Manusia Era Post-industrial

Muhamad Rahmat // Selasa, 09 Desember 2014


Botanist Swedia, Carolus Linnaeus, mengembangkan sistem klasifikasi mahluk hidup ke dalam tingkatan yang disebut taksonomi. Taksonomi menggunakan dua kategori nama latin, genus dan species, untuk menunjuk setiap jenis organisme. Penamaan ini disebut binomial nomenklatur atau binomen. Misalnya Homo sapiens (“manusia bijaksana” dalam bahasa Latin) sebagai binomial nomenklatur manusia modern. Bijaksana karena manusia dikaruniai akal, sesuatu yang membuatnya lebih mulia daripada makhluk lainnya.

Berpuluh abad sebelum Linnaeus mengembangkan taksonomi dan mengklasifikasikan manusia ke dalam kingdom Animalia (hewan), Aristoteles menyebut manusia sebagai hewan yang rasional. Dalam berkomunikasi dan bertukar pikiran, manusia menggunakan simbol dan bahasa. Manusia menggunakan akalnya untuk berpikir bahwa untuk jadi mahluk hidup seseorang tidak sekadar memiliki sembilan ciri-ciri makhluk hidup. Alasan inilah yang membuat Aristoteles menyebut manusia berbeda dengan hewan lainnya.

Hewan tetaplah hewan. Dilatih menjadi sejinak apapun, insting kehewanannya tidak akan hilang. Pun dengan manusia. Manusia memiliki insting untuk berkuasa dan mendominasi. Pada era post-industrial seperti sekarang, minimal 12 jam dari 24 jam dalam sehari dihabiskan untuk mencari makan. Mencari makan adalah salah satu alasan paling lumrah yang dikemukakan manusia untuk melegitimasi insting kehewanannya. Hewan yang tidak memiliki akal pun melakukannya.

Ayo kita ke sawah, mencari petani yang hilang
Dicuri genderuwo dari Jakarta
Sore hari saat berenang

Ayo kita mencari, Diana anak paman petani
Dicuri grup musik dari Jakarta
Dirayu cincin mata jeli

Dalam cuplikan lirik di atas, The Panas Dalam seolah ingin mengkritisi urbanisasi yang merupakan dampak dari era urban (kota). Konotasi kota dan kampung laiknya oposisi biner yang memiliki sifat yang bertolak belakang. Kota yang identik dengan kemodernan dianggap sebagai tempat yang lebih menjanjikan untuk mencari makan, berbeda denga kampung yang identik dengan kekunoan. Sebab itu, Indonesia yang konon merupakan negara agraria justru mengimpor produk-produk pertanian karena petaninya banyak yang hilang, dicuri genderuwo dari Jakarta.

Modern adalah suatu kondisi yang merujuk rasionalitas. Dengan rasionalitas, idealnya, manusia urban akan bertindak dengan penuh perhitungan. Tetapi, seringnya idealisme hampir selalu bertentangan dengan realitas. Buktinya, banyak hal konyol yang dilakukan manusia urban, yang katanya modern. Contohnya ketika tidak sedikit orang kota yang memakai sepatu lari seharga jutaan rupiah untuk sekadar dipakai berjalan di mall. Juga alasannya bekerja untuk menghidupi anak dan isterinya. Padahal dia berangkat kerja sebelum anaknya terbangun dan pulang ketika anaknya sudah terlelap.

Manusia bekerja memang lumrah. Namun, bagaimana jika manusia menjadi gila kerja? Semua hal selain bekerja, termasuk keluarga, seolah tersisih dan menjadi tidak penting. Rasanya tidak cukup membuktikan kasih sayang dengan hanya mencukupi kebutuhan materi tanpa kehadiran kitanya. Jangan-jangan yang kita cari sejatinya hanya untuk memenuhi keinginan dan konsumerisme, bukan kebutuhan. Keinginginan manusia tidak pernah ada habisnya.

Banyak pegawai yang harus terlambat pulang. Ada yang beranggapan jam kerja ekuivalen dengan hasil kerja. Semakin lama bekerja, semakin baik pula hasilnya. Bahkan tidak sedikit pegawai yang terpaksa ikut pulang terlambat karena pimpinannya juga pulang terlambat sehingga malu untuk pulang lebih cepat daripada pimpinannya. Saya pernah kerja di beberapa kantor dengan budaya kerja yang tidak sama. Pernah ada seorang pimpinan yang selalu pulang tepat waktu. Selalu begitu sejak masih pegawai. Buktinya, karirnya sama saja bahkan cenderung lebih baik daripada rekan sejawatnya yang sering pulang terlambat. Karena dia memang memiliki kemampuan yang mumpuni.

Bekerja dalam durasi yang lama sangat menguras tenaga yang menyebabkan berkurangnya konsentrasi yang dapat menimbulkan kesalahan yang bisa berakibat fatal. Itulah alasan perawat dan dokter di rumah sakit atau pilot sangat ketat pengawasan jam kerjanya. Selain itu, bekerja dalam durasi yang lama pada kurun waktu yang lama pula dapat menyebabkan berkurangnya kesehatan fisik dan mental, stres contohnya.

Masa depan ada di tangan kita. Apakah nanti kita menyesal karena terlalu sebentar berada di kantor atau karena terlalu sebentar berada di rumah? Hanya kita yang bisa menjawabnya. Seperti Aristoteles yang menyebut manusia sebagai hewan yang rasional, manusia harus menggunakan akalnya untuk berpikir dengak bijaksana. Apapun pilihan yang diambil itu tidak akan pernah salah karena tidak ada kebijakan yang salah. Untuk menjadi mahluk hidup, manusia tidak sekadar makan, berak, tidur, dan bernafas. Pada satu titik manusia menggunakan kecerdasannya untuk berpikir tentang hal yang immateri, tetang bagaimana mencintai dan berempati.

Tidak salah jika kita menjadi sedikit berbeda dari yang lain. Sedikit saja, setidaknya untuk sekadar melindungi akal sehat kita, sesuatu yang membuat manusia lebih mulia daripada makhluk lain dalam kingdom Animalia. Dalam puisi Ucapkan Kata-katamu, Wiji Thukul pernah menulis “Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan”. Jangan terlalu serius. Postingan ini hanya lanjutan dari lamunan di tengah himpitan manusia urban dalam gerbong KRL Jabodetabek. Tentu masih sangat boleh untuk diperdebatkan.

0 komentar