Belajar dari Anak-anak di Girli

Muhamad Rahmat // Senin, 18 November 2013


Sabtu kemarin, saat fajar tiba, saya berangkat ke stasiun. Saya bermaksud pergi ke Depok untuk memenuhi janji ikut berenang dan bermain air di Girli. Namanya memang terdengar manis. Saya juga awalnya mengira Girli adalah “Girly” yang dilafalkan dengan lidah Sunda. Ternyata bukan, Girli merupakan singkatan dari Pinggir Kali. PAUD Inklusi Bintang Bangsaku memang terletak di pinggir Kali Ciliwung, itulah kenapa warga Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Kelapa Dua, Depok, lebih mengenalnya dengan nama Girli.

Girli adalah sekolah kecil yang bercita-cita besar. Bukan menjadi besar dengan tolok ukur jumlah peserta didik, melainkan menjadi besar dengan mewujudkan visi melalui karya nyata, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Setibanya di Girli saya disambut oleh ibu-ibu yang sedang bersiap. Anak-anak dari kelompok yang mendapat jadwal berenang pertama pun mulai berdatangan dan semakin menghangatkan suasana Girli yang masih tertutup awan mendung. Tidak berapa lama, ibu-ibu dan kakak-kakak pembimbing mulai mengajak anak-anak bernyanyi.

Aku jadi pohon
Aku jadi rumah
Aku bisa terbang
Aku duduk rapi

Di hutan ada rumah
Didiami pelanduk
Datang seekor kelinci
Mengetuk pintu (tok tok tok)

Pelanduk-pelanduk tolonglah
Aku mau ditembak
Kelinci-kelinci masuklah
Silakan duduk

Seraya bernyanyi dan menari anak-anak terpancing untuk duduk rapi, tanpa ada ajakan apalagi perintah untuk duduk rapi. Setelah duduk rapi mereka pun berdoa, "Tuhan, bimbinglah kami dalam bermain dan belajar pada hari ini. Amin."

Ini kali pertama saya bermain dengan anak-anak usia prasekolah. Di Rumah Baca Pulogebang pun saya hanya berinteraksi dengan anak-anak usia SD, hanya ada satu-dua anak seusia anak-anak di Girli. Awalnya saya kebingungan untuk mengikuti kegiatan di Girli. Tetapi semangat dan keceriaan mereka berhasil memecahkan kebingungan saya.

Sebelum berenang, anak-anak melakukan penanasan terlebih dulu. Satu kelompok yang terdiri dari sekitar sepuluh orang anak dibagi dua, anak yang berenang dulu, ada yang bermain bola dulu. Tugas saya pagi itu adalah ikut menemani anak-anak bemain bola sambil menunggu giliran berenang. Mereka pun bisa bersabar untuk menunggu gilirannya, meski dari binar matanya saya melihat mereka sangat ingin untuk segera menceburkan diri ke kolam renang.


Setelah 30 menit mereka pun bergantian. Anak-anak yang sudah selesai berenang kemudian bermain bola untuk menghangatkan badan sembari menunggu temannya yang masih berenang. Setelah semuanya selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Setelah kelompok pertama selesai, kelompok ke dua tiba di Girli dan acara bermain dan berenang pun terus berlanjut secara bergantian dengan tertib hingga kelompok terakhir.

Rhenal Kasali pernah menulis tentang usia emas (usia 3 s.d. 6 tahun). Menurutnya, usia emas ini sangat bagus untuk memupuk rasa percaya diri dan kemampuan bergerak yang tersimpan dalam syaraf-syaraf motorik seorang anak. Bukan IQ atau IPK akan membuat seorang anak tumbuh menjadi menjadi penerus yang hebat. IQ dan IPK merupakan potensi belaka, yang baru menjadi sesuatu jika anak tersebut mampu bergerak mendatangi pintu masa depannya.

Para ahli pendidikan percaya bahwa generasi yang lebih baik tidak dibentuk oleh kemampuan Calistung seperti yang digusarkan sebagian besar orang tua belakangan ini. Mereka sukses justru oleh life skills yang ditanam sejak prasekolah. Generasi yang lebih baik menjalani sekolah dengan keterampilan hidup seperti mengelola rasa frustasi, kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, mengambil keputusan, dan seterusnya. Keterampilan hidup ini merupakan modal penting untuk menembus pintu masa depannya. Namun, dewasa ini untuk masuk SD pun seorang anak harus mengikuti seleksi Calistung.

Sayangnya, usia prasekolah yang merupakan usia emas ini tidak dapat dinikmati kalangan prasejahtera yang sejak reformasi jumlahnya bertahan sekitar 31 juta jiwa. Anak-anak yang dibesarkan di kelompok prasejahtera jarang menikmati pendidikan prasekolah yang baik. Kalau pun bersekolah, mereka langsung masuk  ke jenjang SD sehingga kurang memiliki rasa percaya diri. Di sinilah peran pendidikan inklusi dibutuhkan.

Pendidikan inklusi adalah sebuah konsep pendidikan yang memberikan layanan kepada setiap anak tanpa terkecuali. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa, dan sebagainya. Semua anak belajar bersama-sama, baik di kelas atau sekolah formal maupun nonformal yang ada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

Di Girli, saya mendapat banyak pelajaran berharga. Di antaranya adalah tentang bagaimana mendidik anak. Kita tidak akan bisa mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut. Anak di Girli tidak dididik dengan sejuta tekanan dan beribu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan buku rapor.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Tetapi di lain pihak juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengecil atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semuanya sangat tergantung tergantung kepada ancaman atau dukungan yang didapat dari orang-orang di sekitarnya.


Masih banyak sekali hal yang saya pelajari dari teman-teman kecil saya di Girli yang tidak bisa saya ceritakan semuanya di sini. Sebagai orang yang merasa dewasa, sering saya merasa terlalu khawatir dan takut tentang banyak hal diluar kendali sehingga kesenangan dan keindahan hidup menjadi terabaikan. Terima kasih untuk ibu-ibu dan kakak-kakak pembimbing di Girli yang sudah memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk bisa ikut belajar dan bermain di Girli.

We don’t stop playing because we grow old. We grow old because we stop playing.” -Unknown

____________________
Galeri foto: Berenang di Girli

0 komentar