fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Kembar Tapi Beda


Siapa yang ga tahu Dahlan Iskan dan Denny Indrayana? Gue yakin hampir semua orang Indonesia tahu. Meski cuma sebatas pernah denger namanya. Satunya Meneg BUMN. Satunya lagi Wamenkumham. Sebagai pejabat publik tentu aja mereka sering banget hilir mudik di berbagai media. Karakternya juga sama. Sama-sama keras kepala. Sama-sama nyoba buat ngedobrak sistem yang ada di lembaga yang mereka pimpin. Tentunya dengan cara yang bisa dibilang nyeleneh. Cuma satu yang ngebedain mereka berdua. Nasib. Nasib Denny ga semujur nasib Dahlan.

Ketika sidak Lapas Pekanbaru Misalnya. Ada isu kalau Denny nampar sipir di lapas itu. Tentu aja ini dibantah Denny di berbagai forum. Belom lagi pas sidak di Rutan Cipinang. Waktu itu Denny mergokin Nazaruddin lagi ketemuan sama adiknya dan pengacara Rosa. Lagi-lagi Denny kena getahnya. Disebut-sebut sidak ini direkayasa. Beda banget sama Dahlan yang tiap kali sidak selalu dapet tepuk tangan meriah dari para pemirsa. Misalnya saat Dahlan ngamuk-ngamuk di pintu tol dan di pabrik gula. Keduaanya sama-sama dapet respon positif.

Apa yang bikin perbedaan di antara mereka berdua adalah opini publik. Opini publik yang bikin Dahlan dapet citra positif dan Denny dapet citra negatif. Dan, faktor yang paling besar pengaruhnya buat muter balik opini publik adalah media. Menurut gue Dahlan cenderung lebih paham tentang ini daripada Denny. Maklum lah dia kan mantan orang media. Mantan pimpinan grup Jawa Pos. Kan Dahlan juga yang udah bikin Jawa Pos bangkit dari keterpurukannya.


Sebagai mantan pimpinan sebuah media yang cukup besar tentunya Dahlan paham bener gimana cara bikin opini publik yang positif, yaitu melalui media. Satu contoh bisa kita lihat di salah satu media onlen. Di sana bahkan Dahlan punya kolom khusus. Kolom Meneg BUMN Dahlan Iskan. Siapa lagi coba menteri yang punya kolom kayak gini? Oh ya, Dahlan juga punya blog yang pernah dapet penghargaan Internet Sehat Blog Award.

Trik yang dipakai bisa saja dengan jurnalisme positif. Simpelnya jurnalisme positif adalah jurnalisme yang melihat sisi positif dari suatu berita. Jurnalisme ini bertentangan sama prinsip "bad news is a good news. Misalnya gue kehilangan duit 10 rebu. Jurnalisme negatif pasti bakalan nulis "pasti tukang copet nih yang ngambil duit gue". Beda sama jurnalisme positif. Jurnalisme positif pasti nulisnya kayak gini, "untung cuma hilang 10 rebu bukan 10 juta". Mirisnya hampir semua media di Indonesia menganut paham jurnalisme negatif. Anehnya mengecualikan ini sama Dahlan. Gue juga masih awam dan masih belajar tentang jurnalisme positif ini.

Begitulah kira-kira opini gue tentang kedua tokoh ini. Pencitraan emang perlu. Tapi kalau udah over dosis publik juga bakalan eneg. Contoh pencitraan yang udah over dosis ya kayak babehnya Ibas. Kalau Dahlan sampai over dosis juga bisa-bisa respon publik juga sama. Eneg.

____________________
Sumber gambar: www.tempo.co | www.tempo.co

Tokoh 4515412024756859037

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. wah harus belajar jurnalisme positif nih biar entar jadi pejabat, jadi pejabat yg terkenal bagusnya haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. :D
      tapi ini cuma perkiraan alternatif yang mungkin dipakai sama seorang Dahlan Iskan. bisa aja ternyata Dahlan punya trik rahasia yang ternyata beda lagi. haha

      Hapus
  2. kok gak jono dan lono? kidding

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapa mereka? :O
      kok ga terkenal? :P

      Hapus
  3. Opini publik emang sangat besar pengaruhnya ya sob :)

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping