fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

PLURAL.IS.ME

"Ku tatap dunia, terasa perih luka di dada. Pertempuran manusia, yang buta indahnya perbedaan. Oh indahnya.." -SID Apabi...

"Ku tatap dunia, terasa perih luka di dada. Pertempuran manusia, yang buta indahnya perbedaan. Oh indahnya.." -SID


Apabila ditanya siapa tokoh yang paling ingin saya temui saat ini, jawabannya adalah Gus Dur. Saya begitu merindukan sosok pemimpin seperti Gus Dur. Sayangnya saya termasuk orang yang telat memahami dan mengagumi pemikiran-pemikirannya. Gus Dur memang seorang presiden yang mempunyai kemampuan penglihatan terbatas. Tapi Gus Dur lebih mampu melihat kesetaraan dan keadilan daripada presiden-presiden lain yang mempunyai kemampuan penglihatan normal.

Salah satu contoh bahwa Gus Dur lebih mampu melihat kesetaraan dan keadilan adalah Indonesia mampu kembali menghargai pluralisme ketika saudara kita yang berdarah Tionghoa bisa kembali mendapatkan haknya di negerinya sendiri, Indonesia.

Pluralisme di Indonesia sangat menarik, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia, tapi Indonesia bukanlah negara Islam. Meskipun jumlah penduduk Islam di Indonesia mencapai 90%, pada Pemilu terakhir kemarin partai berbasis agama hanya mendapatkan 20% suara pemilih. Artinya mayoritas rakyat Indonesia, termasuk yang beragama Islam, tidak ingin Indonesia menjadi negara Islam, tapi negara demokrasi. Karena hal itu pula banyak orang yang datang ke Indonesia hanya untuk mempelajari pluralisme yang melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Saya tidak akan kaget apabila tulisan saya kali ini kembali mendapat tekanan dari orang atau kelompok yang bersikeras untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Mengutip perkataan K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sebuah simposium Pemikiran Gus Dur di Jakarta. Dengan gaya bercanda beliau mengatakan kurang lebih seperti ini: “Kalau anda ingin tahu siapa Gus Dur lihatlah saya! Gus Dur kiai, saya juga kiai. Gus Dur pluralis, saya juga pluralis. Gus Dur senang seni, saya juga senang seni, bahkan saya seniman malah. Gus Dur NU, saya juga NU. Bedanya cuma satu, Gus Dur berani, saya tidak!” Jadi buat apa saya mengagumi pemikiran-pemikiran Gus Dur kalau saya tidak ikut meneladani keberaniannya dalam menyuarakan apa yang kita yakini.


Akhir-akhir ini saya merasa miris melihat perkembangan pluralisme yang berimbas terhadap kurangnya  toleransi di kalangan masyarakat Indonesia. Dalam hal kebebasan beraspirasi, berserikat, dan berkumpul misalnya. Beberapa minggu kemarin saya mendengar bagaimana radikalnya FPI dan MMI ketika membubarkan diskusi dalam rangka book touring Irshad Mandji di beberapa kota di Indonesia. Bahkan ketika diskusi diadakan di Pusat Kajian Islam dan Transformasi Sosial (LKIS) di Bantul, MMI tidak hanya membubarkan dengan paksa tetapi juga menganiaya beberapa orang peserta diskusi.

Selain tindakan kriminal, pembubaran diskusi dan penganiayaan tersebut juga telah melanggar hak asasi manusia yaitu direnggutnya kebebasan beraspirasi, berserikat, dan berkumpul. Sangat disayangkan bahwa dalam kasus ini Kepolisian terkesan membiarkan ormas-ormas tersebut melakukan tindakan-tindakan radikal. Pembubaran diskusi di Salihara misalnya, pada saat membubarkan diskusi tersebut Kapolsek Pasar Minggu menyebutkan bahwa warga sekitar tidak setuju diadakan diskusi tersebut. Anehnya, ketika diskusi tersebut telah dibubarkan, seorang teman saya menemukan fakta yang tidak sesuai dengan apa yang tadi diungkapkan oleh sang Kapolsek. Warga sekitar Salihara justru merasa heran kenapa sampai ada segerombolan FPI dan beberapa personel Polisi yang datang ke Salihara. Jadi "warga sekitar" mana yang dimaksud sang Kapolsek?


Sesat, kata itulah yang seringkali dijadikan dalih oleh beberapa kelompok untuk mendakwa kelompok lain yang berbeda pemahaman. Tentu kita masih ingat pembataian yang terjadi di Cikeusik pada awal tahun kemarin. Bahkan di berbagai belahan dunia sudah tak terhitung lagi berapa rumah dan bangunan yang hancur, berapa orang yang terluka dan yang mati, berapa orang yang mengungsi dan kehilangan rasa aman akibat dituduh sebagai orang sesat.

Terkadang manusia begitu angkuh sampai lupa bahwa yang berhak menentukan seseorang sesat atau tidak hanyalah Sang Pemilik agama itu sendiri. Mengaku benar dan mendakwa yang lain salah (truth claim) inilah yang menggiring agama-agama ke dalam arena konflik bahkan peperangan yang menghiasi perjalanan dan sejarahnya selama ini. Ironis memang, semakin nama Tuhan digemakan semakin deras darah yang tertumpah. Sungguh tak pantas ketika orang-orang yang merasa paling benar sembari menggemakan nama Tuhan malah mengeroyok layaknya preman orang yang tak sepaham dengannya .

Mengklaim benar dan menyalahkan yang lain akhirnya harus kita akui secara pahit sebagai bagian dari hak asasi dari manusia-manusia yang mengaku beragama. Tapi bukan berarti hak ini menjadi suatu rekomendasi untuk melakukan segala sesuatu yang melanggar hak orang lain. Ketika ada orang yang ingin mendapatkan haknya dengan merenggut hak orang lain maka hak tersebut tidak dapat dituntut lagi. Karena di depan konstitusi kita setiap warga negara berada dalam barisan yang sejajar ketika berbicara tentang haknya.

Bahkan bisa saja seorang manusia mendakwa manusia lainnya hanya karena ketidakpahamannya terhadap orang yang didakwanya itu. Ya, namanya juga manusia yang pasti tidak akan selamanya benar. Seperti yang terjadi pada saat pembubaran diskusi di Salihara. FPI meneriaki Irshad “Yahudi!”, padahal Irshad adalah seorang Muslim. Jangankan baca bukunya, mungkin pada saat masuk ke ruang diskusi itu FPI bahkan tidak tahu orang yang mana yang namanya Irshad. Bagaimana mungkin juga mereka bisa menyebut sebuah buku sesat sementara mereka belum pernah membaca buku itu. Hmm...


Sebagai penutup, saya hanya ingin mengutip ucapan Pandji. Sebuah agama, agama apapun itu, tentu mengajarkan kebaikan. Mari jadi duta yang baik untuk agama kita masing masing. Karena agama, reputasinya, ada di tangan para pemeluknya. Gitu aja  kok repot..!

Referensi gambar:

Pluralitas 7303861277839524209

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. Hal-hal berbau agama memang sensitif, namun entah kenapa kadar kesensitivitas negara ini semakin hari semakin mirip gadis yang tengah PMS.

    "tidak ada kebenaran yang benar-benar benar di dunia ini, setiap orang pasti membawa kebenarannya sendiri" (Frau. anime 07 Ghost).

    Saya setuju dengan ungkapan "bagaimana bisa menjudge sebuah buku itu haram sedangkan belum pernah membacanya ?" (atau semacam itu). jatuhnya malah terkesan orang-orang tersebut sotoy.

    CMIIW

    BalasHapus
  2. Karena di Indonesia banyak orang yg beragama tanpa pake akal sehat. Padahal untuk bisa memahami yg namanya agama, ga cukup hanya dari satu sudut pandang saja, melainkan butuh pemahaman yg komprehensif dari berbagai bidang ilmu seperti filsafat dan fenomenologi.

    Pemahaman yg hanya setengah2 itulah yg menyebabkan munculnya kaum fanatis/fundamentalis yg menggunakan ajaran dan ideolofi tertutupnya untuk menanamkan benih permusuhan di Indonesia.

    Saat agama hanya dipahami tanpa dimaknai, agama hanya bagaikan sebuah opium

    BalasHapus
  3. Setuju gue sama komen2 diatas. Mana mungkin kita belum pernah membacanya sudah menjudge buku itu haram

    BalasHapus
  4. mungkin dijawab di diri masing-masing aja:

    - alat memahami agama apa saja? terutama yang muslim, pertanyaannya dikhususkan, alat memahami Islam apa saja? sudah tahu? sudah mempelajari?

    - jika jawabannya alQuran dan sunnah, tahu apa saja alat untuk memahami alQuran dan sunnah? dua itu sumber yang sangat luas, ada alat untuk memahami sesuai apa yg dimaksud sebenarnya oleh Allah dan RasulNya, tau apa aja? sudah belajar?

    *pertanyaan yang cukup dijawab masing-masing saja.
    *kalau ada yg mau nanya, monggo langsung ke email saja: natstan23@gmail.com

    BalasHapus
  5. agan-agan memahami agam tidak cukup dengan akal sehat aja
    setiap faham pasti merasa dirinya paling benar,paling baik, setiap agama pasti akan mengaku dirinya paling benar, jangan saling menghujat. Termasuk agama pluralisme jangan menghujat agama lain.

    BalasHapus
  6. Kalo menurut saya yang ditolak itu sebenarnya bukan buku/diskusinya, tapi pembicaranya.

    Apalagi yang saya baca dari berbagai media elektronik, pemikiran Irshad Manji terlalu melenceng jauh dari Pokok ajaran Islam. Terutama soal kehidupan seksual seorang Irshad Manji. Wajarlah ditolak mentah-mentah masyarakat awam.

    Sebenarnya kejadian seperti ini sudah bisa diprediksi sebelumnya, tapi mungkin panitianya yang kurang sensitif dengan lingkungan. Jadi memancing keributan.

    BalasHapus
  7. haha.. anda juga yg nulis n komen diatas lucu, apakah dikau sudah baca isinya sehingga dirimu membela?, ini bukan bicara perbedaan tapi bicara penyimpangan, kasihan tuh FPI kena terus padahal kalau mau jujur mana ada organisasi yg ketuanya mau bertanggung jawab ditahan atas tindakan anak buahnya..coba yg lain banserkah, pp, fbr dll...

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Ya, aku setuju bahwa yg menentukan sesat itu adalah Yang Maha Kuasa. Namun, memang dari hamba-hambanya lah tangan Yang Maha Kuasa itu bertindak. Mohon beri komentar di tulisanku yang ini ya Hak Anak Sebagai Amanah Tuhan dan UUD RI

    BalasHapus
  10. sepertinya untuk kasus ahmadiyah itu bukan hanya dianggap sesat saja tapi sudah menodai agama islam, sebagai pemeluk agama islam wajar kalau agamanya merasa dinodai dan merespon terhadap org2 yang menodai agama islam.

    BalasHapus
  11. setiap agama memiliki kelemahan tetapi itu bukan karena agamanya tetapi itu karena manusianya memiliki kelemahan..

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping