Dibajak Geng Copet

Muhamad Rahmat // Rabu, 12 Agustus 2015


Usai empat puluh menit berdesak-desakan di dalam gerbong kereta rel listrik, saya tiba di Stasiun Gondangdia. Jam masih menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit, masih sempat kalau saya menuju kantor dengan naik Kopaja. Biasanya, kalau naik Kopaja dari Stasiun Gondangdia, saya selalu memilih bangku paling depan, tepat di samping sopir. Alasannya tentu karena keamanan dan kenyamanan, tidak perlu berdiri sambil berdesak-desakan. Karena waktunya sudah mepet, saya pun naik Kopaja yang sudah mulai penuh, sudah tidak ada tempat duduk kosong.

Semuanya berjalan seperti hari-hari sebelumnya hingga saya merasa ada yang sedang mencoba membuka tas saya. Tingkahnya memang mencurigakan. Tangan kanannya disembunyikan di balik tas di depan dadanya, trik andalan tukang copet. Saya pun lantas mendorongnya supaya tidak menempel badan saya sembari terus memperhatikan gelagatnya yang mulai salah tingkah.

Tidak berapa lama, seorang laki-laki berdiri dan mempersilakan saya duduk. Saya kira dia mau turun, ternyata tidak. Saya pun duduk di bangku itu, di samping ibu-ibu. Dengan posisi duduk, saya bisa lebih leluasa memperhatiakan gelagat lelaki yang menempel saya tadi. Tidak berapa lama saya lihat tangannya sedang masuk ke tas lelaki berkemeja garis-garis. Seketika saya langsung berdiri dan berusaha mendorong-dorong penumpang lain yang sedang berdiri. Maksud hati adalah untuk menggagalkan aksi si pencopet.


Beberapa orang protes karena saya berdiri tapi tidak turun. Saya pun baru sadar, kalau pencopet itu tidak sendirian. Dia dan gengnya telah membajak Kopaja yang saya naiki. Satu di antara orang yang protes tadi duduk di bangku bekas saya duduk. Tidak lama ibu-ibu tadi berdiri dan mau turun. Tapi lelaki yang duduk disampingnya mengomel karena tasnya tersangkut dengan tas ibu tadi. Si ibu tampak panik. “Istighfar Bu.. Istigfar!!” teriak salah satu anggota geng copet yang membuat ibu itu semakin panik.

Ternyata si ibu naik bersama anaknya, dan anaknya itulah yang menjadi korban tukang copet. Si ibu memberi tahu anaknya kalau dia baru saja jadi korban copet. Anaknya kira-kira seumuran saya berteriak meminta ibunya menunjuk pencopetnya. “Banyak.” kata si ibu dengan ekspresi ketakutan. Anak dan ibu itu awalnya mau turun di Gambir. Tapi sopir Kopaja melarangnya karena takut dikeroyok geng copet. Lelaki yang menempel saya tadi turun dari pintu depan dan masuk lagi melalui pintu belakang, menghapiri ibu dan anak tadi sambil terus memprovokasi.

Geng copet turun di Lapangan Banteng. Tapi sepertinya belum semuanya turun. Lelaki berkemeja garis-garis tadi masih ada dalam Kopaja. Dengan tidak bermaksud mengesampingkan asas praduga tak bersalah, menurut saya dia bagian dari geng copet. Di antara mereka tidak yang paling bersih dari rapi. Sepertinya tugasnya adalah meloloskan barang copetan. Awalnya saya ingin memberitahunya kalau tadi salah satu dari tangan pencopet itu masuk ke dalam tasnya. Janggalnya, ketika di Kopaja ribut copet dan dia mendapati tasnya terbuka, dengan santai dia menutup resleting tasnya tanpa mengecek barang bawaannya, ada yang hilang atau tidak.

Baru kali ini, perjalanan dari Stasiun Gondang dia menuju kantor terasa begitu lama dan melelahkan. Memang ini bukan kali pertama saya melihat memergoki pencopet yang sedang beraksi. Tapi baru kali ini saya mengalami bis kota yang saya naiki dibajak geng copet. Mau sok pahlawan juga sangat berisiko. Geng copet itu provokatf sekali. Maksud hati mau menolong, bisa-bisa malah jadi korban. Apalagi kita tidak tahu mana kawan mana lawan.

Hati-hati saat naik angkutan umum. Simpan barang berharga di tempat yang sulit di akses tukang copet, di kantong laptop misalnya. Selain sulit dirogoh, kantong laptop juga cukup tebal jika disilet. Yang pasti, jangan pernah menaruh dompet atau ponsel di saku depan tas, itu mudah sekali dicopet.

0 komentar