fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Karena Dia Berbeda


Di suatu kampung hiduplah seorang pemuda. Sebut saja namanya Usro. Dia tinggal di sebuah gubuk dekat komplek pemakaman kampung itu. Golok yang bertengger di pinggangnya, tanpa alas kaki, kemeja lusuh yang kancingnya selalu tebuka sehingga mempertontonkan perut buncitnya, dan celana komprang yang tidak kalah lusuhnya adalah penampilan yang sangat khas darinya.

Dengan IQ yang relatif rendah, tidak sedikit orang kampung yang memandangnya sebelah mata. Tak jarang, Usro menjadi bahak olokan anak-anak di kampung itu. Meski begitu, dia adalah orang yang sangat rajin dan tulus dalam bekerja. Dia sangat rajin mengumpulkan kayu bakar. Dari kayu bakar yang dikumpulkannya itulah dia bertahan hidup. Orang-orang memberinya uang, makanan, atau sekadar rokok sebagai imbalan atas kayu bakar yang dikumpulkannya.

Pernah suatu hari Usro mengambil beberapa buah rambutan milik salah seorang warga. Sang pemilik rambutan yang kurang suka dengan hal itu menegurnya. Usro tampak tidak senang atas teguran itu. Anehnya, setelah kejadian itu pohon rambutan tadi tidak pernah berbuah lagi. Kalau pun berbuah, jumlahnya sangat sedikit dan buahnya sering jatuh sebelum masak. Padahal dulunya pohon rambutan itu terkenal dengan buahnya yang sangat ranum dan rasanya yang manis.

Hingga suatu hari, Tuhan memanggilnya pulang. Warga satu kampung berduyun-duyun melayat ke gubuk reyotnya. Keuletan, ketulusan, kepolosan, dan kebaikan hatinya sangat membekas di hati warga kampung. Kala itu, ada hal yang membuat seluruh warga berdecak kagum. Subhanallah. Di satu-satunya lemari yang ada di gubuk itu ditemukan sehelai kain kafan dan setumpuk uang recehan yang jumlahnya sangat mencukupi untuk membiayai seluruh proses pemakamannya.

Usro telah mempersiapkan semuanya. Seolah dia sudah siap untuk menghadapi kematian. Padahal umurnya belum begitu tua. Karena biasanya orang-orang yang sudah sepuh saja yang menyiapkan kain kafan di dalam lemarinya. Apalagi Usro yang dianggap berbeda karena memiliki IQ yang relatif rendah, sangat tidak lazim ketika ternyata dia sudah berpikir sejauh itu. Di akhir hayatnya dia telah menunjukkan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh warga kampung.

Karena dia berbeda, mungkin dia dicap sebagai orang aneh, tidak lazim, atau gila oleh banyak orang. Karena dia berbeda, dia harus menghadapi risiko diolok-olok dan dicemooh oleh sebagian orang. Karena mereka berbeda,  Rasulullah, Galileo, Columbus, dan banyak orang berbeda lainnya juga pernah dicemooh. Tetapi mereka justru melawan dan membalikan arus besar saat itu kemudian membawa pencerahan dalam berbagai hal. Karena menjadi berbeda tidaklah pernah mudah.

____________________
Ini adalah kisah nyata yang terjadi di salah satu kampung di Ciamis, Jawa Barat.
Personal 5367668979879530797

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping