zORB44u1Y5Szogk9hvRg5anbZDydcDDjseaSpgOw

Ketika Sang Garuda Beranjak Dewasa


Yeah! Pertama kalinya dalam Piala AFF Indonesia berhasil mengalahkan Singapura. Ehm, sebenarnya sudah dari hari Minggu kemarin saya ingin mengomentari penampilan Sang Garuda yang sedang berlaga di ajang Piala AFF. Tidak, saya tidak akan mengomentari jalannya pertandingan. Sudah banyak komentator handal yang mengomentarinya. Saya hanya ingin mencoba melihatnya dari sudut pandang lain, sudut pandang seorang citizen journalist wannabe yang sedang belajar menganut positif journalism

Jangan lupa, bola itu bundar. Bundar bukan berarti tidak memiliki sudut. Bundar artinya sudutnya tidak terbatas. Lalu kenapa banyak orang yang hanya melihat bola Indonesia di ajang Piala AFF hanya dari satu sudut pandang. Sudut pandang yang hanya dapat mengutuki dualisme PSSI dan KPSI.

Tentu kita masih ingat laga Indonesia kontra Laos kemarin. Memang untuk pertama kalinya Indonesia ditahan imbang Laos, tidak seperti rekor-rekor pertandingan sebelumnya. Banyak orang yang menganggap hal itu merupakan kenyataan pahit yang harus diterima gara-gara dualisme PSSI dan KPSI. Saya akui, saya juga kecewa dengan kenyataan tersebut. Tapi jangan sampai membut kita lupa, sepak bola hanyalah sebuah permainan. Dalam sebuah permainan kalah-menang itu hal biasa. Apalagi laga kontra Laos merupakan laga perdana. Selalu tidak mudah untuk menjalani sebuah laga perdana.

Lagi pula, rekor selalu menang dari Laos itu kan beberapa tahun lalu. Bukankah sangat mungkin jika Laos berkembang menjadi lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya? BP saja memuji permainan Laos yang berhasil menahan imbang Indonesia tersebut. Satu hal lagi, menurut saya Sang Garuda sedang beranjak dewasa. Ketika harus tertinggal satu gol dan harus kehilangan seorang penjaga gawang inti, bukan hal mudah untuk mempertahankan mental dan mengejar ketertinggalan. Meski kemudian Laos pun harus kehilangan seorang pemainnya.

Buktinya dapat kita lihat malam ini. Untuk pertama kalinya pula, Indonesia berhasil mengalahkan Singapura di ajang Piala AFF. Masih mau mengutuki seperti kemarin? Memang banyak pemain seperti Gonzalez, Wanggai, Bustomi, dan Markus yang tidak terangkut ke Malaysia. Tapi kan Indonesia itu masih luas, masih banyak pilihan pemain-pemain yang cukup bagus. Lagi pula, suatu tim yang bagus itu tidak boleh hanya bertumpu pada pemain-pemain tertentu. Justru ini ujian kedewasaan bagi Sang Garuda.

Kenapa dari tadi saya terus menyebut kata "dewasa"? Maih ingat ketika dulu/saat ini kita memasuki dalam masa-masa labil, masa-masa peralihan untuk menjadi dewasa? Banyak ujian di sana. Anggap saja dualisme PSSI dan KPSI sebagai pacar yang selingkuh. Anggap saja pemain ISL yang tidak/telat diizinkan bergabung dengan Timnas itu sebagai cinta bertepuk sebelah tangan. Karena bola harus tetap bergulir. The Show must go on. Adalah sebuah pilihan untuk tetap mengutuki PSSI dan KPSI atau memilih move on.


Teringat ucapan Andik yang menjadi supersub dalam pertandingan kali ini. Saya ingin mengutip ucapan Andik dalam wawancara eksklusif pasca pertandingan hari ini, "Masyarakat boleh benci sama KPSI atau PSSI, tapi masyarakat ga boleh benci sama Timnas."

____________________
Sumber gambar: Tempo | GOAL.com
Baca Juga
Abah
Generasi Micinial

Artikel Terkait

4 komentar

  1. Permainan timnas jadi lebih baik, mungkin karena tidak hadirnya Cussel di lini tengah Indonesia yang tampil SANGAT buruk kala melawan Laos, atau Singapura yang tampil kurang gereget?

    Yang jelas kemenangan ini pantas dirayakan seluruh rakyat Indonesia dan semoga menjadi mental booster bagi para pemain agar dapat berprestasi lebih tinggi lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jangan lupa juga kalau jalan untuk menjadi juara masih sangat panjang.

      Hapus
  2. setuju brooo..
    sampai sampai ada TKI yang majang spanduk, "Kami buka PSSI, bukan juga KPSI. Kami hanya TKI, yang CINTA Timnas INDONESIA."
    EN-DO-NE-SAA!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah satu keuntungan banyak TKI di Malaysia, banyak yang mendukung Timnas.

      Hapus