Setelah Menikah

Muhamad Rahmat // Senin, 26 Oktober 2015


Sewaktu menginap, seorang teman dari Jogja pernah bertanya perihal kehidupan kami setelah menikah, semakin mudah atau tidak. Kami pun menjawab apa adanya, "tidak". Bagi kami, yang menjadi orangtua tanpa melalui MOOB (Masa Orientasi Orangtua Baru), menikah bukanlah sarana untuk mencari kemudahan, melainkan sarana pembelajaran. Klise memang, tapi yakin saja Tuhan tidak akan memberikan ujian yang tidak kita mampu hadapi. Anak contohnya, Tuhan menganugerahkannya karena Dia menilai kita sudah layak untuk mengemban amanat ini.

Melalui ujian-ujian tersebut kita bisa belajar memandang kata “bahagia” dari sudut pandang yang belum pernah terlukiskan. Dahulu kala, sebelum menikah dan punya anak, pagi hari di akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk berguling-guling ria di atas tempat tidur. Sekarang sudah lain ceritanya, Sabtu pagi adalah waktu untuk memandikan dan menyiapkan kebutuhan Jagoan selama seharian, karena semester ini ambu kebagian jadwal mengajar setiap hari Sabtu. Saya pun kehilangan waktu luang di akhir pekan, tapi dari situ saya mendapatkan kebahagiaan dalam versi yang lebih paripurna.

Hari Minggu kemarin, Jagoan mendapat undangan pesta ulang tahun dari Princess, anak tetangga sebelah. Kami pun berbagi tugas, saya yang menyampul kado, ambu yang memandikan. Tapi tidak sengaja ambu trerkena ompol, jadi saya duluan yang pergi ke pesta, bersama Jagoan. Selain karena melihat balon dan dekorasi beragam warna, Jagoan juga senang datang ke pesta karena melihat banyak orang. Jagoan memang menyukai keramaian. Pun dengan alunan musik, dan karena itu pula Jagoan tertidur pulas dan pulang duluan dari pesta. Ambu pun belum sempat menyusul. 

Pagi ini ambu mengirim foto Jagoan ketiduran sewaktu bermain baby walker. Saya pun tertawa-tawa sendiri melihatnya. Jika yang di foto itu anak orang lain, mungkin emosi kita datar-datar saja. Tapi banyaknya jika yang difoto itu anak sendiri, ada emosi yang membuncah dari dalam foto. Itulah yang saya sebut dengan kebahagiaan dalam versi yang lebih paripurna.

Beberapa teman di kantor lama saya sering membawa pulang snack rapat untuk anaknya. Waktu itu kami selalu memesan snack rapat sendiri, asalkan harganya tidak melampaui pagu anggaran. Bukan soal jenis makanan yang mereka bawa pulang, tapi soal perhatian dan pengorbanan. Ketika mereka mendapatkan makanan, mereka meluangkan waktu untuk mengingat orang yang mereka sayangi, anaknya, dan merefleksikan kepeduliannya itu. Sekecil apa pun mereka mempunyai kesempatan untuk membahagiakan anaknya, mereka akan melakukannya, dengan tulus.

Abah saya juga begitu. Dulu, ketika abah pulang dan membawa snack rapat, abah suka bilang, "Buat kamu aja, Abah udah sering makan gituan." Saya tahu kata-kata itu tidak hanya terlontar begitu saja. Kata-kata itu keluar bersama dengan ketulusan seorang orangtua. Saya yakin, apa pun akan mereka lakukan, apa pun akan mereka berikan, untuk membahagiakan anaknya, untuk saya, dengan tulus. 

Setelah menjadi orangtua, saya semakin banyak belajar untuk memahaminya. Meski tentu butuh proses, ketika seorang ababil tiba-tiba diberi peran sebagai seorang abah. Semenjak ambu hamil, kami belajar banyak tentang pengorbanan orangtua dalam memberikan yang terbaik untuk anaknya, termasuk soal kesehatan. Banyak mendengar kisah suram pasien BPJS Kesehatan, membuat kami semakin ragu untuk menggunakannya. Karena itu, sebisa mungkin kami mencarikan dokter dan rumah sakit terbaik untuk anak kami. Meski kemudian, sebagai konsekuensinya, kami harus hidup super hemat.

2 komentar