Paruh Tua

Muhamad Rahmat // Jumat, 15 November 2013


Jam di tangan saya memberitahukan perjalanan waktu yang sedang berputar meninggalkan pukul 20.00 menuju pukul 21.00 waktu Jakarta. Sebuah peristiwa yang sangat jarang terjadi, apalagi menjelang akhir pekan, saya masih bergentayangan di kantor. Sambil menunggu hujan mereda, saya membuka-buka album foto di facebook. Beberapa foto membuat saya tertawa-tawa sendiri. Teringat memori yang tersimpan di dalamnya, sejak masa-masa kuliah yang sangat alay hingga sekarang, yang ternyata masih tetap alay. Satu kalimat yang tepat untuk mengomentari memori-memori tadi adalah "Ternyata saya sudah separuh tua." Saya teringat kebiasaan waktu kuliah dulu ketika saya sering membuat "onar". Sudah bekerja pun saya masih suka membuat "onar" di kantor. Lalu, apa yang berubah dalam diri saya setelah tiga tahun meninggalkan bangku kuliah? 

Beberapa tahun lalu, saya mulai menginjakan kaki di dunia kerja. Waktu itu pimpinan sekaligus mentor saya pernah memberi wejangan yang masih saya ingat sampai sekarang. “Dulu, ketika saya masuk kerja, Kabag saya pernah member wejangan. Katanya, “Kamu bisa saja datang ke kantor setiap pagi lalu membaca koran sampai siang, bahkan sampai jam pulang kerja. Tapi kamu juga bisa saja menggunakan waktu luang di sela-sela pekerjaan kamu untuk meningkatkan kemampuan.” Saya telah membuktikannya dan menurut saya wejangan itu masih sangat relevan untuk saya sampaikan ke kamu. Apalagi sekarang sudah ada internet. Mau belajar apapun, kamu sudah bisa mengaksesnya di layar monitor.” kurang lebih seperti itu.

Setelah sekian waktu saya terjun di dunia kerja, saya baru teringat kembali wejangannya itu. Tapi saya jadi bertanya-tanya kepada diri saya sendiri, selama saya memasuki dunia kerja, keahlian apa yang sudah saya dapatkan untuk mengingkatkan “harga jual” saya. Walau bagaimanapun, di dunia kerja kita menjual kemampuan yang kita miliki. Tentu saja untuk mendapatkan harga jual yang tinggi, kita harus memiliki kualitas yang tinggi pula.

Siang tadi, saya cukup terkejut ketika mendengar kabar bahwa yang mereviu rancangan kontrak kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan investor asing adalah kantor konsultan hukum. Padahal, yang semestinya melakukan tugas ini adalah Kejaksaan. Namun apa daya, Kejaksaan belum memiliki sumber daya manusia yang berkompetensi untuk melakukan tugas ini.

Beberapa hari lalu, seorang teman melontarkan sebuah pertanyaan yang sangat menyentil. “Seandainya kamu mengundurkan diri dari PNS, keahlian apa yang bisa kamu jual untuk bisa mendapatkan kerja di luar?” tanyanya. Dia tidak sedang bertanya kepada seorang PNS yang ingin mengundurkan diri. Tetapi menurut saya pertanyaan ini layak untuk dijawab oleh PNS, terlepas dia mau mengundurkan diri atau tidak. Kalaupun tidak berniat untuk mengundurkan diri, anggap saja pertanyaan ini sebagai cambuk untuk terus meningkatkan keahlian yang dapat menunjang kinerjanya.

Belum ada jawaban. Pertanyaan tadi masih setia menunggu jawaban dari setiap orang yang merasa PNS, terlepas dia mau mengundurkan diri atau tidak. Jadi, seandainya kamu mengundurkan diri dari PNS, keahlian apa yang bisa kamu jual untuk bisa mendapatkan kerja di luar?

1 komentar

  1. bener banget mas, yang penting mah punya skill dan keterampilan, ini baru nilai plus

    BalasHapus