fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Lebih Baik "Setan" daripada "Tuhan"

‎"Shalat itu haram", ketika konteksnya betul, postingan kalimat ini bisa valid/betul (misalnya karena shalat lagi haid, shalat di...

‎"Shalat itu haram", ketika konteksnya betul, postingan kalimat ini bisa valid/betul (misalnya karena shalat lagi haid, shalat di waktu-waktu terlarang). Jadi, pahamilah konteks status/notes yang saya posting, sebelum kalian merasa punya argumen dan pendapat sendiri lantas menuliskan komen. Akan repot sekali jika setiap kita lebih suka membawa konteks masing-masing dibandingkan membaca dengan baik terlebih dahulu postingan saya.

Paragraf di atas saya kutip dari status yang ditulis oleh seorang Darwis Tere Liye di halaman facebooknya. Repot memang ketika orang hanya berkomentar terhadap apa yang kita tulis dengan tidak memosisikan diri mereka sebagai kita, penulisnya. Karena orang itu tidak akan menangkap maksud yang terkandung dari apa yang kita tuliskan. Apalagi jika orang itu hanya membuat simpulan tentang tulisan kita hanya dari judul yang kita tuliskan.

Begitu pula dengan apa yang saya alami. Ketika memerotes pembubaran dan penganiayaan yang dilakukan oleh FPI dan MMI saya dianggap sebagai "setan". Bagi saya, itu lebih baik daripada saya dianggap sebagai "Tuhan" yang kemudian disembah dan dipuja.




Terkait buku Irshad Manji, saya katakan bahwa saya tidak 100% setuju dengan apa yang ia tulis. Bahkan cenderung lebih banyak tidak setujunya. Menurut saya, seringkali Manji mencoba menyelesaikan permasalah-permasalah yang dia temui hanya dengan melakukan pembenaran atas apa yang dia yakini. Lebih kepada logika tanpa didasari dengan dalil yang sahih. Memang benar, ketika kita sebagai makhluk paling sempurna yang dikaruniai akal dan pikiran haruslah berpikir termasuk memakai logika untuk memperkuat keimanan kita. Misalnya ketika saya belajar aqoid iman, saya diajari yang namanya dalil aqli. Dalil aqli adalah dalil yang menggunakan akal pikiran untuk merenungkan diri sendiri, alam semesta, dan lainnya. Tapi juga harus dibarengi dengan dalil naqllinya. Inilah kekurangan Manji, dia jarang sekali memakai dalil naqli untuk memecahkan masalah yang dia temui.


Meski saya banyak tidak setuju dengan apa yang Manji tulis, saya mendapatkan manfaat dari membaca bukunya. Dari buku itu mata saya menjadi tebuka untuk melihat bahwa banyak sekali tantangan yang dihadapi umat Islam saat ini. Karena itu, bagi siapa saja yang hanya mengritik tanpa pernah membaca bukunya berarti sama saja dengan tong kosong yang bunyinya nyaring. Aneh juga sebenarnya, kenapa gonjang-ganjing penolakan bukunya baru saat ini? Padahal buku pertamanya, yang isinya tidak terlalu jauh berbeda, sudah lama terbit di Indonesia dan waktu itu tidak ada penolakan seperti sekarang. Sudah sangat sulit untuk mendapatkan buku ini. Saya pun mendapatkan buku pertamanya di Perpustakaan Kemenkeu. Kemudian buku ke duanya saya dapatkan dengan mengunduhnya dari internet. Silakan cari sendiri tautannya atau mencoba mencari ke toko-toko buku sebelum hilang dari peredaran. Karena di Gramedia pun buku ini sudah ditarik, begitu yang saya dapatkan dari seorang penjaga toko buku Gramedia di Jakarta ketika saya mencari buku kedua Manji.


Bukan berarti ketika saya membaca buku yang ditulis seorang penganut Islam Liberal kemudian otomatis saya menjadi penganut Islam Liberal. Begitu pula ketika saya membaca buku yang ditulis oleh seorang yang menganut paham Marxisme kemudian saya menjadi seorang penganut paham Marxisme. Teringat sebuah quote dari Maxim Gorky yang tertulis di pembatas buku yang saya dapatkan dari Perpustakaan Kemenkeu. "Keep reading books, but remember that a books's only a book, and you should learn to think for yourself." Buku apapun boleh saja kita baca karena konon buku adalah jendela dunia. Bukannya kita harus menutup mata dari sebuah buku, melainkan kita harus bisa menyaring apa saja yang kita baca dari buku itu. Karena sebuah buku hanyalah sebuah buku, tak kurang tak lebih.


Seorang Bung Karno pun bahkan pernah mengatakan bahwa dia belajar banyak tentang Islam dari buku yang ditulis oleh orang Ahmadiyah. “Mengenai Ahmadiah, walaupun beberapa pasal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, toh pada umumnya ada mereka punya features yang saya setujui: mereka punya rationalisme, mereka punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), mereka punya modernisme, mereka punya hati-hati terhadap kepada hadist, mereka punya striven Qur’an saja dulu, mereka punya systematische aannemelijk makingvan den Islam. Oleh karena itu, walaupun ada beberapa pasal dari Ahmadiah tidak saya setujui dan malahan saya tolak, misalnya mereka punya “pengeramatan” kepada Mirza Gulam Ahmad, dan kecintaan kepada imperialisme Inggris, toh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerangan yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasionel, modern, broadminded dan logis itu.” jelas Bung Karno dalam sebuah tulisannya.


“Di kelas-kelas hari Sabtuku, aku didoktrin: Kalau kau orang yang beriman, kau jangan berpikir. Kalau kau berpikir, maka kau bukan orang yang beriman.” Itulah salah satu yang pernah dialami oleh Manji. Memang tidak semua guru atau ustadz seperti itu. Ketika SMA saya tinggal di sebuah asrama. Waktu itu justru kami diajarkan untuk berpikir kritis dan mencari solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Setiap rabu malam, kalau tidak salah, sehabis shalat maghrib selalu diadakan diskusi agama. Ustadz saya hanya memerhatikan jalannya diskusi dan mengarahkan ketika pembahasan atau simpulan kami mulai keliru. Tetapi tidak sampai mendoktrin seperti apa yang dialami Manji oleh ustadznya di kelas-kelas hari Sabtunya.


Terkait Manji adalah seorang lesbian, jangan lihat siapa yang berbicara tapi apa yang dibicarakan. Memang saya setuju bahwa Islam tidak membenarkan tentang homoseksual. Tapi kita juga tidak bisa dengan gampangnya menyuruh atau mengajari seseorang untuk mengubah kecenderungan seksualnya. Apabila teman kecil kita datang dan mengatakan bahwa orientasi seksualnya telah berubah, apa yang bisa kita lakukan? Menjauhinya? Bahkan itu bukan solusi yang dapat memecahkan masalah. Kemudian apabila saya boleh menunjuk siapa yang paling berperan menjadikan Manji seorang lesbian maka saya akan menunjuk ayahnya. Silakan baca bukunya bila ingin tahu apa yang menjadi dasar saya mengambinghitamkan ayahnya. Ayahnya seorang penganut Islam yang taat? Iya, sebagaimana orang Islam keturunan Timur Tengah lainnya.


Buku apapun akan tetap saya baca karena saya percaya bahwa buku adalah jendela dunia yang akan membuka mata saya. Masalah setuju atau tidak dengan isi buku yang kita baca, itu adalah hal yang harus kita putuskan setelah membaca buku itu dan bukan hanya membuat suatu simpulan yang keliru dengan hanya melihat sampul sebuah buku atau berdasarkan "kata orang". Beberapa orang yang hanya melihat judul tulisan saya juga mungkin hanya mengira bahwa orang yang menulis ini adalah orang gila. Saya hanya ingin menulis apa yang menurut saya benar, tidak lebih. Para pembaca tidak setuju, itu hak mereka.



Pluralitas 8749944441804349333

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. ane jg blm baca tuh,,cm sering liat beritanya tp ya gak bisa komen ap2 coz emg gak tau isi bukunya hehhe...

    cm ya org sebenarnya bebas berekspresi, nulis ap aja...dan bner bgt tuh,mslah setuju/gak ya kita yg milih sndri ^^

    BalasHapus
  2. kita lihat saja nanti di AKHIRAT!

    BalasHapus
  3. Gak ngerti dalil-dalilan saya mah, tapi setau saya, Manji memang tutup mata dengan hadist karena dianggap buatan manusia juga yang seringkali bias kepentingan. Well, untuk membaca buku-buku seperti ini memang bukan kepintaran, tapi kelapangan dada.. tapi ya, kalau dari sononya udah nafsu duluan, belum baca aja udah kebakaran jenggot haha.. #lirikFPI

    Nice post, mat! =)

    BalasHapus
  4. betul betul betul. saya sangat setuju dengan anda. kalau kita ingin menimba ilmu, kita harus selalu berpikir objektif terhadap orang yg kita timba ilmunya, terlepas dari latar belakang dirinya..

    BalasHapus
  5. gak setuju dengan anda, haha...adilkah kita menilai seseorang hanya dari sisi obyektivitasnya tapi mengabaikan sisi subyektivitas,yang ane tau pajak yang adil itu PPh bukan PPN dan supaya adil maka ada PPnBM (kalo anda mahasiswa pajak atau akuntansi, mungkin paham apa yang saya maksud,heu....maybe).ok saya setuju dan yakin bahwa buku itu jendela dunia, misal kalo jendelanya itu dibuka dan anda tahu di balik jendela itu ada tumpukan atau segunung sampah yang sangat busuk. dan jendela itu dibiarkan untuk dibuka, apakah dengan membuka jendela itu tidak akan mengganggu kesehatan anda? dan bijak kah kita untuk tetap membuka jendela itu padahal masih banyak keluarga kita dalam rumah yang terancam kesehatannya? hahah...mari berpikir manfaat dan madhorotnya...(nn)v

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Hanafiah: ah, ga ngerti kalau ngomongin pajak. :3
      buat ngelihat ke luar jendela kan ga perlu ngebuka jendela itu, cukup ngelihat dari balik jendela (kaca). kalau kemudian kita ngelihat ada segunung sampah busuk berarti itu peringatan biar kita ga ikutan buang sampah sembarangan. ~(‾▿‾~) (~‾▿‾)~

      Hapus
  6. Gue bales komentar lo..(sory2 baru bls say baru keingetan..hahah)
    haha...bisa...bisa...
    ah pura2 gk ngerti pajak kyknya..hehe buktinya skrang udah lulus STAN n udah kerja di bapepam kan.. (bner gk sih? cz ngira2 dari baca tulisan yang lainnya n info lainnya n ngira2 jg kyknya kerja di bapepam kan, n judul blognya fiscus, fiscus kan tukang pajak trus itu fotonya perasaan pernah liat di majalah media center STAN) heu....
    ya bner bang jdi peringatan untuk yang pertama kali liat dan kewajiban buat yang pertama kali liat dan paham atas bahayanya itu buat memperingatkan ke yang lain. kalo bisa ngelarang/mencegah dengan tangan atau kekuasaan ya larang sma tangan/kekuasaan itu, kalo bisa cuma sma lisan ya sma lisan larangnya, kalo cuma sama hati ya udah ingkari hal itu dan yakini hal itu salah. dan itu selemah-lemahnya iman. kalo ngingkarin sesuatu yang salah itu selemah-lemahnya iman, apalgi yang cuma ngebiarin, gk peduli n malah ngebiarin n malah pengen ikut-ikutan... inget jg bang banyak ababil-ababil yang nyari pendirian dengan baca-baca buku sendiri n kebanyakan menafsirkan sendiri tanpa bertanya ke yang lebih paham. takutnya dia malah main-main di tumpukan sampah itu n nyangka selamanya hal itu bagus, kayak bayi yang lagi belajar pasti gk tau yang bener n yang salah, bisa2 tahi ayam dianggap coklat n terus aja dimakan n nyangka selamanya kalo tahi ayam itu bisa dimakan, makanya perlu orang tua (orang yng lebih paham) buat ngejelasin hal itu salah atau benar...buat tahu api itu panas gk perlu kita bakar tangan kita sendiri kan...hehe, CMIIW....CMIIW...CMIIW.. prikitiew

    BalasHapus
  7. tambahan analogi bayi...
    n orang tua yang baik, gk bkal ngebiarin tahi ayam itu, pasti orang tua (orang yang lebih paham dan bijak) akan membuang tahi ayam itu dan membersihkannya supaya si bayi bisa tumbuh dengan baik...

    mertua bijak pilih anak pajak (loh apa hubungannya with this problem...(-,-)a)

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Hanafiah: wuih ratu kepo juga ternyata. :P
      ih waw! masa sih narsis di majalah, jadi geer. :3
      ini juga kan ga ngebiarin tapi nyeritain kalo isinya kayak gini dan ngingetin kalau baca buku harus disaring dulu.

      kalau gue udah punya anak terus pas lagi maen sama anak gue nemu tai ayam gue bakalan bilang, "ini namanya tai nonot bisa dipakai buat pupuk kandang tapi jangan dimaem ya. :*"

      Hapus
  8. gue bales lgi komen lo (nn)v

    haha....gk apa2 lah dibilang ratu kepo tpi agk gimana jg sih..heu,=>bicara dlm hati kyk di sinetron (pdhal bang fiscus sendiri yang ngetik kalo terdampar di bapepam di tulisan "curcolan ..." n sy membaca bagian itu secara tidak sengaja, n ane pernah liat tu foto profil ada di civitas dan liatnya pun secara tidak sengaja pula, anak STAN yang gk kepo tpi agk menganalisis jg pasti ngira2 kalo bang fiscus ini anak lulusan STAN yang kerja di bapepam.so, sedikitnya ngertilah makul pajak. jdi adakah yang kepo disini?? n siapa yang narsis??? hehe...(nn)v)
    n seenggaknya ya kalo diskusi harus tau dulu sama orang yang diajak diskusi dulu lah....supaya adil kalo ngasih komen, karena adil dalm hal ini menurut sya hrus diliat dri sisi obyektivitas n subyektivitasnya.

    ya pasti bilang gitu kan kalo orang tua, n pasti dibuang kan t*i nya itu, gk bakal dibiarin, masa dibiarin bergeletakan aja di lantai rumah, nanti bau dong n masih ada kemungkinan tu masih bisa dimakan sma bayi itu kasian kan tu bayi kalo selamanya nyangka t*i itu bisa dimaem....hehe

    analogi sy gini
    orang tua = orang yang paham n bijak atas islam

    bayi = muslim yang blm punya pendirian yang kokoh/masih awam terhadap islam

    lantai rumah itu = islam

    t*hi (maaf menganalogikan dengan ini) = buku itu.

    kehati-hatian sya gini bang fiscus, kalo hal itu dibiarkan beredar bisa-bisa orng salah menafsirkan tentang islam dan menggenalisir kalo islam itu buruk (soalnya yang baca bukan cuma muslim yang paham aja tentang islam n bisa milih yg sesuai n tidak sma islam tpi semua orang bisa baca dan bisa pula dipengaruhi, dan sya bersyukur buku itu udah gk ada di peredaran buku di indonesia). bang fiscus udah baca kan n gk setuju kan sma isinya. sya baca tulisan bang fiscus diatas n sedikinya ngerti apa yang ada di buku itu

    (sory analogi sy jorok bwa2 t*hi n samp*h segala...heu) #agk disensor supy gk terlalu gimana... gitu, maaf komen sblmnya blm disensor KPK (Komisi Penyensoran Komen) CMIIW

    BalasHapus
  9. setuju dengan pendapat hanafiah.... mengutip dari tulisan anda di atas "ketika orang hanya berkomentar terhadap apa yang kita tulis dengan tidak memosisikan diri mereka sebagai kita,". menurut saya sikap anda sendiri tidak sesuai dgn apa yg anda tulis dalam konteks penilaian anda terhadap FPI dan MMI.
    Saya bukan pendukung FPI terutama mengenai kekerasan yg mereka lakukan namun seperti pendapat anda mengenai buku irsyad manji ini "jangan lihat siapa yang berbicara tapi apa yang dibicarakan"

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping