fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Terjerumus di Mangga Besar


Tululululut.. Tululululut...

"Halo! Selamat pagi ...."

"Ini Mamat ya?" belum tartib menjalankan rukun-rukun angkat telepon, eh keburu dipotong.

"Iya. Kenapa, Mba?"

"Sekarang kamu ke Swiss-Belhotel ya. Ikut sosialisasi ISA, ngewakilin Biro kita."

"Sendiri doang?"

"Iya."

"Oke."

"Sekarang banget ya, acaranya udah mulai."

Segera saya berangkat. Sampai di depan lift, saya menemukan Mang Ucen, OB lantai 15, yang sedang menggerutu.

"Seumur-umur, baru kali ini saya ngerasain kayak gini. Dulu, waktu masih di gedung A ga pernah kayak gini. Udah setengah jam nih ga bisa turun." gerutunya.

Tiga lift memang sedang dalam perbaikan. Sementara tiga lainnya mendadak tidak bisa dipakai. Lift barang sedang dipakai mengangkut galon, jadi tidak bisa dibajak.

Setengah jam saya berdiri di depan lift, harapannya masih kosong. Saya pun memutuskaan turun tangga, dari lantai 15. Ternyata banyak juga yang terpaksa naik-turun melalui dengan tangga darurat seperti saya. Baru sampai lantai 10 lutut serasa mau copot, kepala ikut berkunang-kunang. Beruntung saya masih bisa selamat dan sampai di lantai 1.

Syahdan, sampailah saya di Swiss-Belhotel, Mangga Besar. Ternyata undangannya memang belum sampai ke lantai saya. Satu sesi pun harus terlewat begitu saja. Peserta sosialisasi adalah para akuntan publik. Yang datang auditor senior semua, senior dalam hal karir maupun usia. Saya pun mendaulatkan diri sebagai yang termuda dalam ruangan itu.

Sosialisasi Implementasi Adopsi International Standards on Auditing (ISA) pada Audit Laporan Keuangan ini diselenggarakan oleh Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan (Biro SAK). Narasumbernya berasal dari Dewan Standar Profesi Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).

Inti dari perubahan SA yang mengadopsi ISA adalah lebih detil mengatur standar yang harus dilakukan seorang auditor. Di antara perubahannya yaitu dalam Standar Audit (SA) 200, Tujuan Keseluruhan Auditor Independen dan Pelaksanaan Suatu Audit  Berdasarkan Standar Audit. Prubahan dalam SA 200 ini cukup menarik perhatian saya. Salah satu perbedaan yang cukup signifikan antara SA sebelumnya dengan SA baru adalah terkait tujuan audit.

SA sebelumnya:

Untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia.

SA baru:

Memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan sebagai suatu keseluruhan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan, dan oleh karena itu memungkinkan auditor untuk menyatakan opini atas apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.

Memang Pak Dedy Sukrisnadi, Anggota Dewan Standar Profesi IAPI yang juga merupakan Kabag di Biro SAK, menjelaskan bahwa perubahan dengan menghilangkan frasa "SAK di Indonesia" adalah untuk menggeneralisasikan. Hal ini karena laporan keuangan yang diaudit tidak hanya laporan keuangan yang bentuk bakunya sesuai dengan SAK, tapi juga laporan keuangan yang bentuk bakunya sesuai dengan SAK ETAP.

Akan tetapi, saya menginterpretasikan lebih luas lagi. Menurut saya, generalisasi tersebut juga berlaku untuk Laporan Keuangan Dana Pensiun yang bentuk bakunya diatur dalam Peraturan Ketua Bapepam-LK. Sebagaimana yang dipaparkan Pak Tarko Sunaryo, Sekretaris Umum IAPI, bulan lalu dalam diskusi bersama IAI dan IAPI terkait Peraturan Ketua Bapepam-LK tentang Penyususnan Laporan Keuangan dan Dasar Penialaian Investasi bagi Dana Pensiun. Beliau memaparkan bahwa di luar negeri akuntan publik melakukan audit atas Laporan Keuangan Dana Pensiun berpedoman kepada peraturan yang dikeluarkan oleh regulator. Sayangnya saya masih belum percaya diri untuk mengonfirmasi hal ini kepada para auditor senior tersebut.

Namun semoga saja perubahan pada SA 200 ini menjadi jawaban agar tidak ada lagi akuntan publik yang gontok-gontokan dengan pengurus dana pensiun. Gontok-gontokan karena yang satu berpedoman pada SAK sedangkan yang satunya lagi berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh regulator.

Ngomong-ngomong tentang Pak Tarko Sunaryo, saya jadi teringat percakapan dengan sopir taksi yang mengantarkan saya tadi pagi. Sebuah percakapan panjang yang berakhir dengan "Gayus".

"Dulu kuliah di mana?"

"STAN"

"Wah, satu kampus sama Gayus dong?"

"Haha"

Kasihan, masih banyak yang mengira kalau alumni STAN hanyalah Gayus seorang. Lupa jika masih banyak lulusan STAN yang berprestasi. Tidak hanya yang masih menjadi PNS, yang sudah keluar dari PNS seperti Pak Tarko Sunaryo pun cukup berprestasi di bidangnya.

Sekian saja cerita singkat saya yang terjerumus di Mangga Besar, terjerumus di sarang akuntan publik. Mungkin ini karma bagi saya yang sering terkantuk-kantuk saat kuliah audit. Ah, mau tidak mau saya harus belajar mencintai, mencintai akuntansi dan segala tetek bengeknya. Sayangnya besok saya tidak bisa datang di hari ke dua soasialisasi karena ada acara OJK.
Kantor 713937830220398902

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping