Alumni STAN Jadi Dirut BUMN Termuda

Muhamad Rahmat // Kamis, 21 November 2013


Beberapa hari belakangan ini, banyak hal yang cukup menguras pikiran, tenaga, dan waktu saya sehingga pulang kerja kemarin saya langsung terkapar di atas tempat tidur. Memang akhir pekan pun saya memilih untuk wara-wiri ke sana ke mari mencari hal-hal baru. Seorang teman pernah bertanya, "Emang ga capek?" Saya pun hanya bisa menjawab, “Kalau ga mau capek, mending ga usah ngapa-ngapain.”

Itu pilihan yang sudah saya ambil dan saya sudah harus siap dengan segala konsekuensi yang akan ada. Sebenarnya yang paling terkuras bukanlah tenaga atau waktu saya, melainkan pikiran saya. Padahal, hal-hal yang menguras pikiran saya tersebut kadang cuma hal-hal sepele yang sering tidak material, bahkan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Pagi tadi seorang teman memberi tautan sebuah artikel berita berjudul "Dahlan Tunjuk Wanita 28 Tahun sebagai Direktur BUMN". Bagai sambaran petir di siang bolong, artikel tersebut ibarat cambukan yang membangunkan semangat saya yang sudah lama terlelap. Wanita 28 tahun tersebut bernama Lailly Prihatiningtyas, senior saya di STAN.


Selain sehari-hari bekerja sebagai PNS, ternyata Lailly Prihatiningtyas juga aktif di Indonesia Menyala, gerakan membaca dari Indonesia Mengajar. Tyas, begitu panggilan akrabnya, juga pernah menjadi relawan Kelas Inspirasi dan panitia Festival Gerakan Indonesia Mengajar. Selain itu, dia juga seorang blogger yang awalnya aktif menulis WordPress tetapi kemudian hijrah ke Tumblr.

Sebelum ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), Lailly Prihatiningtyas menjabat sebagai Kepala Subdivisi di Kementerian BUMN. Menurut cerita teman saya waktu di Bapepam-LK, dalam forum rapat pun sangat terlihat kecerdasannya. Meski masih muda, dia tidak segan untuk ikut mengemukakan pendapatnya, apalagi jika membahas soal PSAK.

Saya jadi teringat wejangan Surayah, Pidi Baiq, "Ya itu dia, ketika kamu sibuk berpikir mencari inspirasi, orang lain justru sedang berkarya tanpa banyak pikiran." Ketika saya masih berkutat dengan hal-hal sepele yang tidak semestinya dipedulikan, orang lain justru sedang berkarya untuk negerinya. Sudah saatnya saya move on, karena berhenti mengeluh dan berkata-kata penuh semangat saja belum cukup.


"Ingat satu hal, perjuangan dan resiko selalu sebanding dengan hasil. To leave your comfort zone is an investment for life. Go get your dream!" kata Marischka Prudence. Saya juga ingat nasehat sahabat-sahabat saya ketika saya sedang terpuruk, "Sabar, Mat. Kamu masih muda. Jalanmu masih panjang. Di luar sana masih banyak kesempatan."

Selamat untuk Mba Tyas dan see you on top.

4 komentar

  1. Wah, barusan baca beritanya tapi ternyata udah beberapa hari yg lalu ya.. hehe

    Oh ya, salam kenal mas.. Pengunjung baru :)

    BalasHapus
  2. Jadi malu kalo liat Mba Tyas yang 28 tahun udah bisa begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anggap aja "cambukan" agar kita bisa mengikuti jejaknya. :D

      Hapus