Berjuang di Jalan yang Terhormat

Muhamad Rahmat // Jumat, 06 Juni 2014


“Berani kotor itu baik”, kata slogan sebuah merek sabun cuci. Mungkin karena slogan itu pula kita masih suka bermain di dunia politik meski katanya politik itu kotor. Lihat saja timeline media sosial seperti facebook atau twitter, tampak begitu ramai oleh hiruk pikuk para juru kampanye.

Jika seorang anak tidak pernah bermain kotor-kotoran, mungkin dia akan kehilangan keceriaan masa kecilnya. Dia tidak akan merasakan serunya bermain hujan atau bermain lumpur. Bahkan mungkin ketahanan tubuhnya akan sangat rentan terkena penyakit. Tetapi tentu saja tidak semua kotor-kotoran berakibat baik. Pintar-pintarnya kita saja sebagai orang yang lebih tua untuk memilih kotor yang memang baik untuk anak-anak.

Sama halnya dengan ketika kita bermain politik. Kita harus pandai-pandai memilih kotor yang baik untuk kita, kotor yang bisa lebih mendewasakan kita dalam berpolitik. Coba tengok sekali lagi timeline media sosial. Isinya kebanyakan berupa tulisan-tulisan yang mengubah seseorang menjadi beringas, galak, jahat, menghasut, dan menjelek-jelekkan orang lain. Padahal kita tidak mendapat apa-apa dari situ. Tidak ada efek positifnya. Mungkin itu yang termasuk ke dalam kategori kotor yang tidak baik. Tapi sering kali kita tidak sadar telah melakukannya. Mau tidak mau kita tidak akan bisa terlepas dari dunia politik. Menjadi apatis pun setidaknya kita akan terkena dampak dari politik itu sendiri.

Tidak sedikit orang yang mencoba mengulik soal keluarga dari masing-masing calon. Sebagian besar juga memilih berdasarkan alasan seputar keturunan, suku, atau penampilan. Tapi rasanya malas kalau harus memilih karena melihat persoalan keluarganya, entah itu keluarga Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Keluarga mereka tidak ada urusannya dengan Pilpres. Tindakan mereka baru terkait segalanya dalam Pilpres. Biarkan saja orang lain melakukannya, kita tidak usah ikut-ikutan.

Kalau pun ada yang membuat black campaign, lihat saja reaksi calonnya, masih bisa tetap santai atau kebakaran jenggot. Kalau tidak ada apa-apa sih seharusnya santai-santai saja, tidak usah langsung panas dan melapor ke Kepolisian. Tuduhan seperti itu tidak akan merusak reputasi seseorang jika orang itu bereaksi sewajarnya. Lihat juga apakah calonnya berkampanye dengan pidato dengan menjelek-jelekkan lawannya.

Kebebasan berpendapat memang dilindungi oleh undang-undang. Tapi berkuanglah di jalan yang terhormat, dengan cara yang terhormat. Begitu kata seseorang yang saya kagumi.

0 komentar