Les Renang

Muhamad Rahmat // Selasa, 07 Juni 2016


Sekalipun sering menemani Jagoan berenang, dan ikut menceburkan diri ke dalam kolam, sejatinya saya tidak bisa berenang.

Kolam renang pertama yang saya jamah adalah Karang Setra, Bandung, sebuah kolam renang berstandard olimpiade yang pada masanya berfungsi sebagai tempat latihan atlet nasional. Itu pun ketika saya sudah duduk di bangku SMA.

Dari asrama saya ke Karang Setra tidaklah dekat. Kami selalu naik “kacang ijo” alias truk tentara untuk pergi ke Karang Setra. Kebetulan pembina militer di asrama saya berasal dari salah satu Pusdiklat TNI di Cimahi. Tapi sampai saya menanggalkan seragam putih abu, Karang Setra belum herhasil membuat saya mahir berenang.

Pada fase sebelumnya, sama sekali saya belum pernah bersentuhan dengan kolam renang, apalagi belajar berenang. Maklum saja, kampung halaman saya terletak di daerah pebukitan. Jauh dari laut dan tidak ada kali, apalgi kolam renang. Sekalinya saya berenang, itu pun di bak mandi, sebelum saya meyikati lumut yang menempel dan mengurasnya.

Hingga minggu kemarin, jika saya berenang, saya lebih banyak mengandalkan naluri. Saya tidak tahu teorinya. Walhasil saya malah mirip anjing yang tercebur ke kolam renang. Iya, penghujung minggu kemarin, selama dua hari berturut-turut, saya memutuskan untuk mengikuti program intensif les renang.


Hingga minggu kemarin, jika saya berenang, saya lebih banyak mengandalkan naluri. Saya tidak tahu teorinya. Walhasil, saya malah mirip anjing yang tercebur ke kolam renang. Iya, minggu kemarin, selama dua hari berturut-turut, saya memutuskan untuk mengikuti program intensif les renang.

Mulanya, sore itu, saya hanya menemani Jagoan berenang di kolam renang sebuah hotel. Tapi ternyata, di sana juga digunakan sebagai tempat les renang, yang 98% pesertanya adalah anak-anak. Hingga kemudian, setelah melalui lobi-lobi yang alot, akhirnya saya menjadi faktor yang mengubah angka persentase tersebut.

Hari pertama, saya didampingi asisten pelatih, untuk latihan bernafas, mengambang, dan mengayuhkan kaki.  Hasilnya belum begitu memuaskan. Latihan pun diteruskan keesokan paginya. Padahal saat itu hidung saya sudah meler. Tapi demi bisa berenang, apapun itu, tidak akan jadi halangan.

Pagi-pagi saya sudah sampai di kolam renang, ditemani isteri saya yang juga ingin belajar gaya bebas. Di lokasi baru ada pelatih, Pak Yono namanya. Masih sepi. Saya langsung ganti baju dan menceburkan diri ke kolam. Bedanya, sama Pak Yono ini saya benar-benar diajari teorinya. Ketika praktiknya masih belum sempurna, sekecil apapun selama belum betul saya praktikkan, Pak Yono tidak bosan mengingatkan.


Tapi yang jelas, hasil kerja keras selama dua hari itu tidak sia-sia. Setidaknya gaya renang saya sudah tidak seperti anjing kecebur, tapi kodok keselek. Jika meluncur tanpa mengambil nafas, saya masih bisa berenang dari ujung ke ujung lebar kolam, tapi kalau sambil mengambil nafas, sampai tengah juga sudah kelelep.

Akhirnya, hidung saya semakin meler dan lutut kiri saya bengkak, terbentur dasar kolam. Bapak yang mengantar anaknya les renang, itu biasa. Anak yang mengantar bapaknya les renang, ini baru luar biasa. Begitulah.

3 komentar

  1. hai rahmat, long time ga nengok blog. itu yg d maksud jagoan anak kamu? :O kamu udah married :O maaaakkkk huahhahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Makanya, kemenong aja, Kakak? :D

      Hapus
  2. Sekali maen lagi ke blog bang rahmat Dan ane baru tau abang satu ini dah punya jagoan aja

    BalasHapus