Ikrar Pohon Oak

Muhamad Rahmat // Selasa, 29 Oktober 2013


Suatu ketika saya mengikuti diklat di kawasan Megamendung, Bogor. Pagi itu, saya sempatkan untuk sekadar berjalan santai mengelilingi komplek Pusdiklat. Di sana saya menemukan sebuah pohon besar yang tampak begitu kokoh. Saya sendiri tidak tahu persis nama pohon ini. Yang jelas penampakannya mengingatkan saya akan ucapan seseorang yang saya kagumi pemikiran-pemikirannya, “Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.” Meski saya yakin pohon ini bukanlah pohon oak.

Jika saya ditakdirkan untuk menjadi pohon dan saya diberi kesempatan untuk memilih antara pohon bambu dan pohon oak, saya kira pohon bambu cukup layak untuk dipertimbangkan. Dengan menjadi pohon bambu, hidup saya akan sangat nyaman. Cukup dengan menunduk mengikuti arah angin, saya akan terhindar dari terpaan masalah. Hidup saya akan aman sentosa. Saya pun tidak akan berpindah dari atas tanah tempat saya berpijak, yang sangat tentu nyaman.

Jika saya menjadi pohon bambu, saya akan menjadi orang yang sangat lihai menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan, juga dengan keinginan pihak yang memiliki kuasa atas saya. Pada akhirnya saya akan menjadi anak emas yang penurut, tidak pernah protes, dan tidak banyak menuntut. Tetapi, pada saat yang sama, hidup saya akan selalu berada di ujung telunjuk pihak yang memiliki kuasa atas saya  Saya tidak akan mempunyai inisiatif untuk tampil lebih aktif, mandiri, dan partisipatif.

Berbeda dengan Soe Hok Gie. Dia menolak menjadi pohon bambu. Dia menolak untuk menunduk seperti pohon bambu. Dia memilih menjadi pohon oak yang berdiri kokoh menentang angin. Dia menolak bersemayam dalam zona nyaman. Dia menolak untuk terpenjara dalam hidup tanpa inisiatif. Soe Hok Gie adalah sosok pohon oak yang tak pernah berkompromi dengan angin. Sebagai pohon oak, Soe Hok Gie memiliki pendirian yang sangat kokoh, tidak seperti saya, pohon bambu.

Dengan menjadi pohon oak, Soe Hok Gie telah menyerahkan hidupnya demi mempertahankan prinsip, menjaga idealisme¸dan memperjuangkan harapan. Sebagai pohon oak, Soe Hok Gie telah berikrar untuk tetap berpikir waras dan menimbang secara logis, di saat yang lain ikut-ikutan menjadi gila, dan kehilangan rasionalitas. Dengan menjadi pohon oak pula, Soe Hok Gie telah mengikrarkan kesiapannya untuk menjadi pemenang nan gagah, di saat yang lain tersapu angin dan terenggut badai. Dia akan tetap berdiri kokoh, meski dengan ranting-ranting yang terenggut dan daun-daun yang terkoyak.

Melihat Soe Hok Gie, saya ikut tergoda untuk menjadi pohon oak. Pohon yang mampu berdiri sendiri, tidak keroyokan seperti pohon bambu. Namun, apakah saya mampu? Selama ini saya terlanjur merasa nyaman hidup sebagai pohon bambu. Tapi godaan itu sangat kuat. Godaan untuk menggapai kesuksesan sebagai anak kandung dari perjuangan, penderitaan, dan pengorbanan.

Soe Hok Gie juga pernah bilang, "Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya. Tanpa kita bisa mengerti. Tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah." Selamat menghidupi hidup yang lebih hidup. Dan selamat berjuang untuk berubah menjadi pohon oak. Man saara ala darbi washala.

2 komentar