Keok Memeh Dipacok

Muhamad Rahmat // Jumat, 27 Maret 2015


Ulah keok memeh dipacok, jangan kalah sebelum dipatuk, sebuah peribahasa Sunda yang berarti jangan kalah sebelum bertanding.

Adalah Adel–yang sebelumnya pernah saya kisahkan juga, salah satu dari siswi kelas I SD yang melaju ke babak final sebuah kompetisi matematika. Untuk dapat melaju ke level nasional, Adel sudah terlebih dulu menumbangkan pesaing-pesaingnya dari level kecamatan hingga level provinsi.

Namun, prestasi saja ternyata belum dapat membawa Adel untuk berlaga di tingkat nasional. Untuk dapat berlaga di babak terakhir, setiap finalis harus mendaftarkan diri. Masalahnya, biaya pendaftaran itu mencapai ratusan ribu rupiah bahkan mencapai jutaan rupiah jika digabung dengan biaya pendaftaran orangtua sebagai pendamping. Itu pun belum termasuk biaya akomodasi perjalanan luar kota. Kesemuanya itu tidak dibiayai oleh sekolah.

“Aku ga ikut final, ga punya uang.” hanya itu yang terucap dari mulut Adel. Meski belum genap setahun duduk di bangku SD, Adel sangat peka terhadap persoalan-persoalan seperti ini. Adel paham biaya pendaftaran itu sangat memberatkan ibunya yang single parent itu. Adel memilih keok memeh dipacok, kalah sebelum bertanding, dan melepas kesempatan untuk mengikuti kompetisi di level internasional.

Selain peribahasa Sunda ulah keok memeh dipacok, kita juga mengenal peribahasa mengalah untuk menang. Adel yang masih bau kencur itu paham betul kapan harus mengikuti peribahasa mana, sesuatu yang belum tentu dipahami orang-orang yang mengaku-aku dewasa ketika berhadapan dengan realita yang jauh dari cita-cita. Meski kalah sebelum bertanding, bagi saya Adel tetap berjiwa ksatria.

0 komentar