Serdadu

Muhamad Rahmat // Rabu, 14 Januari 2015


Kami sudah bisa menerima jika Tuan telah rela hati membuang dan mengasingkan kaum kami. Tuan penguasa, sedang kami jelata. Tapi Tuan harus tahu, bekas luka yang pernah tertoreh begitu dalam sewaktu-waktu dapat kembali memerikan perihnya batin kami dan membuat kami salah hati pada Tuan.

Bukan gelak canda dan tawa bahagia Tuan yang membuat batin kami kembali perih. Bukan pula tak diundangnya kami dalam pesta-pesta kerajaan yang Tuan adakan dengan teramat meriahnya yang membuat hati kami sembiluan. Bukan itu Tuan. Kami hanya belum benar-benar percaya, Tuan yang alangkah kami hormati dan segani telah sampai hati membuang dan mengasingkan kaum kami tanpa dalil-dalil yang sahih.

Tapi kami bersyukur tidak mati konyol di medan tempur hanya untuk membela cakap angin Tuan. Maaf jika tak ada lagi hormat dengan tangan terbuka yang menyilang untukmu, Tuan. Semuanya telah membukakan mata kami tentang kepada siapa seharusnya kami menghormat. 

Mungkin Tuan tetap menjadi panglima. Tapi kami bukan lagi serdadu Tuan. Meski dalam darah kami tetap mengalir sikap dan prinsip Tuan. Sikap dan prinsip yang pernah Tuan ajarkan pada serdadu-serdadu Tuan. Sikap dan prinsip yang kemudian Tuan khianati sendiri.

0 komentar