Menantang Kelaziman

Muhamad Rahmat // Kamis, 12 September 2013


Dalam hidup ini, sering kita bertindak atas nama kelaziman. Kelaziman dianggap sebagai benchmarking untuk memudahkan kita dalam bertindak. Beberapa hari yang lalu, teman-teman saya baru saja menerima pengumuman penempatan kerja. Ada yang lucu, komentar dari salah seorang seniornya tentang lamanya waktu yang harus mereka habiskan untuk menunggu, “…. Sabar ya, dulu kakak juga seperti itu.” So what gitu loh? Kalau memang dulu seperti itu, apakah sekarang harus seperti itu pula? Itukah kelazimannya? Artinya tidak ada perbedaan antara dulu dan sekarang, tidak ada perubahan, dan dengan berlapang dada kita menerimanya sebagai sebuah kelaziman.

Bisa jadi, hal seperti ini hanya soal kesesatan logika berpikir. Seperti argumen tentang kenapa Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tetapi prestasi sepakbolanya bisa dibilang memprihatinkan. Terkait soal sepakbola ini, saya sangat suka dengan logika berpikir yang dikemukakan Sammy D. Putra. Kalau prestasi sepakbola dikaitkan dengan jumlah penduduk, seharusnya yang menjadi juara sepakbola adalah Cina. Jika Indonesia ingin seperti Cina, yang harus dilakukannya adalah memperbanyak jumlah anak, bukan memperbanyak frekuensi latihan. Kemudian itu akan menjadi modus bagi para suami, “Yuk membuat anak, kita majukan persepakbolaan Indonesia.”

Lelucon seperti ini juga acap kali muncul dalam sebuah open recruitment. Sekalian curhat. Ketika di kampus, saya pernah gagal dalam sebuah open recruitment karena tidak memiliki pengalaman apa-apa. Dalam open recruitment kerja pun tidak jauh berbeda. Silakan lihat pengumuman-pengumuman lowongan kerja. Setidaknya, rata-rata perusahaan menyaratkan pengalaman bekerja minimal tiga tahun. Lalu bagaimana dengan fresh graduate yang belum atau kurang berpengalaman? Jika semua perusahaan mensyaratkan hal yang sama, darimana mereka akan mendapatkan pengalaman? Sangat sedikit yang mau menerima mereka yang belum atau kurang berpengalaman. Padahal, belum tentu seorang dengan pengalaman kerja tiga tahun bisa lebih baik dari orang yang mempunyai pengalaman hanya tiga bulan. Tidak ada jaminan.

Di luar sana, banyak sekali orang-orang yang usianya masih 20-an tahun tapi kiprahnya sudah tidak diragukan lagi. Mereka bisa seperti itu karena mereka berani melawan kelaziman yang membatasi dan memvonis usia muda mereka. Ada sebuah kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, yang diucapkan oleh seorang Billy Boen, “Kalau bisa sukses di usia muda, kenapa mesti nunggu tua?”

Menantang kelaziman. Mungkin itu cara terbaik untuk mengatasi lelucon-lelucon tadi. Tapi bisa jadi, kita justru terasing karena dianggap orang aneh, orang yang tidak lazim. Saya sangat suka dengan kalimat Soe Hok Gie, “Lebih baik terasing daripada mengalah pada kemunafikan.” Namun, tentu saja semuanya kembali lagi kepada keberanian kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang dianggap tidak lazim.

2 komentar

  1. lazim > kebiasaan > pembenaran

    lama lama akan dijadikan sebuah pembenaran atas sesuatu yang seharusnya tidak seperti itu

    *ngedumel*

    BalasHapus