fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Robot-robot Banal di Bawah Lindungan Kapitalisme


WALL·E adalah lakon dari sebuah film dengan judul yang sama tentang bumi yang sudah tidak layak dihuni karena sudah terlalu banyak sampah. Dibuatlah WALL·E sebagai robot pengepak sampah. Manusia meninggalkan bumi dan hidup di satu koloni antariksa bernama Axiom. Semua aspek kehidupan manusia, termasuk ekonomi, pemerintahan, dan keamanan, dikuasai sebuah perusahaan raksasa bernama Buy ‘n Large (BnL). 

Mulanya, manusia direncanakan hanya akan tinggal di Axiom selama lima tahun–waktu yang dibutuhkan WALL·E untuk membersihkan semua sampah di bumi. Namun, pada akhirnya bumi dinyatakan terlalu berbahaya untuk ditinggali dan manusia tetap tinggal di Axiom hingga tujuh abad lamanya. Manusia yang hidup di Axiom menjadi gemuk dan malas. Semua aktivitas dibantu robot dan manusia hanyaberdiam di atas kursi atau tempat tidur. Ototnya tidak lagi dapat bekerja sesuai fungsinya. Jangankan berjalan, berdiri saja sulit. 

Membuat robot secerdas manusia seperti dalam film WALL·E bukan hal yang mustahil. "AI (Artificial Intelligence) itu tertanam dalam kehidupan kita sehari-hari. Mereka digunakan dalam sistem kedokteran, hukum, dalam desain hingga industri otomotif," tutur Neil Jacobstein. Co-chairs the Artificial Intelligence and Robotics Track di Singularity University ini juga memprediksi bahwa robot cerdas seperti itu akan menguasai dunia pada pertengahan tahun 2020. Itu berarti semua pekerjaan yang tadinya dikerjakan oleh manusia nantinya dapat digantikan oleh robot.

Pernyataan tersebut dikuatkan dengan rencana Foxconn Technology, anak perusahaan Hon Hai Precision dan merupakan perusahaan manufaktur terbesar di dunia berdasarkan pendapatannya, berencana menggunakan robot dan dilaporkan akan menghasilkan satu juta robot dalam waktu tiga tahun dari jumlah yang ada sekarang yakni sepuluh ribu robot. Di Indonesia, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), mengancam akan mengganti semua tenaga buruh dengan tenaga mesin (robot). Ini merupakan reaksi dari seringnya buruh melakukan demonstrasi.

Namun, dilihat dari kaca mata keekonomian, ancaman Apindo tersebut belum tentu akan menguntungkan pengusaha, terlebih lagi buruh. Sederhananya dapat dilihat menggunakan model penawaran dan permintaan. Model ini digunakan untuk menentukan harga dan kuantitas yang terjual di pasar dan sangat penting untuk melakukan analisis ekonomi mikro terhadap perilaku serta interaksi antara penjual dan pembeli. 

Model penawaran dan permintaan memperkirakan bahwa dalam suatu pasar yang kompetitif, harga akan berfungsi sebagai penyeimbang antara kuantitas yang diminta oleh konsumen dan kuantitas yang ditawarkan oleh produsen, sehingga terciptalah keseimbangan ekonomi antara harga dan kuantitas. Model ini mengakomodasi kemungkian adanya faktor-faktor yang dapat mengubah keseimbangan ekonomi, yang kemudian akan ditampilkan dalam bentuk terjadinya pergeseran dari permintaan atau penawaran.

Jika tenaga buruh diganti dengan tenaga robot–tanpa pengurangan jam kerja dan/atau kenaikan upah– tentu akan menciptakan pengangguran dan menimbulkan instabilitas ekonomi dan sosial. Buruh yang menjadi pengangguran, yang populasinya merupakan bagian signifikan dalam aktivitas konsumsi, tidak akan lagi memiliki daya beli terhadap barang-barang konsumsi. Hal tersebut menjadi faktor yang dapat mengubah keseimbangan ekonomi karena jumlah produksi barang dan jasa tidak sebanding dengan daya beli masyarakat. Pada akhirnya, banyak barang hasil produksi yang tidak terjual. Akibatnya, satu per satu kegiatan produksi akan gulung tikar.

Mau tidak mau, pengusaha harus memilih salah satu dari dua pilihan: mengembalikan daya beli sebagian besar masyarakat dengan menaikkan gaji atau tetap bertahan sembari menunggu kehancuran. Sayangnya, pilihan-pilihan tersebut tidak serta-merta memperbaiki dan mengembalikan keseimbangan ekonomi. 

Keadaan ini mengingatkan kita pada film Capitalism: A Love Story karya sutradara spesialis film dokumenter, Michael Moore. Film ini merupakan sindiran ideologis terhadap kapitalisme sebagai sistem dominan yang telah menyebabkan resesi ekonomi global. “Ini (kapitalisme) merupakan sistem ekonomi yang tidak bisa bekerja, tidak fair, dan tidak demokratis. Kapitalisme adalah binatang buas. Ia tidak akan pernah berhenti. Ia memiliki hasrat yang tidak pernah kenyang untuk menciptakan uang.” ucapnya.

Bukan tidak mungkin, teknologi robot yang dilindungi kapitalisme akan menjadi ancaman bagi peradaban buruh umat manusia. Dan, sepertinya tidak hanya keseimbangan ekonomi yang akan diguncang oleh robot-robot banal itu.
Sosial 5933248209082194272

Posting Komentar Blogger Disqus

  1. Mudah2an bumi kita gak harus sampe butuh Wall-E hehhehhehhe.....agak serem soale..
    lama tak bersuoooo...
    jgn lupa mampir lagi yaaaaaaaa di blog eike Ca Ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, udah lama ga mampir ke blog Ca Ya. :D

      Hapus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping