Are You an Investor, Trader, or Gambler?

Muhamad Rahmat // Rabu, 24 Juli 2013


Cukup lama saya tidak menulis di blog ini dan sepertinya banyak pembaca setia yang kecewa karena terlalu lama menunggu blog post terbaru dari Fiscus Wannabe. Ah, tidak usah diperdebatkan. Iyakakan saja. Bukankah membuat orang lain senang itu ibadah? Apa sih, Mat?

Malam ini kita akan kembali ngerumpiin pasar modal. Lebih spesifiknya yaitu tentang saham. Secara garis besar, orang yang "bermain" saham dapat dibagi ke dalam dua kelompok: investor dan trader. Ah iya, ternyata masih ada satu kelompok lagi: gambler.

Memang tidak ada batasan pengertian khusus yang membedakan antara investor dan trader. Namun, biasanya seorang investor berinvestasi saham dalam jangka menengah atau jangka panjang. Berbeda dengan seorang trader yang biasanya menyimpan sahamnya tidak lebih dari satu tahun: bisa beberapa bulan, beberapa minggu, beberapa hari, atau bahkan hanya beberapa jam saja.

Pada dasarnya, saham memberikan dua keuntungan, yaitu dari passive income berupa dividen dan dari capital gain. Biasanya, tujuan investor berinvestasi saham dalam jangka panjang adalah untuk mendapatkan dividen. Tentu saja di samping untuk tetap mendapatkan capital gain. Dividen ini sangat-sangat menarik. Bila kebetulan kita membeli saham dari emiten yang sangat "baik hati" dan rajin membagikan dividen, konon, dalam setahun modal kita sudah bisa kembali. Tapi tentu saja tidak semua emiten berbaik hati seperti itu. Beberapa waktu lalu misalnya, ada sebuah emiten yang ditegur regulator karena sudah bertahun-tahun tidak pernah mebagikan dividen kepada pemegang sahamnya.

Akan tetapi, bukan pula sebuah kepastian bahwa hanya investor yang akan mendapatkan dividen sementara trader tidak akan pernah mendapatkan dividen. Pada saat pembagian dividen, emiten tidak akan melihat sudah seberapa lama kita mebeli dan menyimpan sahamnya. Yang dilihat adalah pada saat cum date kita masih memegang sahamnya atau tidak. Karena itu, pada saat cum date dan right issue biasanya harga sahamnya akan naik.

Sementara itu, orang yang membeli saham untuk mendapatkan capital gain masih terbagi lagi ke dalam dua kelompok, yaitu buy and hold dan market timing.

Dalam buy and hold ada orang yang tidak ambil pusing dia membeli saham di harga berapa (random walk). Yang dia lakukan adalah membeli saham saat dia mempunyai uang, karena tujuannya memang untuk investasi jangka panjang. Makanya, yang melakukan buy and hold ini adalah investor. Tetapi, ada juga investor yang memakai strategi Dollar Cost Averaging (DCA). Misalnya si investor ini menggunakan strategi DCA dengan membeli saham lima kali dalam seminggu di hari yang berbeda, tidak membeli sekaligus dalam satu hari lalu dia hold sahamnya dalam jangka panjang. Tujuannya adalah untuk mengelola risiko. Biasanya yang menggunakan strategi DCA ini adalah investor dengan profil risiko konservatif atau juga moderat.

Intake market timing, terdapat empat waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menerapkan strategi ini. Yang pertama adalah value investing. Value investing adalah melihat harga pasar dengan melakukan analisa fundamental. Tentu saja syaratnya adalah kita harus menguasai teknik analisa fundamental.

Ke dua adalah growth momentum. Growth momentum berlaku pada saham-saham secondliner. Pertumbuhannya bisa sangat dramatis, iya dramatis, karena bisa mencapai lebih dari atau sama dengan 100% dalam jangka waktu yang relatif pendek. Selanjutnya adalah special events. Special events ini kalau di Indonesia contohnya adalah bulan Ramadhan, Lebaran, dan Natal.

Yang terakhir adalah seasonality. Akan tetapi, karena di Indonesia ini perubahan musimnya tidak terlalu ekstrim jadi momen ini tidak terlalu tampak. Tidak seperti di luar negeri, ban mobil saja harus disesuaikan dengan musimnya. Sementara di Indonesia orang minum kopi puluhan ribu yang diseruputnya sedikit-sedikit agar bisa mendapatkan wifi gratis berjam-jam bukan untuk menghangatkan tubuhnya. Tetapi lebih kepada gaya hidup. Makanya mau musim hujan atau musim kemarau sepertinya kedai kopinya tidak akan sepi pengunjung.

Sampai juga kita kepada tipe yang terakhir. Jadi, ternyata di dunia pasar modal tidak hanya ada investor atau trader. Tapi juga ada gambler. Gambler ini biasanya memilih untuk membeli suatu saham lebih karena gosip yang didengarnya atau karena mengikuti ramalan Mbah Jambrong. Karena itu, sifatnya lebih kepada spekulatif. Ngenesnya, kebanyakan dari para pendatang baru di dunia pasar modal adalah gamblers dan gagal. Gamblers ini hanya menjadi bulan-bulanan market maker.

Karena Nina Bobo sudah berkumandang, di lain kesempatan saja kita membahas lebih jauh lagi tentang market maker. Pembahasannya akan sangat menarik karena lika-likunya cukup laki. Yang jelas, tidak ada jaminan bahwa investor akan lebih untung daripada trader atau sebaliknya. Semuanya tergantung kepada style dan profil risiko kita masing-masing. Selamat malam.

____________________
Sumber gambar: Flickr

0 komentar