Belajar Mendidik Anak

Muhamad Rahmat // Senin, 28 Oktober 2013


Sering kita mendengar pertanyaan yang biasanya dilontarkan untuk pasangan yang baru menikah, "Mau punya anak berapa?" Entah kenapa, sepertinya kita lebih peduli terhadap kuantitas daripada kualitas. Program Keluarga Berencana (KB) yang sudah lama dicanangkan pemerintah pun, menurut saya, lebih terfokus kepada kuantitas. Memang kuantitas akan berpengarus kepada kualitas. Tapi bukan berarti kualitas harus dikesampingkan. Atau jangan-jangan kita justru lupa merencanakan kualitas anak seperti apa yang ingin kita miliki kelak.

Minggu kemarin yang mengajar di Rumba hanya saya dan Devi karena Miss Evi dan Ida sedang ada urusan di luar kota. Seperti biasanya, kelas dibagi dua berdasarkan kelompok usia. Saya mengajar anak-anak kelas 4 sampai kelas 6. Anak-anak seusia mereka bisa dibilang lagi aktif-aktifnya. Usia di mana mereka sedang susah-susahnya diatur, setidaknya jika dibandingkan dengan usia di bawahnya yang masih cenderung lebih gampang diatur.

Sejujurnya, saya masih sangat kewalahan untuk mengendalikan suasana. Padahal jumlah yang ikut belajar sore itu lebih sedikit daripada minggu sebelumnya. Mereka masih sering mengobrol dan tidak memperhatikan ketika saya sedang menjelaskan. Saya pun pernah seusia mereka. Dulu saya juga kerap tidak memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan. Saya tidak seharusnya menyalahkan mereka atau menganggapnya sebagai karma. Bisa jadi gaya mengajar sayalah yang membosankan sehingga membuat mereka kurang tertarik untuk memperhatikan pelajaran.

Di balik itu ada pelajaran berharga yang saya dapatkan dari mereka. Mendidik, lebih dari sekadar mengajar, anak itu tidaklah mudah. Sepertinya mendidik anak tak semudah membuatnya. Hal yang paling penting dari sebuah pendidikan adalah teladan. Inilah PR terbesar saya saat ini. Saya merasa belum bisa menjadi teladan untuk anak-anak saya kelak. Karena itu, saya merasa belum siap untuk mempunyai anak. Tentu saja selain karena memang belum ada calon ibunya. Banyak PR yang harus saya kerjakan dan banyak hal yang harus saya persiapkan.

Saya sangat berterima kasih untuk teman-teman kecil saya di Rumba yang secara tidak langsung justru merekalah yang lebih banyak mengajarkan berbagai hal kepada saya daripada apa yang saya ajarkan untuk mereka. Tetapi meskipun kita punya banyak kekurangan, jangan sampai hal itu menjadi penghalan kita untuk terus berkarya. Lebih baik punya banyak kekurangan tapi apa yang kita punya bisa dimanfaatkan secara maksimal, daripada kita punya banyak tapi tidak pernah dimanfaatkan.

2 komentar

  1. My bad... kesalahan saya karena telat membentuk learning atmosphere di kelas kita... seharusnya RULES yang dibuat berdasarkan HOPES and DREAMS nya anak dibuat saat kita pertama masuk ke sekolah... sehingga anak anak tahu ekspektasi dari pengajar bahwasanya mereka diharapkan untuk bisa mendengarkan para pengajar... atau bahwa mereka diharapkan dapat mendengarkan ketika orang lain sdg berbicara...

    Thanks for the support... mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik lagi ya Kak... cheers

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu bukan kesalahan, Mba.

      Iya, sama-sama. Saya juga senang bisa ikut bergabung. Banyak yang bisa saya pelajari di RUmba Pulogebang.

      Belajar adalah tugas seumur hidup. Kita tidak diwajibkan untuk menjadi sempurna tetapi untuk terus belajar agar bisa menjadi semakin baik lagi. :)

      Hapus