fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Politik Ilahi dan Nepotisme Pandawa Lima


Hi guys!

Berasa YouTuber. 

Separuh tahun lebih saya tidak menulis di blog ini. Saking lamanya, pas saya buka malah muncul peringatan “this page is underconstructions”. Hingga tulisan ini diunggah, blog Fiscus Wannabe masih belum bisa diakses.

Tadi sore, Ambu dan saya mampir di Out Of The Boox, di gudang buku Mizan. Tidak jauh dari Taman Dadap Merah. Anak gaul Joe pasti tahu lokasinya. Untuk konsumsi pribadi, di luar buku buat ambu dan Jagoan saya hanya membawa pulang satu buku. Buku itu saya pilih karena dua alasan: harganya dan penulisnya. Harganya cukup untuk menebus seporsi sate padang di Stasiun Lenteng Agung. Buku itu ditulis Seno Gumira Ajidarma dan merupakan kumpulan kolom-kolom politiknya pada kurun 2014-2016.

Saya pernah, bahkan, sering mendengar orang yang menjadi sangat anti pada politik. Padahal, politik adalah faktor determinan dalam hubungan-hubungan kuasa yang berperan dalam proses hegemoni tiada ujung. Bahkan, APBN yang isinya berupa angka-angka pun pada dasarnya merupakan suatu kebijakan yang telah melewati proses hegemoni tiada ujung tersebut. Namun, anehnya, pada perhelatan Pemilu 2019 kemarin, yang mendikotomi Indonesia menjadi dua kubu, orang yang anti pada politik kebanyakan malah menjadi bagian dari satu kubu dan ikut mempertegas garis dikotomi.

Di judul-judul awal, Seno Gumira Ajidarma bercerita tentang politik dari sudut pandang pewayangan. Saya hampir tersedak mendapati kenyataan bahwa ternyata secara tidak sadar sistem nilai dalam tradisi kebudayaan kita “membenarkan” nepotisme dan kroniisme.

Saya yakin kita bisa bersama-sama mengamini bahwa Sengkuni adalah senyata-nyatanya tokoh antagonis. Andai Mahabharata diangkat ke dalam cerita sinetron lokal, cuma Leily Sagita yang laik memerankannya. Sayang dia perempuan. Sengkuni adalah paket paripurna dari seorang tokoh antagonis: lick dan senang menghasut. Kebalikannya, Pandawa adalah tokoh-tokoh yang sangat laik diikuti dan dijadikan panutan.

Siapa yang tidak punya teman yang namanya diambil dari nama-nama Pandawa ataupun keturunannya? Nama adalah doa. Orangtua yang menamai anaknya dengan nama-nama Pandawa berharap anaknya memiliki sifat dan/atau nasib yang sama dengan Pandawa. Namun, benarkah Pandawa adalah sosok protagonis yang tanpa cela?

Dalam kisah Mahabharata, kelicikan sengkuni selalu bisa dikalahkan oleh Pandawa. Kenapa Pandawa selalu bisa mengalahkan Sengkuni? Apakah karena Pandawa selalu berbudi baik, berakhlak mulia, dan membela kebetulan, eh, kebenaran? Sepertinya bukan karena itu. Misal, ketika Arjuna dihidupkan kembali, untuk dengan licik membunuh Ekalaya, yang telah mengalahkan Arjuna dalam pertarungan yang adil, karena Arjuna lebih dibutuhkan untuk menghadapi Karna.

Pandawa selalu bisa mengalahkan Sengkuni karena mereka memang sudah ditakdirkan untuk menang. Mereka mendapat dukungan dari para dewa. Politik Sengkuni, karena itu, tidak akan pernah bisa mengungguli “politik ilahi” Pandawa.

Dalam konteks Indonesia, adanya kelompok-kelompok yang merasa paling benar adalah pangkal dari bekerjanya hegemonisasi “politik ilahi” yang berkiblat pada kisah Sengkuni versus Pandawa. Kelompok-kelompok yang merasa paling benar akan mengikrarkan diri sebagai Pandawa dan memperlakukan lawan politik selaiknya Sengkuni. 

Bagi kaum nepotis dan kroniis, Pandawa adalah sosok sang pencerah. Mereka meniru dan membenarkan laku nepotisme Pandawa. Misal, ketika Yudhistira atau Samiaji menjadi penguasa Indraprastha, keempat saudaranya pun mendapat jatah kekuasaan: Bima di Jodipati, Arjuna di Madukara, Nakula di Sawojajar, dan Nakula di Bumiratawu. Pun dengan kemenakan-kemenakannya yang turun mendapat jatah kekuasaan.

Tampak tidak asing bukan? Selaiknya Indonesia bertahun-tahun lalu, Indraprastha adalah negeri tanpa demokrasi yang dikuasai pemimpin nepotis lagi kroniis. Memang, sih, dalam aristokrasi feodal, hal ini sah-sah saja. Tapi, apa kita mau kembali ke masa itu, masa ketika persaudaraan dan persahabatan dimuliakan secara absolut?

Memang, kadang kita masih mendengar ada pemimpin yang secara subjektif mengangkat karib atau kerabatnya. Habisnya mau bagaimana lagi, ideologi tradisional-kolektif-feodal terlanjur mengakar dalam lobus frontalis manusia nusantara. Wajar, bukan, kalau dalam crony-capitalism index yang dirilis The Economist, Indonesia ada di ranking ketujuh
Politik 40271174456194347

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping