Perempuan Hebat

Muhamad Rahmat // Kamis, 09 Oktober 2014


Pernah seorang teman bercerita tentang isterinya yang meminta izin untuk kuliah S2. Dia tidak mengizinkannya dengan kilah dia sendiri baru lulusan S1. “Aku aja masih S1, masa isteriku udah mau S2.” tuturnya.

Minggu lalu saya mengantar isteri memeriksakan kandungan di salah satu rumah sakit di Semarang. Karena baru kali pertama berobat di sana, terlebih dulu saya melakukan registrasi untuk mendapatkan kartu. Ketika menyerahkan borang yang sudah diisi, petugasnya kembali menanyakan pendidikan terakhir isteri dan saya. Seketika langsung saya jawab. Tidak lama kemudian petugas yang lain keluar dan kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Saya pun kembali merespon dengan jawaban yang sama.

Berulang mereka tanyakan hal yang sama pasalnya di borang itu mereka melihat saya baru lulus D3 dan isteri saya sudah lulus S2. Karena perbedaan itu pula seorang rekan kerja pernah mengatakan kalau saya nekad. Saya tidak pernah merasa rendah diri. Saya justru bangga punya isteri yang lebih pintar dari saya. Toh saya belum berkesempatan melnajutkan kuliah karena dijegal Om Agus, bukan karena saya tidak mau.

Konon, kata orang-orang, setiap laki-laki sukses selalu punya perempuan hebat di belakangnya. Salah satu yang membuat seorang perempuan menjadi hebat adalah ketika perempuan itu pintar. Perempuan pintar bisa memperlihatkan perspektif lain tentang dunia. Perempuan pintar juga bisa lebih rasional ketika menghadapi dan menyelesaikan masalah.

Perempuan pintar juga bisa menjadi ibu yang baik. Tentu saya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak saya kelak. Dengan latar belakang psikologi dan pendidikan anak usia dini saya percaya isteri saya bisa menjadi ibu yang baik.

Beberapa minggu yang silam isteri meminta izin untuk kembali kuliah S2. Isteri saya ingin mengambil program studi magister psikologi agar sejalan dengan program studi S1-nya. Pasti saya tidak akan melarangnya. Saya tahu persis bagaimana rasanya dijegal. Karena itu saya tidak ingin menjegal orang lain untuk meraih cita-citanya. Apalagi orang itu adalah orang yang saya cintai.

Semoga benar apa yang dikatakan orang-orang. Karena di samping saya sudah ada perempuan hebat.

2 komentar

  1. Wah keren, bener kak, seringkali orang-orang malu tanpa alasan karena istrinya berpendidikan lebih tinggi. Tapi menurutku bukannya justru membanggakan punya istri yang cerdas? hehe

    BalasHapus