fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Ada yang Salah dengan Kampus STAN


Kabar yang berhembus, tahun ini STAN akan kembali membuka pendaftaran mahasiswa baru. Sebuah kabar gembira yang ditunggu-tunggu banyak orang. Terutama para lulusan SMA yang sedang berburu beasiswa kuliah gratis di tengah mahalnya biaya pendidikan di negeri ini. Sangat bertolak belakang dengan anggaran pendidikan yang sangat cetar membahana.

Di tengah euforia kabar burung tadi di kepala saya tiba-tiba muncul suatu kegelisahan. Akan sangat disayangkan ketika mahasiswa baru nanti masih diajar dengan sistem pengajaran yang tidak diperbaiki. Secara empiris saya pernah tiga tahun di besarkan di kampus STAN. Jadi akan banyak paragraf yang ditulis dengan berdasarkan pengalaman pribadi selama menempuh pendidikan di kampus STAN.

"Apakah kampus STAN itu menyenangkan?"

Kalau kamu menjawab iya, berarti kamu adalah bagian kecil dari kebanyakan mahasiswa STAN. Sangat jarang saya temukan mahasiswa yang berangkat kuliah dengan semangat yang meletup-letup. Di sosial media, saya sering melihat mahasiswa yang mengeluh ketika harus masuk kelas di pagi buta atau ketika harus masuk kuliah di akhir pekan. Sepertinya cukup jarang saya temui mahasiswa yang belajar kuliah dengan senyum merekah, langkah tegap, dan semangat membuncah. Jam kuliah yang sering berubah ini sulit di hindari karena dosennya kebanyakan adalah para pegawai teknis di Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Di kantor lama, cukup banyak rekan kerja saya yang juga menjadi dosen di STAN. Termasuk pimpinan langsung saya. Sementara pekerjaan kantor saja sudah sebegitu banyaknya. Belum lagi ditambah tugas untuk menyiapkan bahan ajar, meninggalkan kantor untuk mengajar, dan mengoreksi hasil ujian. Maka beberapa yang merasa terlalu terbebani dengan mengajar di STAN lebih memilih untuk menjadi dosen di kampus lain yang membuka kelas ekstensi di akhir pekan. Pilhan ini lebih baik daripada dosen yang tetap bertahan tetapi mengajarnya menjadi setengah hati.

Dosen yang juga merupakan pegawai teknis di Kemenkeu seringkali kerepotan untuk memeriksa hasil ujian dan menilai hasil belajar mahasiswanya. Maka tidak heran jika masih ada dosen yang mungkin terpaksa memberikan nilai yang hampir merata sehingga tidak tercipta reward and punishment yang adil. Bagi mahasiswa pemalas seperti saya, hal seperti ini merupakan zona nyaman (comfort zone) yang akan membuat saya semakin terlena.

Mungkin, seharusnya pegawai teknis yang ingin menjadi dosen di STAN mengajukan cuti dari kantor atau sepenuhnya beralih profesi menjadi widyaiswara. Ruang kelas bukan laboratorium yang menjadikan mahasiswa sebagai kelinci percobaan proses belajar-mengajar. Proses ini harus dilakukan dengan serius. Proses seperti ini tidak akan tercipta ketika dosen masih diselimuti pikiran akan tugas kantor. Karena itu, dosen tidak semestinya dijadikan sebagai profesi sampingan.

"Apakah sistem pengajaran, evaluasi, dan standar nilai yang ditetapkan sudah efektif?"

Proses belajar-mengajar yang ada masih sangat kental akan aroma teacher centric. Apa yang diajarkan pun lebih kepada hal-hal teknis yang tidak mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis. Ketika yang dipelajari adalah hal-hal yang ber bau teknis, akan sulit untuk melihat inovasi yang akan muncul dari sistem pengajaran seperti ini. Proses belajar-mengajar tidak hanya terkait pada aspek pedagogi saja. Proses belajar-mengajar juga terkait erat dengan konten dari subjek yang diampunya.

Sistem evaluasi di kampus STAN masih sangat kental dengan nuansa pilihan ganda. Sangat disayangkan ketika sistem penilaian komprehensif pada akhir masa kuliah justru diubah dari yang sebelumnya adalah sidang komprehensif menjadi ujian komprehensif. Belum lagi mahasiswa selalui dihantui bayang-bayang ancaman drop out jika nilai yang diperoleh tidak mencukupi standar minimal. Sistem evaluasi yang seperti ini dengan standardisasi nilai seperti itu hanya akan menggiring mahasiswa untuk belajar dengan berorientasi kepada nilai (score oriented)

Ketika mengikuti ujian komprehensif saya bisa melaluinya dengan mendapatkan nilai yang berada di atas standar. Tidak terlalu bagus tapi cukup memenuhi syarat kelulusan. Namun, patut dipertanyakan apakah saya memahami materi-materi yang diujikan tersebut. Karena jangan-jangan saya hanya menjadi penghapal. Jangan-jangan saya hanya mempelajari jenis dan pola soal ujian tanpa memahami konsep dari materi yang diujikan. Jangan salahkan saya sebagai mahasiswa. Sistem evaluasi yang ada telah menciptakan demand agar saya mendapat nilai di atas standar. Sebagai mahasiswa, saya hanya ingin menciptakan supply yang sesuai dengan demand agar saya dapat lulus dan selamat dari jurang mengerikan yang berupa ancaman drop out.

Sistem evaluasi seperti ini akan menciptakan proses belajar-mengajar yang mau tidak mau akan membuat mahasiswa terfokus untuk bagaimana bisa lulus ujian dengan nilai di atas standar agar dapat terhindar dari ancaman drop out. Akibatnya mahasiswa akan lebih terfokus untuk memperlajari bagaimana cara untuk menjawab soal ujian dengan cepat dan tepat. Goal yang ingin dicapai oleh kampus dan dosen pun tidak akan jauh dari bagaimana agar mahasiswa mendapatkan nilai yang bagus.

Akan membawa dampak yang lebih baik jika ancaman drop out ini dihapuskan. Boleh saja ada standar minimal untuk ancaman drop out tapi standarnya disamakan dengan kampus pada umumnya, IPK minimal 2,00 misalnya. Yang harus dibuat tinggi adalah standar untuk mendapat kesempatan bekerja di Kemenkeu. Misal standarnya IPK 3,00. Bisa juga ditambah standar lainnya. Kemudian mahasiswa yang memperoleh IPK antara 2,00 sampai dengan 3.00 diberikan pilihan untuk keluar dari STAN, karena sudah tidak berkesempatan untuk bekerja di Kemenkeu, atau tetap melanjutkan kuliah dengan risiko tadi dan harus membayar biaya kuliah. Sebagai sebuah Badan Layanan Umum (BLU), STAN dimungkinkan untuk menjalankan mekanisme ini. Bolehkah jika saya bilang drop out kurang manusiawi?

Kebanyakan teman yang terjerat drop out bukan karena dia bodoh. Aslinya mereka pintar. Sayangnya mereka harus mengalami demotivasi. Saya juga pernah mengalami masa-masa sulit seperti ini. Pasalnya, banyak yang masuk ke kampus STAN karena terpaksa. Mekanisme reward and punishment yang saya paparkan tadi akan lebih memotivasi mahasiswa untuk terus berkembang menjadi lebih baik. Analoginya seperti ini, kita akan lebih semangat untuk meraih sesuatu jika kita diiming-imingi hadiah daripada jika kita ditakut-takuti dengan hukuman. Memang simpel, tapi dampaknya bisa sangat berbeda. Tapi tentu saja ancaman drop out tanpa ampun untuk yang mencontek perlu tetap dipertahankan karena terbukti sangat efektif.

"Benarkah kuliah di STAN gratis?"

Kuliah ikatan dinas yang katanya gratis itu lebih mirip dengan pinjaman dana pendidikan yang terdapat dalam Pasal 111 UU Pendidikan Tinggi. Di mana suatu saat mahasiswa harus membayar pinjaman dana pendidikan tersebut. Padahal, saat ini sedang dilakukan judicial review di Mahkamah Konstitusi (MK) atas UU Pendidikan Tinggi tersebut, termasuk Pasal 111 tadi. Suatu saat mahasiswa STAN juga harus mengganti biaya pendidikannya selama berkuliah di STAN baik dengan bekerja selama masa ikatan dinas maupun mengganti dengan sejumlah uang yang telah ditentukan.

Oleh karena itu, pada hakekatnya kuliah di STAN tidak gratis! Kuliah di STAN dibayar dari uang negara. Paradigma seperti ini perlu agar kita lebih bertanggung jawab. Analoginya seperti ini. Bayangkan jika kita mempunya dua buah HP dengan harga yang sama. Yang satu kita beli dengan keringat kita sendiri sedangkan yang satunya lagi diberi secara cuma-cuma oleh orang yang tidak kita kenal. HP yang mana yang kita rasa lebih berharga?

Ada sedikit kekecewaan ketika "katanya" yang dibuka hanyalah program D-I dan D-III. Kenapa tidak langsung menerima mahasiswa D-IV saja? Untuk mahasiswa STAN yang bercita-cita menjadi Menteri Keuangan, sorry to say, hal itu menjadi agak mustahil ketika hanya menjadi lulusan D-III. Ditambah lagi dengan ditetapkannya PMK yang semakin mengekang hak untuk melanjutkan pendidikan.

Sekian. Saya tidak mengatakan semuanya salah tetapi ada yang salah dan harus kita perbaiki bersama. Semoga tulisan ini bisa dijadikan pertimbangan untuk memilih atau tidak memilih STAN sebagai tempat kuliah agar informasi yang diterima calon mahasiswa bisa lebih berimbang. Selain itu, jika berkenan, bisa juga dijadikan bahan evaluasi yang sudah teruji empiris berdasarkan pengalaman salah seorang alumninya. Jika kamu menganggap tulisan ini sia-sia, saya ucapkan selamat karena artinya kamu sudah memiliki pola pikir sebagai seorang anak STAN.
Kampus 6562944255212232758

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. Memang idealnya dosen yang mengajar di kampus berstatus fungsional dosen (bukan widyaiswara karena setahu saya widyaiswara biasanya yang mengajar di diklat, baik diklat prajabatan atau lainnya). Kalau masih sibuk di kantor lalu mengajar, apalagi kalau mengajar di banyak kelas, nantinya tidak akan fokus.

    Btw, memangnya beneran banyak yang masuk STAN karna terpaksa? Kirain semua yang daftar STAN memang dari awal berminat kuliah di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, bahkan ada yang tidak sengaja masuk ke sana. :D

      Hapus
  2. tulisan yang menarik mas! :D

    tapi nggak fair juga kalau kita cuma nuntut agar lembaga STAN harus gini dong, harus gitu dong!
    sebagai mahasiswa harusnya berperan, bisa nggak sih kita sendiri "belajar mencintai" :D
    mahasiswa mengeluh itu saya rasa manusiawi banget dan tidak usah ditanggapi serius amat, warna-warni nya STAN kan emang kek gitu, ya ngeluh tapi sambil nyengir heheheheh :D

    kalau aroma teacher centered & score oriented, ya emang sampai sekarang masih dirasa demikian :( meski dosen selalu kasih kesempatan agar mahasiswa bisa aktif, tapi ya emang dari sononya mahasiswanya gak biasa aktif, jadi dikasih kesempatan sama dosen, diem aja... :| score oriented itu memang realita dan tidak ada pilihan lain hahahahah memang kita terjebak dalam sistem, meski selama perkuliahan kita manuver gimana aja, begitu tiba masa ujian seluruh STAN kompak, nilai di atas segalanya *ceilah*

    kalau diberi pilihan "pilihan untuk keluar dari STAN (ikatan dinas)" kupikir itu menyalahi inti dari STAN itu sendiri, rohnya STAN memang di situ, intinya kalau bukan untuk ikatan dinas untuk apa ada STAN? ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. :D

      Akan tetapi, juga tidak fair ketika mahasiswa dituntut untuk belajar mencintai kampus sementara kampus tidak melakukan perbaikan agar bisa lebih dicintai mahasiswanya.

      Kenapa tidak usah ditanggapi dengan serius? Kalau tanggapan dari kampus seperti itu, ya mustahil akan ada perbaikan. Jika lulusan STAN bisa lebih baik lagi saya yakin kampus juga ikut bangga.

      Menyalahi inti yang mana? Hal itu sudah diatur dalam KMK. Silakan dilihat di Pasal 10 sampai dengan Pasal 17 KMK Nomor 289/KMK.014/2004.

      Terima kasih sudah menanggapi. :)

      Hapus
    2. Menurut saya cukup benar apa yang disampaikan pembuat artikel ini saya merasa ada sesuatu bentuk kunkungan yang tidak kasat mata (tangan tak tampak) yang membuat para mahasiswa STAN terjebak dlam suatu paradigma nilai dan drop out adalah surga dan neraka , berbahaya nya lagi bila kita diajarkan dengan rasa takut akan terjadi tindak balik pada saat kerja nanti , dan bahkan salah satu dosen pun munkin ada yang mengakui bahwa semangat anak2 ITB UI dan Universitas bonafit lainnya lebih meledak ledak dan itulah yang menginspirasi dan membuat mereka kreatif dalam banyak hal dibandingkan mahasiswa STAN yang saya bilang mahasiswa jenius di negeri ini

      Hapus
  3. Mas aku mau tanya...

    Dasar Hukum yang khusus untuk anak2 STAN untuk ikatan dinas 10 tahun atau membayar "nominal" 30 juta itu ada dimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dasar hukumnya KMK Nomor 289/KMK.014/2004.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. apakah kalo saya share akan berdampak untuk masa depan saya? karena status saya sekarang ini masih pasca wisuda :)
    tapi cukup menginspirasi tulisanya, semoga bisa berbenah, nggak cuma STAN, juga untuk sekolah2 kedinasan lainnya

    BalasHapus
  6. saya sih seneng seneng aja sekolah di STAN.
    bagaimanapun sistemnya, saya udah cinta banget dengan almamater yang sudah membesarkan saya *walaupun baru D-1*
    berarti saya termasuk yang di kalimat terakhir ya? hehehe ^w^

    by STANers 2011/2012

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan ini juga lahir dari sebuah rasa cinta terhadap almamater, untuk masa depan yang lebih baik. :3

      Hapus
  7. halo kak, aku mau sharing jg nih. kmrn aku daftar STAN 2013, dan aku lulus, tp aku udah kuliah di Statistika UGM 1 tahun. nah sekarang aku lg bingung banget mau milih yang mana. masuk stan, atau lanjut kuliah di UGM. tolong kasih pertimbangan bisa kak? sblm daftar ulang kak, tolong :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo.. :)
      Apa alasan kamu mendaftar ke STAN?
      Jika saya jadi kamu, saya akan memilih untuk meneruskan kuliah di UGM. Kecuali jika alasan saya mendaftar ke STAN adalah alasan ekonomi. Kalau alasannya adalah orang tua, itu masih bisa didiskusikan. Kalau kamu pindah ke STAN, kamu akan lulus dengan titel D3. Memang ijazah bukan segalanya, tapi itu juga penting untuk peningkatan karir. Kondisi di Kemenkeu saat ini sulit untuk melanjutkan pendidikan dari D3 ke S1, harus menunggu dua tahun. Memang di sisi lain kamu akan mendapatkan pekerjaan dengan lebih pasti.
      Maaf kalau sarannya mungkin kurang objektif.

      Hapus
  8. yang jelas yg dibutuhkan adalah orang2 yg berjiwa pemikir dan pekerja, sangat baik saran dan kritik di atas akan tetapi itu semua tidak akan berpengaruh apapun tanpa adanya tindakan.
    apakah indonesia hanya jago berkomentar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apakah kamu sendiri hanya jago berkomentar?

      Hapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  10. Kak, mau share aja nih. Aku udah kuliah satu tahun di salah satu univ swasta di JKT, taun ini keterima di STAN D1 Pajak, aku sih memutuskan untuk mengambilnya. alasannya karena ga ingin membebani org tua dengan mahalnya biaya kuliah di univ swasta. Tapi ada satu hal yg mengganjal di hati saya. saya takut ketika saya kuliah di STAN. saya jadi ga bisa berkembang, padahal saya masih muda dan masih banyak yg ingin saya lakukan. tolong minta tanggapannya kak,,,,,,,,, kira2 di STAN sy bisa berkembang ga ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa. Sangat bisa. Asal kamu punya keinginan untuk berkembang. Kalau toh misalnya apa yang ada di kampus kamu rasa masih kurang untuk membuatmu berkembang lebih baik lagi, di luar kampus masih luas untuk menunjang hal itu. Sebenarnya, di manapun kita bisa berkembang. Semuanya tergantung kepada diri pribadi masing-masing.

      Hapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. sorry kak mau tanya, saya adalah maba STAN prodip 1 pajak, kalau di STAN kan harus mematuhi peraturan apabila sudah lulus harus siap di tugaskan di seluruh wilayah Indonesia dan siap dimutasi kapan saja. lalu apakah suatu saat saya dapat di tugaskan di daerah yang dekat dengan tempat kelahiran saya ?, soalnya saya sendiri khawatir apabila saya besok ditugaskan di tempat yang jauh dari tempat kelahiran saya dan tidak bisa mengurus orang tua saya saat mereka sudah sepuh. terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa-bisa saja, tapi tidak ada jaminan untuk itu.

      Hapus
  13. terima kasih atas uraian opininya, sekarang saya sebagai calon mahasiswa STAN bisa lebih terbuka dan melihat dari sisi yang lain.

    BalasHapus
  14. Padahal belajar itu seharusnya menyenangkan, tetapi di STAN tertanam sekali itu ancaman DO yang membuat mahasiswa menjadi tertekan.

    Semoga kedepannya STAN bisa lebih baik

    BalasHapus
  15. Saya sedikit sedih dengan kemampuan aktivitas anak2 STAN ya menurut pandangan saya saja mereka kurang untuk mengembangkan kemampuan menyampaikan pendapat dan aktif baik di luar kelas maupun di dalam kelas setelah beberapa bulan saya masuk STAN saya baru merasakan hal itu dan saya sangat boring (bukan saya yang membosankan tapi kelasnya) dengan hal itu , ahahaaaa semoga saja anak2 genius itu bisa membuka pikiran dan pintu hati mereka bahwa sukses bukan hanya soal nilai dan uang tapi kebebasan

    BalasHapus
  16. Selamat malam mas, memang benar tulisan yg anda paparkan diatas, masih terasa hingga sekarang, saya mahasiswa angkatan baru angkatan tahun ini, memang belum lama disini, namun saya sudah merasakan seluruhnya apa yg mas tulis disini. Bayang2 d.o tiap tahun, teachercenter, kedaulatan lembaga, ya semua mengacu pada sistem lama yg belum bisa membuat kami disini berpikir kritis,layaknya kawan-kawan kmi di kampus lainnya. Padahal benar,disini tidak ada mahasiswa bodoh, semuanya cerdas,plihan, bahkan melampaui yg saya bayangkan,.

    Ahh,. andaikan saja banyak org berpikiran seperti mas yg sadar dan siap bertindak terhadap sistem yg lama ini..
    Saya tidak ingin memberi statement tulisan ini sebagai "omongan doang" tpi lihatlah sisi lainnya bahwa tindakan yg benar berawal dri pemikiran yg hebat .

    Terima kasih atas tulisannya mas saya respect dan sadar akan ini. semoga kedepannya ada perubahan yg lebih baik lagi.

    BalasHapus
  17. Artikel yang bagus sekali..
    Iya, mestinya ipk diperuntukkan sebagai syarat bekerja di kemenkeu, bukannya syarat lanjut per semester. Apalagi sekarang ip minimal per semester 2,75. Gaenak bro, rasanya dikejar kejar DO. Kuliah jadi berasa untuk menghindari DO, cari aman, bukannya menjadi akunisti sejati, kampretlah..

    BalasHapus
  18. Halo Mas, tulisannya menarik sekali. Seperti sedikit ada gambaran bagaimana dalam sistem STAN. Ngga tau ya kalo nanti ketika sudah berubah menjadi PKN stan apakah dosennya ( ex widyaiswara atau bagaimanapun teknisnya ) menjadi lebih termotivasi atau tidak. Baik dari segi mahasiswanya dan dosennya.

    Btw,
    saya sedang melakukan penelitian thesis tentang readiness to change STAN to PKN STAN.
    boleh minta emailnya mas? mungkin ada beberapa hal yang akan saya tanyakan.

    Maturnuwun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba, terima kasih. :D

      Bukannya memang sudah berubah menjadi PKN STAN ya?

      Boleh, sila hubungi saya via surel. Kalau Mba berselancar via browser desktop, bisa juga menghubungi saya via kotak Korespondensi yang ada di bilah samping blog ini.

      Hatur nuhun.

      Hapus
  19. Maksudnya PKM dan harus menunggu 2 tahun untuk lanjut s1 itu bagaimana? Mohon dijelaskan.

    BalasHapus
  20. Kalau sekarang mungkin sudah berubah yah, kan sudah jadi Politeknik. Pengajarnya sekarang sudah dosen murni kan yah. Sudah lama gak main ke STAN hehehe

    BalasHapus
  21. Assalamualaikum saya mash bingung tentang ganti rugi itu yg membuat saya bimbang untuk masuk stan dan apakah ad perubahan dalam stan yg udah diganti dengan politeknik tolong penjelasannya ya makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alaikumsalam. Perubahan tentu ada, besaran nominal, tapi intinya ganti rugi itu kalau drop out atau mengundurkan diri.

      Hapus
  22. Kak. Kalau ip di atas standar tp turun gimana ya?

    BalasHapus

emo-but-icon

Beranda item

Laman Facebook

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping