fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Kasihan, Indonesia Masih Menganut Jurnalisme Negatif



"Mat, yang barusan papasan itu artis kan?"

"Ya mana? Gue ga merhatiin." gue emang jarang merhatiin orang kalau lagi jalan, kecuali cewek cakep.

"Tengok noh, di belakang kita."

"Oh, itu kan Edwin Manansang. Kerja di sini juga."

Sejak itu, tiap kali mau solat di masjid deket kantor DJPB (Direktorat Jenderal Perbendaharaan) gue jadi sering papasan. Ternyata kalau jam makan siang Edwin ke depan kantor DJPB buat ngambil kotak makan siang di mobilnya yang diparkir di sana.

Ga salah kata temen gue tadi. Dia emang pernah berkarir di dunia musik, artis. Coba tanya sama anak era 80-an. Pasti mereka tahu Trio Libels. Boyban yang personelnya Ronny Sianturi, Edwin Rizal Manansang, dan Yani. Mereka ga cuma ngejual tampang sambil lipsync kayak kebanyakan boyband sekarang. Kualitas musik lah yang mereka jual. Buktinya mereka pernah jadi wakil Indonesia di festival lagu internasional di Tokyo dengan ngebawain lagu karya Guruh Soekarno Putra. Selain nyanyi, Edwin juga jadi presenter. Pernah nonton Jelang Siang? Salah satu program tipi di mana Edwin pernah jadi presenternya.

Awalnya dia masuk di Kementerian Keuangan, kayak jebolan STAN lainnya. Sekarang dia kerja di Kementerian Koordinator Perekonomian. Karena Prestasinya juga kali ya. Gelar masternya aja dia dapetin di University of Illinois. Kampus yang nelorin ekonom-ekonom handal. Termasuk Sri Mulyani Indrawati yang juga pernah ngampus di sana. Nah, pas Edwin lagi tugas kuliah S2 di Amerika, Armand Maulana (vokalis GIGI) sempet gabung di Trio Libels buat gantiin Edwin.

Emang bisa dibilang jebolan STAN yang paling terkenal ya Gayus. Padahal selain Edwin Manansang, di dunia hiburan aja masih ada Helmy Yahya. Siapa yang ga kenal seorang Helmy Yahya? Di pimpinan KPK juga pernah ada Amien Sunaryadi dan Haryono Umar. Mereka berdua pernah jadi wakil Ketua KPK.


Ada lagi, Chairal Tandjung. Adik kandung Chairul Tandjung. Nama mereka emang hampir sama. Kakak sulungnya aja namanya Chairil Tandjung. Tahun 1987 Chairal lulus dari STAN. Tahun itu juga dia langsung masuk di BPKP (Badan Pengawan Keuangan dan Pembangunan). Tahun 1992 dia gabung sama CT Corp sebagai Manajer Keuangan. Tahun 2000 diseret jadi Direktur CT Corp. Sekarang dia jadi komisaris di beberapa anak perusahaan di grup yang dibangun kakaknya itu.


Ngelihat jebolan-jebolan STAN tadi yang ga lebih dikenal daripada Gayus, gue jadi inget kasus tawuran SMA 70 vs SMA 6. Kalau ada kabar buruk aja semua media ngeliput kedua sekolah itu. Tapi coba kalau ada anak berprestasi. Di SMA manapun lah. Berapa banyak media yang ngeliput prestasinya?  Wajar aja sih. Kan Indonesia masih menganut jurnalisme negatif. Sebenernya boleh aja ngritik. Gue juga suka jadi kritikus. Tapi gue juga nawarin solusinya. Porsinya juga ga ngedominasi isi blog gue. Lagian kritik itu ga bisa disamain dengan jurnalisme negatif. Kritik itu positif.

Simpelnya gini aja deh. Siapa orang yang pernah berbuat baik sama kita dan perbuatannya masih kita inget? Lupa? Kalau gitu, siapa orang yang pernah berbuat jahat sama kita dan sampai sekarang kita masih nyimpan dendam sama orang itu? Nah loh! Itulah kenapa media di Indonesia lebih milih buat jadi penganut jurnalisme negatif. Karena lebih ngejual. Karena berita negatif lebih digandrungi banyak orang. Makanya gue mendingan puasa nonton tipi. Termasuk nonton berita di tipi. Gue jadi ketinggalan berita? Ga juga tuh!

___________________
Sumber gambar: The Jakarta Post | SWA | Tempo
Tokoh 4456799915492989695

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. oh banyak juga ya artis lulusan STAN. kereen
    bang ncus mau ikut jadi artis juga ga? haha

    BalasHapus
  2. mantap sekali artikel ini. nice share..sukses follow #188
    silahkan difollow balik
    trims

    BalasHapus
  3. Nah ini nih, keren mas

    "Kebaikan itu nggak laku dijual"

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, justru cara berpikir kayak gitu yang harus diubah. :D

      Hapus

emo-but-icon

Beranda item

Laman Facebook

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping