangan menjadi kader partai ini. Di lingkungan kampus gue sendiri, gue sering banget nemuin atribut partai ini. Mohon dipersori kalo gue terlalu blak-blakan, bukan maksud gue buat nyaingin Joni sebagai bintang iklan Axis. Gue juga bukan simpatisan partai lawan politik PKS. Gue cuma ga suka kalo mereka jadiin mahasiswa yang seharusnya jadi golongan oposisi yang netral tapi malah dijadiin kader partai. Harusnya kita juga sebagai mahasiswa sadar akan hal itu.

WASSALAM,

Baca juga:
http://www.ndi.org/indonesia
"How Billions in Oil Money Spawned a Global Terror Network", US News & Report, 7 Desember 2003.
"Indonesian Islamist party eyes polls and presidency", Reuters News Service, 10 Juli 2008.
"Mukernas PKS Rekomendasikan Tiga Agenda", Republika, 4 Februari 2008.
"PKS Serukan Bangkitkan Semangat Kebangsaan", Kompas, 4 Februari 2008.
"Fraksi PKS Diingatkan Tak Paksakan Ideologi Partai", Kompas, 18 Desember 2006.
Politik 5381222844026187342

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. artikelnya bagus mas. Awalnya saya juga simpati sama parpol ini, tapi setelah pemilu 2009, jadi antipati malah. Blunder.

    BalasHapus
  2. sampai hari ini saya masih simpati sama temen2 PKS. coba kenali lagi lebih dekat, pelajari lekat2. tapi kalo nggak mau ya nggak apa2 juga. nggak milih PKS juga gak masuk neraka atau sebaliknya kok :-)

    BalasHapus
  3. AKU KADUNG TRESNO KARO PKS JE MAS...KEPRIBEN...MANTEB TENAN...

    MUJITRISNO.MULTIPLY.COM

    BalasHapus
  4. Gimana kalau kita konsisten menerapkan syariat Islam dalam kehidupan kita sehari-hari? Mau terima tantangan ini mas? Tak perlu nuding-nuding yang lain. Bagaimana? Dimulai darimana dulu nih? ^_^

    BalasHapus
  5. Sama-sama belajar kita. :-)

    BalasHapus
  6. Mas nya mirip Ibas, sekjen Demokrat yah.

    :hihi

    Kalau mahasiswa itu gini dong mas,,,"Say No to Corrupt Party!" :D

    Masnya perlu baca lagi yang banyak...biar tulisannya sesuai fakta dan enak dibaca. :)

    BalasHapus
  7. kritik:
    -tulisannya lebih baik ditulis sumber/acuan (baca semua sumber yg perlu dalam menulis opini,bukan hanya sumber yg ndukung pendapatnya mas)

    - ambil generalisasinya terlalu cepet mas...

    BalasHapus
  8. mahasiswa oohh.... mahasiswa

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Say NO to STAN
    Hapuskan STAN dari Indonesia karena hanya dipakai untuk mengkader partai ini.

    BalasHapus
  11. mari melihat dunia luar dengan lebih arif lagi...

    BalasHapus
  12. sampeyan adik kelasnya gayus?

    BalasHapus
  13. @Aldy Wirmadi: makasih mas, semoga bisa lebih bagus lagi ke depannya. :)

    BalasHapus
  14. @Wahid Nugroho: setuju mas, asal ga usah maksa-maksa ya mas. :)

    BalasHapus
  15. @dedaunan: iya, tapi ga usah sampe ngerubah NKRI jadi negara Islam. orang Indonesia kan ga semuanya Islam.:)

    BalasHapus
  16. @fathy_farahat: engga ah mas, gantengan saya kok. :D
    ada referensi buku yang bagus ga?

    BalasHapus
  17. makasih buat yang udah mampir sini sama ninggalin komen, tapi jangan anonim dong biar kita bisa kenalan.:D
    ohya.. jangan pake bahasa jawa juga, ga ngerti soalnya. :)

    BalasHapus
  18. wah iya juga ya, sampeyan kok mirip si ibas sih,,, ada turunan sama pak esbeye ya? :D

    BalasHapus
  19. saran saya rujuk ke sumber primernya...

    1. AD/ART PKS

    2. Buku "Memperjuangkan Masyarakat Madani" isinya platform pembangunan PKS, falsafah dasar perjuangan PKS.

    kalo masnya ketemu niatan PKS diriin negara Islam...ane doain masuk DJP, tapi kalo ga ketemu juga saya doain juga masuk DJP. hehehe

    BalasHapus
  20. @wa: iya ada, sama-sama turunan Adam dan Hawa. :D

    BalasHapus
  21. Emang negara Islam musti semuanya Islam ya?

    Bukannya memang "Negara berdasar atas keTuhanan Yang Maha Esa"?
    Nah, apa Pancasila itu dasar negara berdasar UUD 1945?

    BalasHapus
  22. keknya maksudnya mas dedaunan itu, ke diri mas fiskus, bukan Indonesia nya mas... :), kan mulai dari diri sendiri

    sumbernya banyakan koran ya? saran, coba buka sumber primer, bisa dari web resmi dari partai yang mas omongin, atau rekomendasinya mas fathy..

    karena sumber kedua atau ketiga itu bisa dianalogiin ngomongin tentang bakso rasa ayam dari katanya tukang besi yang denger dari tukang las yang denger ceritanya dari tukang semur yang beli bakso ayam :), jauh kan?

    betewe, kenalkan saya floa... tapi ga punya url, domisili blog di MP :D

    BalasHapus
  23. kapan pembuat-pembuat kebijakan di Indonesia terdiri atas orang-orang tanpa membawa kepentingan?
    jangan buat ibu pertiwi menangis dengan kepentingan kawan-kawan budak parpol..

    BalasHapus
  24. Oke, mungkin di pemilu akan datang gue gak milih PKS. :)

    Kalo gitu bisa sebutin apa partai yang musti gue coblos... eh contreng pemilu yg akan datang?

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping