Pekerjaan yang Keren

Muhamad Rahmat // Minggu, 01 Desember 2013


Rasa-rasanya baru kemarin saya pulang kerja di Jumat malam. Tak terasa sekarang sudah Minggu malam. Artinya besok saya sudah harus kembali "bekerja". Jangan terlalu dihiraukan tanda kutip yang mengapitnya. Sepertinya karena saya menikmati setiap akhir pekan makanya selalu terasa berlalu sangat cepat.

Kamis malam, usai rapat saya berdiskusi tentang banyak hal dengan seorang teman kantor. Dia orang Batak dan lebih senior daripada saya. Karena itu, saya memanggilnya Abang. Kebetulan di depan ruang rapat ada beberapa lukisan yang menurut saya abstrak. Kami berlaga bak seniman yang mengerti lukisan-lukisan tersebut dengan sok mengonmentarinya. Diskusi kami pun berkembang ke berbagai topik, mulai dari musik, film, filosofi hidup, hingga topik perbicaraan antarlelaki, soal pasangan hidup.

TIba-tiba teman saya tadi menanyakan kegiatan saya selama akhir pekan. Saya pun menceritakannya. Terkadang saya yang menurut tes kepribadian berdasarkan tipologi Jung and Briggs Myers termasuk intropersion bisa juga menjadi extropersion ketika saya merasa aman untuk berbagi dengan seseorang yang saya percaya. Memang tipologi ini tidak mutlak. Yang ada adalah kecenderungan.

Menanggapi cerita saya, tiba-tiba teman saya berujar, "Apa yang kau cari selama akhir pekan? Pastinya itu yang ga bisa kau dapat di kantor kan? Ya, itu namanya mencari keseimbangan. Hidup ini memang harus seimbang." Kening saya sedikit berkerut mendengarnya. Saya rasa ada benarnya juga. Ternyata sesuatu yang saya cari di akhir pekan adalah sesuatu yang belum saya dapatkan di hari-hari kerja.

Tadi sahabat saya tiba-tiba berkata, "Pekerjaan aku ga keren, bukan kerja kantoran, lokasinya juga bukan di Jakarta, dan bla bla bla." Padahal, menurut saya pekerjaan yang keren itu adalah pekerjaan yang sesuai dengan panggilan jiwa. Selain itu, pekerjaan yang keren adalah yang dengan pekerjaan itu kita bisa bermanfaat untuk banyak orang. Sederhananya, pekerjaan yang keren adalah pekerjaan yang tidak hanya bertujuan untuk mencari uang. Dan, menurut saya pekerjaan sahabat saya tadi lebih keren daripada pekerjaan saya, meski dia tidak bekerja dengan pakaian ala eksekutif dan tidak bekerja di gedung pencakar langit.

Di tahun 2013 ini saya sering menulis tentang pekerjaan. Tujuannya adalah sebagai refleksi dan evaluasi atas respon saya terhadap krisis yang sedang saya hadapi. Tetapi Hikmat Hardono, Executive Director Indonesia Mengajar pernah berkata, "Tidak semua orang mempunyai kesempatan melalui krisis. Anggap itu suatu kemewahan. Jadikan sebagai pembelajaran. Apapun hasilnya." Mungkin semestinya saya bersyukur atas kemewahan yang dikaruniakan kepada saya. Saya memang merasa masih harus belajar banyak untuk bisa melewati krisis ini.

6 komentar

  1. kita memang sedang dalam perjalanan masing-masing, mat. pinter-pinter ngambil hikmah aja *ikutan bijak*

    BalasHapus
  2. KTP aq, Pekerjaan: Mengurus rumah tangga, keren kan?!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren banget, Mba. Mengurus rumah tanggah bukan pekerjaan yang mudah. :)

      Hapus
  3. Aku tertarik dengan "Kamis malam" itu lho. Itu pas rapat bareng kementerianku kan..
    Kalo pekerjaan kita gak sesuai passion, maka kegiatan di luar pekerjaan yang harus kita gunakan untuk menggantikan waktu yang hilang saat jam kerja...

    BalasHapus