From STANers with Love: Sebuah Pleidoi

Muhamad Rahmat // Sabtu, 10 Januari 2015


Arman Dhani mengutuki 2014 sebagai tahun biadab karena telah mengubah banyak hubungan baik menjadi pertikaian sengit. Pemilu tahun lalu mengajarkan bahwa fanatisme buta, apapun itu, hanya akan membuat seorang manusia menjadi semakin konyol. Namun, ada yang lebih mengerikan lagi. Di awal 2015 ini kita bisa melihat bahwa untuk membela seseorang atau sesuatu yang kita anggap benar, sebagian dari kita berani melakukan apapun untuk menjatuhkan lawan, termasuk menyebarkan informasi yang dhaif. Semakin gampang saja mulut ini memaki orang lain sebagai komunis, kafir, anak haram, antek asing, koruptor, dan sebagainya hanya berdasarkan potongan informasi yang enggan kita verifikasi kebenarannya.

Mulanya, saya acuh terhadap isi artikel Strategi Presiden Jokowi Berantas Mafia Pajak Setelah Mafia Migas di Kompasiana. Artikel itu ditulis Ninoy N Karundeng. “Ah, nyinyir doang.” gumam saya. Tapi melihat beberapa teman yang dibuat naik pitam olehnya, saya terkenang nasihat dari Eldridge Cleaver, “If you are not a part of the solution, you are a part of the problem.” dan merasa memiliki kewajiban moral untuk ikut menyampaikan persepsi saya tentang artikel ini. 

Baru kali pertama ini saya mendengar nama Ninoy N Karundeng. Setelah googling namanya di Yahoo dan menemukan artikel-artikel lain yang ditulisnya, saya mendapat pencerahan tentang sosoknya. Dia adalah Kompasianer yang memproklamasikan dirinya sebagai Wakil Presiden Penyair Indonesia dan filsuf penemu konsep "I am the mother of words (saya induk kata-kata). Entah bagaimana konsepnya, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Jika disandingkan dengan nama besarnya, saya hanyalah butiran debu. Terang saja, sejak membuat akun Kompasiana pada 17 November 2012, tidak ada satu pun artikel yang saya unggah. Sementara dia sudah menulis 2379 artikel di Kompasiana.

Ketika membaca artikel itu saya gagal paham soal strategi melawan mafia pajak dengan hati riang gembira ria bahagia hasil penelaahan Ninoy N Karundeng. Yang ada, dia hanya bercerita tentang beberapa kasus korupsi pajak dan melontarkan beberapa tuduhan yang tidak disertai dengan bukti otentik. Di beberapa paragraf dia menuliskan kalimat-kalimat minor tentang STAN yang membuat beberapa orang anak STAN salah hati. Tapi saya tidak heran. Sebelum STAN, Ninoy N Karundeng pernah menulis paragraf-paragraf miring tentang oknum-oknum yang mencoreng nama baik kampus UGM, UI, dan ITB

Reformasi yang lama digulirkan oleh Menkeu Sri Mulyani dulu dengan menggaji pegawai kementerian keuangan gagal total. Gaji yang tinggi tidak menghalangi pegawai pajak untuk berhenti korupsi. Sejak masuk sekolah pajak dan STAN yang diucapkan ‘setan’, dari sinilah awal belajar korupsi. Untuk masuk sekolah ke STAN diyakini sangat sulit. Yang paling banyak diterima adalah yang terkoneksi dengan para koruptor atau alumni. Cita-cita, dulu sebelum ada OJK, lulusan STAN akan masuk ke BI dengan take home pay sebesar Rp 30,000,000. Para lulusan STAN ini saling belajar dengan para seniornya–untuk melakukan korupsi.

Saya tidak tahu alasan Ninoy N Karundeng menganggap untuk masuk ke STAN sangat sulit. Karena masuk ke STAN itu sangatlah mudah. Untuk bisa diterima di STAN tidak perlu memiliki koneksi dengan pejabat di Kementerian Keuangan. Juga tidak perlu menyediakan duit ratusan juta rupiah, cukup beberapa lembar rupiah saja untuk membeli formulir pendaftarannya. Bagi mantan siswa tidak berprestasi seperti saya, Ujian Saringan Masuk masuk STAN lebih mudah jika dibandingkan dengan SNMPTN.

Memang benar ada beberapa lulusan STAN yang masuk ke BI. Ini adalah pernyataan paling ambigu dari Ninoy N Karundeng. Karena justru itu adalah bukti bahwa kualitas lulusan STAN bisa diterima di institusi manapun, termasuk institusi sekaliber BI. Jika melihat angka statistik, jumlah lulusan STAN yang masuk ke KPK masih lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah yang masuk ke BI. Bahkan beberapa nama pernah bercokol di jajaran Pimpinan KPK. Ini juga merupakan bukti bahwa KPK saja tidak meragukan kualitas dan integritasnya.

Sepertinya Ninoy N Karundeng memang kurang piknik. Karena itu, jika berkenan saya ingin mengajaknya piknik ke kampus STAN. Terutama pada saat diadakan ujian agar dia tahu bagaimana suasana di ruangan ujian. Sejauh ini, selain kampus STAN, saya belum pernah mendengar ada kampus lain yang langsung memecat mahasiswanya yang tertangkap basah mencontek pada saat ujian. Itu hanya salah satu contoh bagaimana STAN mengajarkan integritas kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Kata-kata umpatan dan tuduhan seperti yang dituliskan Ninoy N Karundeng banyak bertebaran di media sosial, termasuk di blog seperti Kompasiana. Media sosial menjadi tempat yang nyaman untuk mengekspresikan apapun. Seolah banyak yang lupa jika media sosial bukan merupakan ruang privat, melainkan ruang publik. Meski kita menulis artikel blog sendirian di dalam kamar, banyak orang lain yang bisa membacanya.

Akan muncul malapetaka yang menjerumuskan kita ke berbagai persoalan sosial ketika kita bertingkah seolah media sosial adalah ruang privat. Ketika kita lupa bahwa media sosial adalah ruang publik, tidak mustahil akan ada orang yang menghujat kita. Lebih jauh lagi, tidak mustahil jika sampai ada yang menyeret ke ranah hukum pidana dan menuntut kita dengan Pasal 27 UU ITE. Sudah banyak contohnya.

Karena media sosial adalah ruang publik, maka sudah selayaknya jika kita bertingkah laku seperti sedang berada di ruang publik. Untuk hal yang biasa-biasa saja tidak masalah jika secara spontan kita menulis dan mengunggahnya di blog. Tapi jika hal itu berpotensi menyinggung individu atau kelompok lain, sebaiknya kita berpikir ulang sebelum melansirnya ke ruang publik agar kita tidak menuduh individu atau kelompok lain tanpa didampingi bukti dan data yang sahih. Jika tidak, bisa-bisa kita dipaksa masuk hotel prodeo karena dianggap melakukan pencemaran nama baik.

Saya tidak mengunggah artikel ini di Kompasiana karena takut menjadi Trending Topic. Ninoy N Karundeng pernah menulis cara agar artikel (Kompasiana) menjadi menjadi Trending Topic, yaitu dengan menyebut namanya tiga kali. Hanya tiga kali. Sementara saya menyebutnya lebih dari tiga kali. Tidak hanya menjadi menjadi Trending Topic, bahkan menjadi Highligt di Kompasiana. Tidak perlu membuang waktu dengan melaporkan artikel Ninoy N Karundeng di Kompasiana. Belum tentu admin mendengarnya. Admin Kompasiana juga perlu memelihara artikel-artikel populer dan sesasional demi menuai pundi-pundi traffic.

0 komentar