Halusinasi Pagi

Muhamad Rahmat // Selasa, 31 Desember 2013


Sabtu dini hari, sekitar pukul 2.30 WIB, angkot yang kami carter tiba di depan gerbang Hotel Selabintana, Sukabumi. Kami pun meneruskan perjalanan menuju Pos Resort TNGGP Selabintana dengan berjalan kaki. Sekitar setengah jam menyusuri jalan setapak di tepian perkebunan teh, kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah saung di tengah ladang milik warga. Seketika kami meletakkan carrier dan berjejer rapi pada posisi tidur dan langsung terlelap.

Pukul 4.00 WIB saya terbangun dalam kondisi menggigil kedinginan. Sampai-sampai teman saya terbangun karena getaran tubuh saya yang menggigil. Posisi tidur kami meringkuk dan saling memunggungi. Seketika itu, saya teringat sebuah postingan di blog Shinta. Jumat pagi, sebelum berangkat, saya membaca postingan yang bercerita tentang almh. Shizuko Rizmadhani yang pada tanggal 24 Desember 2013 kemarin meninggal karena hypothermia saat mendaki Gunung Gede. Cerita itu sempat membuat saya bergidik. Beberapa orang teman sempat mempertanyakan niat saya. “Kalau memang sudah waktunya meninggal, diam di rumah pun kita tidak bisa menolak lagi.” jawab saya.

Dengan tangan kanan, saya mencoba merasakan degup jantung yang kalah kencang dari getaran tubuh yang menggigil kedinginan. Seketika itu juga, muncul halusinasi bayangan keluarga yang di Ciamis dan yang di Semarang, terbayang seandainya saya terkena hypothermia dan tidak bisa terselamatkan. Saya sengaja tidak menceritakan tragedi yang terjadi pada tanggal 24 Desember 2013 itu karena tidak ingin membuat mereka khawatir.

Setelah membasuhi seluruh badan dengan minyak kayu putih, dingin masih tetap bersemayam dalam dada. Saya bongkar carrier dan mengeluarkan sleeping bag. Teman-teman yang lain mencoba bersembunyi dari di balik hamparan tenda.


Sebuah pelajaran berharga pada malam pertama pendakian. Seperti kata Shinta, “Mendaki bukan sekedar 'pamer' foto di puncak, tapi mendaki adalah bagaimana kita peduli dengan alam dan semua makhluk ciptaan Tuhan. Jangan anggap remeh alam. Semua perlu persiapan matang dan harus memiliki pengetahuan tentang cara penanganan cepat dan aman jika ada kemungkinan terburuk.”

Bersyukur paginya kami masih bisa melanjutkan pendakian. Kami singgah untuk mengisi perut yang sudah keroncongan di warung-warung yang banyak menjajakan makanan sebelum melapor ke Pos Resort TNGGP Selabintana.


BERSAMBUNG...

2 komentar