Hikmah di Balik Sebuah Mitos

Mardha Tresnowaty Putri // Selasa, 28 April 2015


Kalau kamu orang Jawa, pasti kamu pernah mendengar mitos bahwa tidak elok untuk membeli perlengkapan bayi sebelum usia kandungan tujuh bulan, atau mungkin kamu termasuk yang mematuhi mitos tersebut. Demikian halnya dengan papa saya, yang bersikeras melarang anak-anaknya membeli perlengkapan bayi sebelum usia kandungan tujuh bulan.

Beberapa orang percaya bahwa mitos ini hanyalah sesuatu yantg dianggap berhubungan dengan hal-hal berbau magis. Tapi jika dipikir secara rasional, mitos tersebut memiliki beberapa alasan yang dapat diterima. Misalnya karena usia hamil muda masih terbilang sangat rentan. Jika ibu kelelahan, apalagi karena terlampau asyik berbelanja perlengkapan bayi, ini justru beresiko bagi perkembangan calon bayi.

Alasan lainnya adalah karena jenis kelamin calon bayi baru diketahui di trimester ke dua, lebih tepatnya pada usia kehamilan empat bulan. Karena itu, membeli perlengkapan bayi di usia kehamilan kurang dari empat bulan seperti tebak-tebak buah manggis. Bisa jadi telah membeli bandana renda imut-imut tapi ternyata jenis kelaminnya laki-laki.

Terakhir, supaya tidak berlebihan ketika membeli perlengkapan bayi. Sebagai seorang perempuan, saya mengaku bahwa baju bayi itu lucu-lucu, semua pernak-perniknya itu lucu-lucu, sehingga susah menahan hasrat untuk tidak memilikinya. Apalagi kita tahu benar bahwa itu dibutuhkan untuk beberapa bulan mendatang, ditambah waktu kecil, perasaan pama  dan papa belum pernah memakaikan baju atau pernak-pernik lucu itu ke kita karena belum zaman.

Karena itu, berbelanja perlengkapan bayi di usia kehamilan muda akan menghabiskan banyak waktu untuk melihat barang-barang lucu, yang artinya semakin susah menahan hasrat untuk tidak membelinya. Padahal bayi usia satu tahun ke bawah, berat badannya cepat meningkat, sehingga tidak salah kalau kamu mengikuti mitos tadi karena memang ada beberapa alasan rasional yang mendukungnya.

Namun, kali ini semuanya berbeda.  Kami, tiga bersaudara perempuan beserta empat keponakan perempuan, ketika Jagoan diketahui jenis kelaminnya laki-laki, keluargaku merasakan sesuatu yang berbeda. Kebiasaan di kelurga tentang lungsur-lungsur baju dan pernak-pernik antarsepupu agar reket pun terhenti. Hal-hal yang mayoritas berbau girly tidak bisa dipakai untuk Jagoan. Ditambah, jarak umur kakak dan saya yang jauh, sepupuku terkecil berusia lima tahun, membuat barang-barang bayinya usang termakan usia.

Alasan-alasan itulah yang mendorong eyang uti dan budhe Jagoan lebih niat dalam mempersiapkan perlengkapan Jagoan daripada kami, orangtuanya. Larangan papa mengenai mitos terlewatkan, dengan alasan bahwa kami orangtuanya, sedangkan beliauwati-beliauwati cuma eyang dan budhe. Kami tidak boleh membeli, tapi beliauwati-beliauwati diperbolehkan. Alhasil, abah dan ambu Jagoan hanya bisa melihat beliauwati-beliauwati mempersiapkan perlengkapan Jagoan–sambil berdoa “Sehat ya Nak di kandungan Ambu, jadi anak baik, sholeh, dan penyayang karena banyak orang yang menyayangimu”–dan melihat barang-barang bayi sambil mupeng ingin beli.

Sekarang di saat usia kehamilan tujuh bulan, boro-boro hunting perlengkapan bayi, kontraksi-kontraksi yang terlalu awal datangnya, membuat aktivitas dibatasi dan banyak bedrest di rumah. Bahkan mencuci baju-baju Jagoan, abah Jagoan yang melakukan bukan ambunya–menjadi tersamar, antara banyak bedrest atau malas mencuci baju. Jadi mungkin inilah hikmah kenapa persiapan jagoan lebih awal bukan di usia kehamilan ke tujuh. Karena mungkin jika di lakukan sekarang kami tidak bisa ikut melihat dan memilih perlengkapan Jagoan karena harus di rumah.

Beruntung dan bersyukur memiliki mama, papa, dan kakak, yang mudah tergerak hatinya untuk melakukan sesuatu, termasuk mempersiapkan perlengkapan Jagoan. Juga memiliki suami yang mau mencuci dulu meski terburu-buru mau berangkat kerja. Thanks for all..

0 komentar