Rasionalisasi Lomba Blog

Muhamad Rahmat // Rabu, 04 Mei 2016

Lomba Blog

Saya mendedikasikan waktu, tenaga, uang, bahkan hidup untuk blog ini. Blog adalah hasrat yang memaksa saya untuk terus menulis. Saya ogah menjadi seburuk-buruknya manusia, yang dikaruniai akal pikiran tetapi tidak menggunakannya. Menulis membuat otak saya tetap berguna. Saya karena itu, sebanal apapun hasilnya, selalu berusaha untuk persisten menulis. Bagi saya, blog, dengan segala subjektivitasnya, adalah bentuk syukur akan akal pikiran yang dikaruniakan-Nya.

Dalam perjalanannya, sebagai ikhtiar untuk memperbaiki kualitas tulisan, beberapa waktu saya ikut lomba blog. Memang tidak serta-merta semua lomba blog yang ada saya ikuti. Hanya lomba dengan tema-tema yang saya anggap saya memiliki cukup kapasitas saja yang saya ikuti. Saya percaya, banyak faedah yang bisa dapatkan dengan mengikuti lomba blog. Apalagi jika sampai juara dan meraup beragam hadiah yang ditawarkan, kasta blog bisa ikut terdongkrak.

Saya pun mengamalkan tips-tips yang disarankan banyak narablog yang sudah menyabet bebagai gelar juara lomba blog. Satu di antara tipsnya adalah mencari tahu memoar para juri. Tujuannya agar kita bisa menyajikan tulisan sebagaimana sehingga tulisan itu bisa sesuai dengan selera para juri. Beberapa kali saya pernah mengamalkannya dengan segenap jiwa dan raga. Meski memang belum hasilnya belum sampai pada hasil yang diidam-damkan, jadi juara.

Belakangan saya sadar bahwa alih-alih memperbaiki tulisan, sering ikut lomba blog justru membawa dampak buruk. Mengamalkan tips untuk mencari memoar para juri misalnya. Amalan tersebut sebetulnya malah membuat saya tidak percaya diri dengan kemampuan saya. Bukannya berani untuk menunjukkan keunikan yang saya miliki, saya malah mengikuti selera para juri. Suatu dampak buruk yang tidak pernah saya duga sebelumnya.

Memang pemeo klasik bilang bahwa hidup ini adalah sebuah kompetisi. Sedari kecil, kita pun dididik dalam budaya kompetisi. Karena itu, saya sempat mengimani bahwa hasil yang lebih baik akan diperoleh ketika saya ikut lomba. Namun, Alfie Kohn, seorang psikolog terkemuka, malah bilang bahwa dalam budaya kompetitif, untuk menjadi baik, seseorang harus menang atas orang lain. Sukses didefinisikan sebagai kemenangan. Ini menjadi kontradiktif, karena keduanya jelas berbeda.

Kompetisi acap menciptakan kecemasan yang mengganggu konsentrasi. Kompetisi juga menghalangi kita untuk dapat berkolaborasi dengan orang lain, karena semua orang ingin menjadi nomor wahid. Joey Alexander, si pianis cilik nominator Grammy Awards, pun mengaminkannya. “But i just want to play and winning isn’t my goal. I came to the Grammys to play. Didn’t expect to win. It’s all about the music. The opportunity to play for both shows was a huge blessing.” imbuhnya.

Bukan. Saya bukan sedang mendeklarasikan diri untuk tidak ikut lomba blog lagi. Justru saya sedang melakukan rasionalisasi biar tetap ikut lomba blog, meski saya tahu akan ada implikasi negatif akibat keikutsertaan tersebut. Rasionalisasi yang saya maksud merupakan salah satu mekanisme pertahanan ego dalam Psikoanalisa Freud. Rasionalisasi adalah mekanisme pertahanan ego yang dilakukan dengan menciptakan alasan yang membenarkan tindakan.

Menurut Freud, struktur kepribadian kita terdiri dari id, ego, dan superego. Ketika ketiganya sudah muncul pada diri kita, akan terjadi dialog dalam membuat keputusan dan/atau melakukan perbuatan. Id punya keinginan, sementara superego membatasinya pada kanal yang tepat. Ketika keduanya berkonflik, maka ego bertugas menjembataninya, sehingga kita tetap merasa nyaman. Inilah yang disebut disebut sebagai mekanisme pertahanan ego.

Rasionalisasi adalah mekanisme pertahanan ego dengan menciptakan alasan yang membenarkan tindakan. Alasan ini berfungsi untuk mereduksi ketegangan, karena itu juga bisa melindungi ego dari ketegangan tersebut. Misalnya, saja ketika saya tahu akan ada implikasi negatif yang timbul jika saya ikut lomba blog, maka saya bisa berpikir atau mengatakan bahwa kemudaratannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan faedah yang akan saya dapat.

Proses rasionalisasi memang kadang bisa juga diiringi dengan fantasi. Sama dengan rasionalisasi, fantasi juga merupakan mekanisme pertahanan ego dengan mereduksi dorongan. Bentuknya adalah dengan mengalihkan kepada bayangan yang diciptakan dalam pikiran. Contohnya, ketika saya tahu ada implikasi negatif dari lomba blog, maka saya membayangkan ada sesuatu yang akan saya dapat, hadiah misalnya, sebagai ganjaran dari risiko yang sudah saya ambil.

Sudah, begitu saja. Tabik.

2 komentar

  1. Yap... ikut lomba ngeblog dengan menunjukkan keunikan diri sendiri, jauh lebih memuaskan ketika nanti hasilnya kita menang~

    BalasHapus
  2. Mantap sekali. Mudah-mudahan juara.

    BalasHapus