Trik Menghadapi Turbulensi Pasar

Muhamad Rahmat // Selasa, 02 Juli 2013


Pada kuartal pertama tahun ini, para investor pasar modal telah diabuai dengan hasil investasi yang sangat mencengangkan. Sayangnya, hal itu tidak berlangsung sampai ke kuartal ke dua. Pada kuartal ke dua, kondisi pasar modal dan pasar uang pelan-pelan merosot. Bahkan, semakin ke sini turbulensinya cukup signifikan. Dalam sehari, turbulensi pasar modal Indonesia bisa mencapai 3%.

Dalam sepekan lalu mislnya, IHSG melonjak hingga 6,72%. Padahal selama empat pekan sebelumnya IHSG sempat terseok-seok. Hal ini tidak hanya terjadi pada bursa saham Indonesia, kinerja bursa saham lain pun bernasib sama. Otomatis, melonjaknya IHSG ikut berpengaruh terhadap kinerja reksa dana, khususnya reksa dana saham dan reksa dana campuran. Dengan lonjakan IHSG sebesar 6,72%, kinerja reksa dana saham ada yang mampu mencapai 10,73% dalam tujuh hari. Pun dengan reksa dana campuran, dalam tujuh hari kemarin kinerjanya ada yang mencapai 6,5%.

Melihat turbulensi pasar, setidaknya dalam sebulan terakhir ini, mau tidak mau sebagian investor mungkin ikut waswas. Hingga kemudian muncul sebuah pertanyaan, "Trik apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi turbulensi pasar?" Mungkin tidak akan terlalu menjadi persoalan ketika pasar sedang naik. Namun, bagaimana jika pasar sedang terkoreksi?

Ketika pasar sedang terkoreksi, sebaiknya kita tidak panik menghadapinya. Justru ketika penurunan harga saham bukan fundamental emiten dan lebih karena tekanan sentimen pasar, kita tidak perlu panik dan buru-buru melakukan penjualan kembali (redemption). Ketika tujuan investasi kita adalah untuk jangka panjang, justru seharusnya momen ini dimanfaatkan untuk melakukan penambahan unit penyertaan (top up). Dengan demikian, ketika harga saham sedang turun, hal tersebut dapat kita ibaratkan sebagai diskon besar-besaran.

Selain itu, apabila kita ingin mengurangi volatilitas yang cukup tinggi dan menghindari kerugian, momen ketika pasar sedang terkoreksi dapat kita gunakan untuk melakukan rebalancing. Rebalancing merupakan strategi investasi untuk menyeimbangkan portofolio. Dalam tulisan "Strategi Market Timing Reksa Dana" saya sempat menyinggung soal growth portfolio. Ketika misalnya dalam growth portfolio kita terdapat reksa dana dengan dengan portofolio efek yang consumer goods related, kita bisa memilih beberapa produk reksa dana yang bisa menjadi penyeimbang ketika saham consumer goods sedang lesu sehingga kerugian tersebut dapat tertutupi dengan naiknya return dari produk reksa dana lainnya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah diversifikasi produk reksa dana. Diversifikasi bertujuan untuk menyebar risiko agar investasi yang kita lakukan bisa lebih aman. Tentu saja penyebaran risiko ini harus disesuaikan dengan profil risiko kita masing-masing. Karena itu setiap investor bentuk diversifikasinya tidak harus selalu sama. Di tengah turbulensi pasar, menahan agresivitas di aset berisiko sembari memperbanyak aset di instrumen yang berisiko moderat bisa ditempuh. 

Last but not least adalah untuk tidak lupa berdoa kepada Yang Mahapemurah.

_____________________
Sumber gambar: Flickr

0 komentar