Memakmurkan Ruang Belajar Kembali

Muhamad Rahmat // Selasa, 02 Mei 2017


Prestasi saya yang paling bisa dibanggakan, dan memang satu-satunya, ketika masih mengenakan seragam putih-abu adalah meraih predikat meja berlajar paling rapih seasrama kelas XI. Meski memang, seperti kata teman saya─yang iri, meja belajar saya rapih karena jarang dipakai belajar. Padahal, sejatinya, tuduhan itu adalah sebetul-betulnya fakta yang ada. Iya, saya jarang belajar.

Tuhan memang Mahatahu. Dia lantas menjerumuskan saya untuk menjadi penggembira di relawan penggerak Komunitas Ruang Belajar (belajar.indonesiamengajar.org), biar saya mau belajar. Komunitas Ruang Belajar ada untuk memperlebar kebermanfaatan Ruang Belajar, sehingga tidak cuma dikelola oleh internal Indonesia Mengajar. Secara garis besar, ada tiga fase yang menjadi tugas Komunitas Ruang Belajar: pengeditan, penyosialisasian, serta pengelolaan dan pengembangan fitur portal. Peran saya saat itu ada di fase editor.

Di Komunitas Ruang Belajar, kami memulai dengan belajar mengedit tulisan Pengajar Muda yang akan diunggah di portal Ruang Belajar. Tidak hanya dari segi standar penulisan, kami juga belajar banyak tentang cara-cara pengajaran. Sebagai orang yang tidak memiliki latar belakang kependidikan dan tidak berkecimpung di dunia pendidikan, masih sangat banyak hal yang harus saya pelajari dan pahami.

Ruang Belajar lahir dari permintaan terhadap cara pengajaran kreatif dalam setiap pergantian siklus program Pengajar Muda. Permintaan juga datang dari guru-guru di daerah penempatan Pengajar Muda, padahal sedari kali pertama mengirimkan Pengajar Muda pada 2010, ada banyak cara pengajaran kreatif dari para Pengajar Muda yang sudah dan sedang bertugas di tujuh belas kabupaten di seluruh Indonesia. 

Ruang Belajar, karena itu, ada untuk mengarsipkan cara-cara pengajaran kreatif dalam rupa sebuah portal. Dengan begitu, Ruang Belajar tidak cuma bisa dimanfaatkan Pengajar Muda dan guru di daerah penempatan Pengajar Muda. Ruang Belajar dimanfaatkan pula oleh para pengajar dan pendidik lain di seluruh Indonesia. Sedari mulai aktif pada September 2012, telah banyak tulisan yang diunggah di Ruang Belajar.

Hari ini, setelah mencoba mengulang rasa Festival Gerakan Indonesia Mengajar 2013 di Festival Ikut Berkerja 2017, tepat di Hari Pendidikan Nasional, secara kebetulan saya kembali mengakses portal Ruang Belajar. Di halaman muka, terlihat tulisan yang paling anyar diunggah sudah bertengger delapan bulan lamanya. Saya dan isteri terdorong melihat perkembangan ruang belajar lebih detil setelah lama pensiun dari Ruang Belajar. Saya pun mencoba untuk log in. Kata kunci yang pertama kali saya masukkan ternyata keliru. Kata kunci ke dua juga sama. Barulah dengan kata kunci ke tiga, saya bisa masuk ke dashboard Ruang Belajar.

Ada dua persepsi yang kami rasakan ketika berhasil log in ke dashboard Ruang Belajar. Pertama, akses masuk kami yang masih belum dihapus membuat kami merasa masih dianggap bagian dari relawan Ruang Belajar. Ke dua, sayang portal sebermanfaat itu belum banyak perkembangan berarti sejak kami pensiun. Pembaruan minim dilakukan, padahal setiap harinya halaman yang dibaca hampir mencapai angka satu ribu.

Saya paham betul posisi saya yang sudah bukan lagi anggota aktif Komunitas Ruang Belajar. Karena itu, sedikit pun tidak ada niat buruk ketika saya mencoba log in sampai mencoba tiga kata kunci itu. Saya pun paham, sewaktu masih aktif di Komunitas Ruang Belajar, saya bukan relawan paling baik. Namun, saya merasa ada kesedihan melihat portal Ruang Belajar, yang dulu telah dimakmurkan oleh teman-teman relawan menjadi kering. Saya kira, hal ini akan dirasakan sama oleh teman-teman relawan penggerak Komunitas Ruang Belajar lainnya jika menengok portal ini.

Jadi, apakah portal Ruang Belajar akan dimakmurkan kembali?

0 komentar