fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Hari Gini Masih Rasis?


Pas gue googling buat nyari gambar ilustrasi dengan keyword "muslim rohingya" kepala gue ga berhenti geleng-geleng. Bukan karena lagi dugem. Gambar-gambar yang muncul miris banget. Mayat terkapar di jalanan. Noda darah mengering di mana-mana. Beruntung gue tinggal di negeri yang relatif damai. Meski di beberapa daerah masih suka ada konflik berkedok rasial dan agama. Seengganya kita masih lebih beruntung dari sodara-sodara kita di Myanmar sana.

Heran aja gitu. Di jaman yang katanya udah modern masih banyak aja orang-orang primitif. Orang-orang rasis. Masih inget siapa nenek moyang kita? Iya, Adam dan Hawa. Tuh kan? Kita tuh dari satu nenek moyang yang sama. Berarti silsilah dan golongan darah kita tuh sama. Ga ada yang namanya keturunan darah biru. Semuanya merah! Kita yang hidup di planet bumi ini satu keluarga. Cuma karena keluarga kita udah gede banget makanya sering kali kita lupa akan itu. Lupa kalau sebenernya kita sodara.

Wajar kalau warna kulit kita beda. Wajar kalau agama kita beda. Secara fisiologis, orang kembar aja pasti ada bedanya. Apalagi isi kepalanya. Nah, apalagi kita yang bukan kembar tapi tetep sodara. Primitif banget kalau kita mempermasalahin ras dan agama. Itu tuh cuma alat segelintir orang yang pengen jadi penguasa. Kalau kita bisa dipecah-belah. Kita mau diadu domba. Mereka gampang nyetir kita buat belok kanan atau kiri. Terserah mau masuk jurang juga, yang penting mereka tetep berkuasa.


Ah, sudahlah. Mari kita balik ke Indonesia. Kalau sama sodara kita yang di Myanmar aja peduli dan ngutuk orang-orang rasis. Harusnya di Indonesia juga kayak gitu. Kayaknya udah pada tahu kalau di Jakarta lagi ramai ngomongin pilkada. Gue ga punya KTP Jakarta makanya ga bisa milih. Gue juga bukan simpatisan kedua kubu yang lolos putaran ke dua. Bahkan visi misinya aja gue ga tahu. Gue ga tahu janji-janji politik baik kubu kumis maupun kubu kemeja kotak-kotak. Tapi ada yang bikin hati gue agak miris. Masih aja isu rasial dijadiin bahan black campaign. Primitif banget gitu loh!

Kayak gue bilang tadi. Sebenernya kita ini sodara. Harusnya siapapun yang mimpin ya silakan aja. Selama dia bisa ngebawa perubahan ke arah yang lebih baik. Kenapa ga? Jangan kayak anak kecil. Ada temen yang keriting diledekin. Ada temen yang matanya sipit dijadiin gunjingan. Ada temen yang kulitnya item dijauhin. Kapan mau maju kalau kita masih kayak gitu?

Kok kayak de javu jaman orde baru ya? Masih inget pelajaran sejarah ga? Waktu SMP kalau ga salah. Gue diajarin kalau nenek moyang kita itu pelaut dari Yunan. Makanya ada lagu "nenek moyangku sorang pelaut ...". Kita semua pendatang di bumi sini. Ga ada yang namanya penduduk pribumi. Malah jadi kayak jaman penjajahan Belanda. Ada istilah pribumi segala.

Gue punya pengalaman pribadi tentang isu rasial dan agama. Dulu gue pernah ngambil keputusan yang cukup banyak ditentang orang. Gue ngajak masuk temen yang kepercayaan atau ketidakpercayaannya emang beda dari yang lain ke organisasi yang gue pimpin. Ga sedikit yang protes langsung sama gue karena itu. Menurut gue alasannya kayak anak kecil tadi. Ga mau maen sama temen yang punya perbedaan dari yang lainya. Tapi lihat temen gue itu sekarang. Dia cukup jadi andalan di organisasi.

Hari gini masih rasis? Primitif banget deh! Buat kalian yang pernah ngerasain disakitin karena kalian berbeda. Jangan sedih cuma karena orang-orang primitif itu. Kita emang bukan manusia yang sempurna. Kita bukan bangsawan yang rupawan. Tapi kita buktiin kalau pikiran kita ga dangkal. Karena kita bisa menghormati perbedaan di antara kita.

... Kita slalu ditekan
Dilupakan, tersudut, dan terdiam
Orang-orang memuja
Pemikiran sempit nan membosankanku
Ku akan teriak, hingga kaca pecah terserak ...

Superman Is Dead - Kita Vs Mereka

____________________
Sumber gambar: RepublikadevianART
Pluralitas 160188786421464189

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. Setuju sob, rasisme hanya akan membuat kita menjadi terpecah2.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lagian apa untungnya? cuma muas-muasin ego masing-masing.

      Hapus
  2. Di jaman yang udah serba canggih serta manusia berpendidikan masih ada aja ya yang rasis gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maklum, tiap hari disuguhinnya slapstikc comedy. :P

      Hapus
  3. ada yang mau memusnahkan Islam kayaknya sob.
    Miris banget ketika pertama gue denger nih berita :)
    Nice post :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau menurut gue, di Rohingya itu alesan utamanya kekuasaan. cuma ras dan agama yang dijadiin kedoknya.

      Hapus
  4. Rasism? So last year ya! Saran buat yang masih suka rasis: inget-inget itu laptop siapa yang nyiptain, siapa yang rakit, tempe yang lo tiap hari makan darimana kedelainya, intinya kita hidup bersama-sama, saling membutuhkan. Oya, liat komennya Bayu, tenang sob, bukan cuma Islam (mainstream) yang "kayaknya" mau dimusnahin, minoritas dimana-mana kondisinya ga jauh beda. Gak usah jauh-jauh, Ahmadiyah yang "beda" dikit aja tau sendiri diperlakukan kayak gimana di negara ini. Jauh dikit ke India, orang Hindu yang tinggal di wilayah yang mayoritas muslim gak sedikit yang dianiaya. Masih inget juga soal kekerasan terhadap para penganut Buddha Tibet oleh pemerintah China? Yang penting buat kita adalah tidak mudah terpancing dan berbuat sesuatu agar kita bisa saling menghargai

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat setuju bang. Itu karena gue kesel saudara-saudara seagama gue dibantai. Tapi bener tuh masih hangat benget kekerasan terhadap penganut Buddha Tibet oleh pemerintah China :D

      Hapus
    2. super sekali om Galink, makasih atas pencerahannya. :)
      bener tuh, intinya apapun ras dan agama yang ditindas kita harus tetep menentangnya.

      Hapus
  5. Hari gini masih Rasis? Kelaut aje.
    Bukannya malah jadi ga asik, ga seru kan kalo semuanya sama tanpa adanya perbedaan? Perbedaan itulah yang membuat keindahan di antara kita. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju banget kakanya. :)
      btw, ngapain ke laut? mancing? :P

      Hapus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping