Menabur Benih Literasi

Muhamad Rahmat // Rabu, 30 Maret 2016

Anak Prasekolah Belajar Baca

Akhir tahun kemarin, sepulang dari toko buku, saya memboyong satu buku bertajuk Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia Ini. Buku ini dikarang seorang pakar pendidikan anak usia dini, Beverly Otto. Dalam bukunya, ia menulis bahwa pengamatan anak terhadap bahasa tulis dimulai sejak bayi atau batita. Ini terlihat dari cara batita menunjukkan fokus ketika orangtua atau saudaranya membacakannya buku cerita. Bahkan, sejalan dengan perkembangan usia, ia akan meniru dan mempraktikkan kegiatan literasi tersebut.

Namun, perlu ditekankan bahwa anak usia dini akan lebih banyak menerima manfaat jika orangtua menabur benih minat literasinya daripada sekadar mengajar membaca. Literasi merupakan kemampuan bahasa tertulis. Kemampuan ini memiliki dua sifat, yakni reseptif dan produktif. Reseptif atau penerimaan bahasa berkaitan dengan keterampilan membaca sedangkan produktif berkaitan keterampilan menulis.

Membaca merupakan salah satu aspek kemampuan bahasa. Semua aspek perkembangan anak distimulasi sesuai dengan usia perkembangannya. Sama halnya dengan pengenalan huruf pada anak usia dini, harus sesuai dengan usia perkembangannya. Dengan begitu, prosesnya akan lebih menyenangkan dan bermakna, bukan malah menjadi momok dan menghambat perkembangan anak.

Pengenalan huruf pada anak usia dini dapat dimulai dengan melafalkan huruf-huruf dengan tepat, melafalkan huruf sesuai urutan aksara, hingga mengenalkan simbol-simbol huruf. Pengenalan simbol-simbol huruf pada anak usia dini harus bersifat menyenangkan dan menantang. Rentang konsentrasi yang pendek dan pesatnya perkembangan motorik kasar cenderung membuat anak mudah teralihkan. Karena itu, pengenalan huruf pada anak usia dini mesti lebih ditekankan pada kegiatan yang bergerak daripada kegiatan di atas meja dan kursi.

Anak Prasekolah Belajar Baca

Sekarang ini, banyak TK yang tidak sebatas mengenalkan huruf pada muridnya, tetapi juga mulai mengajarkan menulis dan membaca. Padahal, anak belum siap untuk itu. Selain itu, tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa kemampuan calistung anak penting sebagai salah satu syarat masuk SD. Benarkah demikian? Bagaimana kita, sebagai orangtua, menyikapi hal tersebut? Simak penuturan Ambu selengkapnya di Tabloid Nakita edisi teranyar.

0 komentar