Investasi Jangka Pendek di Bulan Ramadhan

Muhamad Rahmat // Kamis, 18 Juli 2013


Lebaran berapa hari lagi ya? Duh, baru juga beberapa hari berpuasa. Berbicara soal lebaran, lebaran selalu identik dengan ketupat, opor ayam, baju baru, dan mudik. Yap, bagi perantau seperti saya lebaran adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu untuk bertemu dengan kerabat yang sudah lama tidak bertemu. Oh, ada satu lagi. Lebaran juga identik dengan THR. Sayangnya, sudah dapat dipastikan tahun ini saya tidak akan mendapat THR. Pukpuk. Ah, malah curhat.

Untuk yang mendapatkan THR atau sedang menunggu kepastian akan mendapatkan THR atau tidak, daripada bingung THR-nya mau digunakan untuk apa atau hanya dihabiskan begitu saja, tidak ada salahnya menyimak "kicauan" saya berikut ini. Untuk yang sudah pasti tidak akan mendapat THR seperti saya juga tidak ada salahnya untuk ikut menyimak.


Di lihat dari sisi manapun bulan Ramadhan memang sangat unik. Termasuk jika kita melihatnya dari sisi ekonomi. Di bulan Ramadhan setiap orang muslim wajib untuk berpuasa. Tapi anehnya, tingkat konsumsi masyarakat justru naik. Jangan-jangan banyak yang seperti saya, buka puasa jadi ajang balas dendam. Memang siangnya tidak makan dan minum. Tapi malamnya justru lebih-lebih dari biasanya. Di bulan Ramadhan juga biasanya sering diadakan buka puasa bersama di luar.

Ketupat, opor ayam, baju baru, dan mudik seperti yang saya ceritakan sebelumnya juga otomatis meningkatkan pengeluaran belanja kita. Itulah kenapa tingkat konsumsi masyarakat justru naik. Dampaknya adalah percepatan laju inflasi. Apalagi pemerintah baru saja menaikkan harga BBM bersudsidi.

Bagi investor pasar modal, momen Ramadhan justru menjadi peluang untuk memaksimalkan hasil investasi. Meningkatnya belanja barang dan jasa seperti yang saya singgung tadi tentunya akan memicu kenaikkan saham-saham emiten sektor konsumsi, otomotif, jasa transportasi, dan pengelolaan jalan tol. Artinya, Ramadhan adalah momen yang baik untuk masuk ke pasar modal.

Selain itu, menjelang lebaran biasanya para investor akan menjual sahamnya (cash out). Motivasinya bisa beragam. Di antaranya adalah untuk biaya mudik dan agar bisa mudik dengan tenang, tidak perlu memikirkan saham. Hal tersebut tentu saja akan menyebabkan harga saham terkoreksi.

Data dalam satu dekade terakhir menunjukkan bahwa apabila kita membeli saham seminggu sebelum lebaran dan menjualnya seminggu setelah lebaran, probabilitas untuk mendapatkan keuntungan adalah lebih dari 80% dengan rata-rata keuntungan sekitar 1,2%. Itu hanya dalam jangka waktu dua minggu, cukup pendek. Seringnya juga, IHSG pascalebaran lebih tinggi dibandingkan dengan IHSG sebelum lebaran.

Memang, ini hanya sebuah analisis yang sangat-sangat dangkal dan apa yang terjadi di masa lalu tidak menjamin bahwa di masa yang akan datang akan terjadi hal serupa. Namun, tidak ada salahnya juga apabila kita mempertimbangkan momen singkat di bulan Ramadhan ini untuk mengoptimalkan hasil investasi. Terakhir, apabila kita memutuskan untuk masuk ke pasar, jangan lupa untuk tetap mempertimbangkan dan mengelola risiko-risiko yang mungkin akan terjadi. Selamat menjalankan ibadah puasa dan selamat berinvestasi.

____________________
Sumber gambar: Flickr

2 komentar

  1. waduh susah jg mw investasi kudu mikir modal dlu komen back y

    BalasHapus
  2. Modal kudu gede dong ganz. Ngumpulin dulu ah. Mudah2an tahun besok bisa!

    BalasHapus