Diversifikasi Mahar

Muhamad Rahmat // Selasa, 25 Juni 2013


1690: Demi emas, 500.000 orang Portugis datang ke Brazil.
1850: Di California, 200.000 orang pindah ke barat untuk berburu emas.
1895: 600.000 orang datang ke Australia untuk menggali emas.
2008: Pasca krisis ekonomi global, jutaan investor surat berharga beralih ke emas.
2013: Ucen dan Ucok ngobrol ngalor-ngidul tentang emas.

"Wah, harga emas lagi jatoh banget. Kemaren 500-an rebu, hari ini udah 400-an rebu aja.

"Lo mau beli, Cok?"

"Iya, buat diversifikasi potofolio investasi."

"Ah, yang bener? Buat diversifikasi investasi atau diversifikasi mahar? Wkwkwk."

"Ish.. Beneran!"

"Tapi gue kurang setuju kalo emas disebut sebagai instrumen investasi. Gue lebih setuju sama Om Warren Buffett yang ngelihat emas sebagai komoditi."

"Iya juga, sih. Makanya emas dimasukin ke pasar komoditi, bukan ke pasar uang atau pasar modal."

"Soalnya emas ga bisa ngehasilin keuntungan selain dari kenaikan harga. Beda sama instrumen investasi, selain kenaikan harga dia juga ngehasilin dividen atau kupon."

"Tumben omongan lo agak bener. Hahaha."

"Udah dari dulu kali. Eh, gimana jadi beli mahar ga? Mumpung lagi murah. Lagian kalo beli emas sekarang lo ga bakalan rugi juga. Inget kata Om Warren Buffett, "If you own one ounce of gold for an eternity, you will still own one ounce at its end.""

"Lihat entar aja deh."

"Ciye masih galau. Kalo jadi, mending lo beli koin dinar aja. Jangan emas batangan, biar lebih syar'i kayak muka gue."

"Lo pernah keselek sepatu ga?"

"Ampun om! Hahaha."

0 komentar