Tidak Ada Pertanyaan yang Salah

Muhamad Rahmat // Kamis, 21 Maret 2013


"Tidak ada pertanyaan yang salah."

Pernyataan itu dilontarkan oleh Bu Dinar, salah seorang pimpinan di kantor lama, sekitar setahun lalu. Ketika itu, untuk pertama kalinya saya memasuki dunia kerja. Memang pada waktu itu, baik ketika mengikuti orientasi pegawai baru maupun ketika mengikuti rapat, saya terhitung sangat jarang bertanya, apalagi berargumen. Padahal di dunia yang benar-benar baru seharusnya saya banyak bertanya.

Sejatinya sebuah pertanyaan adalah hasil dari proses berpikir. Ketika kita berpikir tentang suatu hal dan menemukan sesuatu yang miss, akan menyeruak pertanyaan-pertanyaan di dalam benak kita.

Sebagai makhluk Tuhan paling sempurna, yang dikaruniai akal dan pikiran, sudah seharusnya kita mengunakannya untuk berpikir dan bertanya. Wahyu pertama yamg diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pun adalah perintah untuk membaca. Bukankah membaca juga berawal dari sebuah pertanyaan? Setidaknya sebuah pertanyaan tentang apa yang tertuang dalam sebuah tulisan.

Saya juga teringat ucapan Kang Fuadi, kakak kelas sewaktu di asrama, mungkin dia sudah lupa dengan apa yang pernah diucapkannya. Tapi ucapannya itu masih tersimpan rapi di alam bawah sadar saya. Waktu itu sedang berlangsung diskusi agama yang diadakan setiap Rabu malam. "Setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda, cuma ga semua orang berani ngungkapin pendapatnya itu. Lo juga pasti punya pendapat kan?" bisiknya melihat saya yang diam saja.

Memang benar apa yang diucapkannya, setiap orang yang mau berpikir pasti akan mempunyai pertanyaan atau pernyataan yang berbeda dengan orang lain tentang suatu topik. Karena seperti tulisan saya sebelumnya, kita sama-sama berbeda.

Meski saya juga pernah sampai ditegur karena di suatu rapat saya terlalu banyak omong. Memang kita tidak bisa memaksa agar semua orang menyukai apa yang kita utarakan. Juga tidak semua orang menyukai jika ada yang terlalu banyak omong. Terlebih lagi jika orang itu masih anak kemarin sore yang belum tahu apa-apa. Tapi anggap saja itu tantangan. Hal seperti itu jangan malah membuat kita untuk takut mengemukakan pertanyaan atau pernyataan lagi. Kalau kita tidak mempunyai keberanian untuk bertanya, kita tidak pernah menemukan jawaban. Pepatah lama mengatakan, "Malu bertanya sesat di Jalan."

Sekarang, ketika sedang berada dalam sebuah forum, dengan sebisa mungkin saya selalu mengusahakan untuk bertanya atau bependapat. Karena dengan begitu mau tidak mau saya harus benar-benar menyimak apa yang sedang dibahas.

Jika sudah tidak mau bertanya lagi, buat apa masih mau menunggu mentari terbit hari esok?

Blog post ini ditulis di bawah bayang-bayang pertanyaan soal ujian. Kenapa proses belajar sekian hari hasilnya hanya ditentukan dalam beberapa jam saja? Ah, saya hanya sekadar bertanya. Kan tidak ada pertanyaan yang salah.

8 komentar

  1. memang tidak ada yang salah. tpi kalo kita bisa menemukan jawabannya sendiri pasti akan selalu diingat.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan bertanya itu tidak harus selalu ke orang lain, ke diri sendiri juga. :D

      Hapus
  2. Malu bertanya... berarti pemalu..

    Keren mas blognya aseli! ini akhirnya jadi fiskus apa di OJK? hehe, pertanyaan ini juga gak salah kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. :D

      Iya, tidak salah. Sekarang jadi fiskus.

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. baru hari ini saya nemu blog anda yg keren dengan bahasa lugas namun tetap intelek, sy akan terus ikuti...sukses selalu

    BalasHapus
  4. baru hari ini saya nemu blog anda yg keren dengan bahasa lugas namun tetap intelek, sy akan terus ikuti...sukses selalu

    BalasHapus