Pahlawan Kebetulan

Muhamad Rahmat // Jumat, 17 April 2015


Tetangga sebelah pada sibuk memperebutkan gelar pahlawan. Tetangga sebelahnya lagi malah membaiat dirinya sebagai pahlawan tak dikenal. Tunggu sebentar. Apakah pahlawan tak dikenal itu memang nyata adanya? Bukankah ada satu peribahasa yang bilang bahwa tak kenal maka tak jadi pahlawan. Ini serius loh. Jangan dianggap saya sedang main-main. Saya mah apa atuh, hanya butiran debu yang tak tahu arah jalan pulang. Mana berani saya bermain-main dengan para pahlawan kusuma bangsa.

Dilihat dari asal-usulnya, pahlawan dapat dibagi ke dalam tiga kriteria. Pertama, pahlawan yang memang dilahirkan untuk menjadi pahlawan. Ke dua, pahlawan yang dibaiat sebagai pahlawan. Ke tiga, pahlawan karena kecelakaan.

Demokrasi modern melarang kita membaiat pahlawan dari sisi keturunan. Sebab itu, sudah tidak mungkin lagi ada pahlawan yang dilahirkan sebagai pahlawan. Sementara itu, untuk membaiat seorang pahlawan, harus jelas dulu definisi pahlawan yang mereka perebutkan itu seperti apa. Lha ini, kriterianya saja masih diperdebatkan. Apalagi yang membaiat dirinya sebagai pahlawan tak dikenal, jelas ini sudah tidak sesuai dengan peribahasa tadi.

Maka, satu-satunya peluang yang dapat membuat mereka-mereka itu layak disebut sebagai pahlawan adalah keriteria ke tiga: pahlawan karena kecelakaan. Semacam pahlawan pembela kebenaran, pahlawan pembela kebetulan, kebetulan dilahirkan di Indonesia, kebetulan bekerja di situ. Padahal sama-sama makan nasi, sama-sama mengerjakan pekerjaan yang serupa itu.

Akhirul kalam, selamat berperang. Silakan saja kalau mau tetap berebut gelar pahlawan. Silakan kalau mau tetap berperang. Toh cuma perang argumen. Tidak ada yang melarang, bukan? Tetapi buat apa harus saling "bunuh", apalagi dengan saudara sendiri, hanya karena memperebutkan gelar pahlawan. Toh yang dibawa ke liang kubur hanya selembar kain kafan, atau jangan-jangan ini bukan hanya soal gelar pahlawan, tetapi soal perut. Kan perut ikut masuk ke liang kubur. Masa iya perutnya ditinggal. Ah, maafkan saya yang sudah lancang dan berburuk sangka ini.

0 komentar