Mencari Hari Baik

Muhamad Rahmat // Sabtu, 22 Juni 2013


Di persimpangan depan kosan ada yang memasang janur kuning. Ketika akan mengadakan sebuah hajatan penting sebagian masyarakat kita suka mencari hari baik. Memang sudah menjadi sebuah tradisi di tengah masyarakat untuk mencari hari baik sebelum mengadakan sebuah hajatan penting, termasuk pernikahan. Mitosnya, jika tidak mengindahkan perhitungan hari baik, bisa-bisa di kemudian hari terjadi sesuatu yang tidak baik, sesuatu yang tidak diinginkan. Ini lah, itu lah.

Konon, di jaman jahiliyah bangsa Arab mempercayai bahwa bulan Syawal adalah bulan yang buruk untuk melangsungkan pernikahan. Kemudian, untuk menghapus kepercayaan tersebut Rasulullah SAW sengaja menikahi Aisyah di bulan Syawal.

Tapi, apa iya? Logikanya begini, di belahan bumi lain saja, yang orang-orangnya tidak memperhitungkan hari baik sesuai dengan perhitungan yang digunakan oleh sebagian masyarakat kita, mereka tetap baik-baik saja. Tidak ada hubungannya antara tanggal lahir dengan peredaran bintang dan bulan. Kalau memang ada hubungannya, mungkin akan banyak orang yang memaksa anaknya untuk lahir di tanggal yang dianggapnya baik. Eh, sekarang juga sudah banyak sih yang memaksa agar anaknya lahir di tanggal-tanggal cantik. Tapi mungkin motivasinya agak sedikit berbeda.

Sebenarnya boleh-boleh saja mencari hari baik untuk melangsungkan sesuatu yang baik, malah harus. Tetapi sudut pandangnya harus diubah. Sudut pandang tentang bagaimana suatu hari dianggap baik atau buruk. Misalnya memilih tanggal cantik agar mudah diingat. Atau, menganggap hari libur sebagai hari baik agar semua keluarga dan sahabat tidak berhalangan untuk hadir ke acara kita.

Dari sisi finansial, akan lebih baik lagi jika kita memilih tanggal muda sebagai hari baik. Tujuannya jelas sangat-sangat baik, agar amplop yang dibawa para tamu undangan isinya lebih tebal. Hahaha.

____________________

0 komentar