Muda, Beda, dan Berkarya

Muhamad Rahmat // Sabtu, 20 Mei 2017

Transformasi Kelembagaan Kementerian Keuangan

Hari menjelang malam, sebagian besar penghuni Gedung Sutikno Slamet sudah beranjak ke peraduan masing-masing. Namun, ada aktivitas tidak biasa di lobi malam itu. Memang kadang ada juga pegawai lembur, tapi biasanya mereka lembur di ruang rapat atau ruang kerja, bukan di lobi. Mereka yang masih beraktivitas adalah para pegawai baru yang sedang berepot-repot membantu menyiapkan acara keesokan paginya, Kartini DJA.

Kartini DJA merupakan sebuah acara yang digagas untuk merenungkan kembali semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini, khususnya bagi para perempuan DJA. Kartini DJA juga merupakan salah satu ikhtiar dari Duta Transformasi Kementerian Keuangan di DJA untuk kembali menyemarakkan Pojok Transformasi DJA. Dalam persiapan dan pelaksanaannya, Duta Transformasi berkolaborasi dan bersinergi dengan beberapa pihak, termasuk para pegawai baru tersebut. 

Duta Transformasi mengenalkan para pegawai baru tersebut sebagai DJA Muda. Dari umurnya, DJA Muda termasuk sebagai generasi Y, generasi milenial. Sebagian malah sudah masuk sebagai generasi Z. Generasi generasi Y dan Z memang kerap mendapat stigma sebagai generasi pemalas dan tidak mempunyai sifat pekerja keras. Namun, apa iya begitu?

Stigma terhadap generasi milenial dan generasi setelahnya ini juga datang dari laporan Time empat tahun lalu. Dalam laporannya itu, Time menyebut generasi milenial sebagai generasi pemalas, hanya memikirkan eksistensi diri pribadi, enggan berusaha, dan sangat bergantung pada teknologi. Generasi milenial disebutnya narsisme, sangat terobsesi pada internet, dan pengakuan dari orang lain.

Sebagai mana dilansir Tirto, soal generasi milenial yang disebut narsisme, Bobby Caruso, jurnalis Huffington, bilang jika narsisme yang ditudingkan pada generasi milenial sejatinya adalah sikap percaya diri. Selain itu, kenyataannya, banyak hasil riset yang justru memiliki simpulan yang berkebalikan dengan laporan Time tadi. Di antaranya adalah hasil riset dari ManpowerGroup. Simpulan riset itu menyingkap bahwa generasi milenial bekerja lebih keras jika disandingkan dengan generasi sebelumnya.

Masih mengutip dari Tirto, data lain yang mengejutkan adalah 73 persen milenial di dunia bekerja 40 jam seminggu dan seperempatnya bekerja lebih dari 50 jam seminggu. Sebanyak 26 persen di antaranya bekerja lebih dari satu pekerjaan. Tiga perempat milenial yang ikut dalam riset ini menyebut bahwa mereka bekerja penuh waktu. Sementara setengahnya berharap mereka bisa bekerja dengan bentuk lain yang lebih fleksibel.

Kenyataan lainnya, selain bekerja, tidak sedikit dari generasi milenial yang memiliki kesibukan lain di luar pekerjaannya. Biasanya, kesibukan itu termasuk berupa kegiatan-kegiatan sosial nirlaba. 

Festival Indonesia Bekerja 2017

Saya sendiri setuju sekali dengan hasil riset ManpowerGroup itu. Selain DJA Muda, di luar sana saya kerap berjumpa dengan anak-anak milenial yang mau bekerja dan bergerak. Bahkan, tidak hanya tidak dibayar, mereka juga tidak enggan untuk ikut berkontribusi secara materi, selain waktu dan tenaga tentunya.

Yang paling anyar, akhir bulan kemarin saya ikut menjadi relawan Festival Ikut Bekerja 2017, satu kerumunan positif yang digagas gerakan Indonesia Mengajar. Mayoritas relawan yang ikut turun tangan dan menjadi penggerak di sana adalah generasi Y dan Z, generasi yang katanya pemalas itu.

Karenanya, saya kian yakin dan percaya jika generasi milenial bukan generasi yang narsisme, pemalas, dan enggan bekerja keras. Saya menjadi saksi jika generasi milenial adalah generasi muda yang tidak cuma berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, tapi juga mampu menghasilkan karya-karya yang bahkan mungkin lebih baik dari generasi-generasi sebelumnya itu.

0 komentar