Kembali Bersumpah

Muhamad Rahmat // Minggu, 20 Oktober 2013


Siang itu, halaman belakang Gedung Indonesische Clibgebouw cukup ramai, tampak anak-anak Paskibra sedang berlatih. Seminggu lagi kita akan memperingati Hari Sumpah Pemuda. Gedung Indonesische Clibgebouw tidak dapat dipisahkan dari peristiwa Sumpah Pemuda. Gedung di Jalan Kramat 106 ini dulunya merupakan pondokan pelajar. Selain itu, gedung ini juga pernah difungsikan sebagai tempat latihan kesenian, diskusi politik, dan kongres.

Selain Gedung Katholieke Jongenlingen dan Oost Java Bioscoop, Gedung Indonesische Clibgebouw juga menjadi tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda II pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928. Kemudian gedung ini dijadikan sebagai pusat pergerakan mahasiswa hingga tahun 1934. Setelah itu, gedung ini beberapa kali beralih fungsi dari mulai sebagai rumah tinggal, toko bunga, hotel, markas pemuda pejuang, sampai dengan sebagai kantor Jawatan Bea dan Cukai (sekarang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan).

Kongres Pemuda II menghasilkan Trilogi Pemuda: Satu TANAH AIR, Satu BANGSA, Satu BAHASA: INDONESIA. Selain itu, juga ditetapkan Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Supratman sebagai lagu kebangsaan. Oleh karena itu, rasanya pantas jika Sumpah Pemuda dianggap sebagai bukti otentik lahirnya bangsa Indonesia. Dan sudah semestinya kita memperingatinya sebagai hari lahir bangsa Indonesia sebelum kemerdekaannya diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Dengan tercapainya kesepakatan yang tertuang dalam Putusan Kongres Pemuda II, pergerakan pemuda Indonesia semakin menemukan arah yang jelas dalam perjuangan meraih kemerdekaan. Pemuda selalu berada di garda terdepan pejalanan sejarah bangsa ini. Sebagai seorang pemuda, jika saya diminta untuk menuliskan tiga sumpah yang paling penting untuk Indonesia yang lebih baik, maka yang akan saya tulis adalah:

Pertama: KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH AIR INDONESIA.

Ke dua: KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA.

Ke tiga: KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Betul, sumpah yang sama seperti yang diucapkan pemuda Indonesia pada tahun 1928. Memang zaman sudah berubah dan cara perjuangannya pun berbeda. Tapi sumpah itu tidak akan pernah usang. Saat ini, yang lebih penting bukanlah merekonstruksi teksnya, tetapi merekonstruksi semangat yang ada dalam Sumpah Pemuda. Karena teksnya tidak akan pernah usang, dan semangatnya tidak akan pernah padam.

Semangat tersebut misalnya ketika di era globalisasi seperti saat ini, banyak tuntutan yang harus dijawab oleh generasi muda. Seperti apa yang pernah dikemukakan oleh Anies Baswedan, kita tidak lagi harus menangkis kekuatan asing tetapi harus berpikir bagaimana mewarnai dunia. Sumpah ke tiga adalah tentang Bahasa Indonesia. Sementara itu, untuk mewarnai dunia mau tidak mau kita harus menguasai dan menggunakan bahasa asing. Namun, bukan berarti menggunakan bahasa asing adalah salah. Kita tidak boleh menerjemahkannya mentah-mentah. Memang menguasai dan mengunakan bahasa Indonesia itu sangat baik, tapi bukan berarti menggunakan bahasa asing adalah salah.

Pun ketika tanah air dan bangsa kita sedang dililit persoalan korupsi. Sebenarnya, jika kita menghayati Sumpah Pemuda, semangat anti korupsi itu sudah ada di dalamnya. Jika kita sudah benar-benar mengaku bertumpah darah dan berbangsa yang satu niscaya kita tidak akan melakukan korupsi. Korupsi adalah persoalan pemuda sejak lama. Bedanya, pemuda jaman tahun 1920-an sudah selesai dengan dirinya dan hanya memikirkan bangsanya. Itulah yang harus kita hayati dari Sumpah Pemuda.

2 komentar

  1. Dear Vloggers,
    Tolong kirim data-data berikut untuk kelengkapan lomba

    blog Neo Sumpah Pemuda, dan kirim ke rizal.maulana

    [at]viva.co.id
    dengan di beri subjek "Neo Sumpah Pemuda"
    Username VIVAlog, Judul Blog, Link Blog, Nama

    Lengkap, Alamat, No Telp.
    Trims.

    BalasHapus