zORB44u1Y5Szogk9hvRg5anbZDydcDDjseaSpgOw

Peluang Investasi Pascakenaikan Harga BBM


Setelah minggu lalu IHSG menguat hingga level 4.800-an, dalam tiga hari terakhir IHSG kembali terkoreksi sampai ke level 4.557. Meski kemudian pada penutupan perdagangan hari ini IHSG kembali menguat, yaitu pada level 4.582. Fluktuasi IHSG akhir-akhir ini tampak sangat liar dan unik. Ketika indeks-indeks utama di dunia bergerak secara normal, IHSG justru tampil sangat fluktuatif.

Sentimen yang mendorong penurunan indeks masih seputar inflasi, yang diperkirakan akan meningkat pada bulan ini. Hal ini mungkin wajar-wajar saja mengingat pemerintah sudah menetapkan kenaikan harga BBM. Meski tentu saja alasan kenaikan harga BBM tidak cukup kuat untuk menjelaskan betapa liarnya fluktuasi IHSG saat ini.

Untuk itu, saya rasa kenaikan harga BBM masih menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan di awal semester II 2013 ini. Tapi tentu saja bukan soal harus atau tidaknya harga BBM dinaikan. Sudah bukan saatnya lagi kita memperdebatkan soal itu. Jelas-jelas pemerintah sudah mengetuk palu kenaikan harga BBM. Lagi pula, sebelumnya sudah sering saya membahas topik kenapa harga BBM harus dinaikan. Yang lebih penting sekarang adalah bagaimana kita melihat peluang pascakenaikan harga BBM ini. Khususnya peluang untuk berinvestasi di pasar modal. Lebih khususnya lagi peluang untuk berinvestasi pada produk reksa dana.

Banyak orang beranggapan bahwa kenaikan harga BBM merupakan sebuah kabar buruk yang tidak enak untuk didengar. Apalagi untuk masyarakat golongan bawah. Tetapi seharusnya masyarakat golongan menengah ke atas bisa melihat potensi positif dari kenaikan harga BBM. Bahkan seharusnya masyarakat golongan bawah pun bisa melihat potensi positif dari kenaikan harga BBM ini, karena jelas-jelas pemerintah sudah mempersiapkan program-program kompensasi yang di antaranya ditujukan untuk mengantisipasi dan mengatasi dampak dari kenaikan harga BBM bagi masyarakat golongan bawah.

Masyarakat golongan menengah ke atas seharusnya menyambut gembira kenaikan harga BBM ini sebagai peluang untuk berinvestasi. Mari kita berandai-andai. Andai kita adalah investor asing yang sedang memilih negara di mana kita akan menanamkan modal. Kemudian kita melihat dua negara yang yang tingkat pertumbuhan ekonominya cukup baik. Tetapi kedua negara tersebut memiliki sebuah perbedaan yang tentu saja menarik untuk kita pertimbangkan. Negara pertama memberikan subsidi BBM yang sangat besar agar bisa disukai oleh rakyatnya. Sementara itu, negara ke dua lebih memilih untuk membangun infrastruktur yang baik daripada menghabiskan anggaran untuk mendanai subsidi BBM. Dari kacamata seorang investor, negara mana yang akan kita pilih?

Saya pribadi akan memilih negara ke dua. Seorang investor seharusnya lebih mementingkan kemudahan dalam berinvestasi daripada bantuan dari pemerintah. Misalnya kita adalah distributor buah-buahan. Kita ilustrasikan lagi. Kondisi pertama adalah ketika harga BBM murah karena disubsidi. Akan tetapi, jalannya rusak dan macet karena sempit sehingga buah yang kita kirimkan keburu membusuk di tengah jalan. Kondisi ke dua adalah ketika harga BBM lebih mahal tetapi buah yang kita kirim bisa cepat sampai. Yang mana yang lebih menguntungkan? Itu hanya sedikit ilustrasi saja untuk menggambarkan kemungkinan peluang positif yang bisa kita ambil pascakenaikan harga BBM.

Beberapa ekonom memandang kepustusan pemerintah untuk menaikan harga BBM sudah sedikit terlambat. Kenaikan harga BBM dipandang akan berdampak lebih baik terhadap perekonomian apabila ditetapkan pada tahun 2012, pada saat kondisi perekonomian sedang baik dengan inflasi yang rendah. Sementara tahun ini kondisi perekonomian kita dipandang tidak lebih baik daripada tahun lalu. Salah satu penyebabnya adalah karena pada tahun ini subsidi BBM sudah terlanjur menciptakan defisit kembar, yaitu defisit neraca perdagangan dan defisit anggaran.

Salah satu dampak dari defisit kembar adalah melemahnya nilai rupiah. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah terpaksa menggunakan cadangan devisa sehingga membuat cadangan devisa kita semakin menipis. Itu hanya salah satu contoh multiplier effect dari subsidi BBM yang membuat kondisi perekonomian tahun ini sempat terseok-seok sehingga pemerintah harus menetapkan APBNP tahun 2013 lebih cepat dari yang diperkirakan.

Jika melihat efek dari inflasi, obligasi akan lebih terpengaruh daripada saham. Memang keduanya akan terdampak oleh kenaikan inflasi. Namun, harus diingat bahwa faktor yang mempengaruhi harga saham lebih kompleks daripada harga obligasi sehingga pengaruh inflasi terhadap harga saham tidak akan sesignifikan seperti terhadap harga obligasi.

Selain itu, inflasi juga merupaka salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap penentuan harga obligasi. Return obligasi harus lebih tinggi daripada tingkat inflasi. Ketika return obligasi naik, harganya akan turun. Kemudian pengaruhnya akan merembet kepada reksa dana yang menggunakan obligasi sebagai basis dalam portofolio efeknya, yaitu reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran.

Oleh karena itu, produk-produk reksa dana yang menggunakan obligasi sebagai basis dalam portofolio efeknya patut menjadi perhatian kita. Alasannya adalah ketika inflasi naik maka return dari obligasi akan ikut naik. Kemudian, ketika return obligasi naik, harganya akan turun. Satu-satunya yang harus kita khawatirkan terkait obligasi adalah ketika angka inflasi melampaui angka yang telah ditargetkan pemerintah.

Masih berkaitan dengan tulisan-tulisan saya sebelumnya, yang juga patut untuk kita pertimbangkan untuk mewarnai portofolio investasi, dalam hal ini adalah growth portfolio, adalah produk-produk reksa dana dengan portofolio efek infrastructure related. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pemerintah telah mengalihkan angaran subsidi BBM untuk membiayai pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu, reksa dana dengan portofolio efek infrastructure related layak untuk masuk ke dalam daftar belanja kita.

____________________
Sumber gambar: Flickr
Baca Juga
Abah
Generasi Micinial

Artikel Terkait

Posting Komentar