fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Swasembada Energi


Tidak mudah untuk mengangkat cerita sebuah novel ke atas panggung layar lebar. Hampir selalu ada cerita yang terpaksa harus dipotong atau diimprovisasi. Novel Bidadari-bidadari Surga karangan Tere Liye misalnya. Dalam versi layar lebar, yang dirilis tahun 2012, penampilan Laisa bisa dibilang tidak sesempurna sosok yang hadir dalam imajinasi sebagian besar pembaca novel. Meski begitu, Nirina Zubir dianggap berhasil memerankan Laisa.

Begitu pula dengan kincir air yang dibangun Dalimunte. "Dalam versi novel, Dalimunte membangun kincir lima tingkat agar bisa menarik air hingga ke atas cadas. Namun, setelah konsultasi ke ahli sipil, ternyata mustahil melakukannya. Maka, dalam versi film, kincir airnya tetap satu, tapi Dalimunte merubahnya menjadi tenaga listrik. Kemudian listrik itu jadi sumber tenaga pompa air, mendorong air hingga ke cadas atas. Maka, kampung mereka yang sering kekeringan, jauh dari mata air, sekaligus memperoleh air dan listrik." kata si penulis, Darwis Tere Liye.

Kincir air yang dibangun Dalimunte mengingatkan saya pada kampung halaman. Saya lahir di kampung yang belum teraliri listrik. Semasa kecil saya masih mengalami menonton televisi yang energi listriknya bersumber dari aki. Bila akinya mati, saya menemani abah ke tukang strum aki. Di sana, aki akan kembali diisi. Bila aki sedang diisi, artinya kami harus libur menonton televisi. Untuk sumber penerangan, saat itu masih menggunakan lampu minyak tanah. Entah itu lampu petromak, maupun lampu teplok biasa.

Jaringan listrik PLN baru masuk ke kampung saya pada pertengahan tahun 1990-an. Sebelum listrik masuk di rumah saya sebetulnya sudah ada rangkaian kabel listrik yang terhubung ke beberapa buah saklar dan dudukan atau fitting lampu. Ternyata, sebelum saya lahir, di kampung saya pernah ada kincir air pembangkit listrik. Kincir air itu digerakkan arus air terjun yang tidak terlalu besar, sehingga daya yang dihasilkan pun hanya mampu menerangi beberapa rumah saja. Sampai sekarang, saya belum sempat menanyakan kenapa PLTA mini tersebut tidak mampu bertahan lama.

Saat ini, hampir tidak ada peranti yang tidak memerlukan energi listrik. Listrik karena itu bisa menjadi persoalan yang cukup pelik dan bisa membuat kepala pening. Presiden Jokowi saja pernah dibikin pening karena program listrik 35 ribu megawatt yang tersendat. Sementara itu, di belahan bumi lain, sebagaimana diberitakan tirto.id, seorang Elon Musk sudah memproduksi genting yang dilengkapi panel surya penghasil energi listrik.

Pria yang dijuluki “the real iron man” ini menawarkan solusi krisis energi listrik yang ramah lingkungan. Tesla mengklaim genting itu lebih kuat dibandingkan dengan genting pada umumnya. Panelnya menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik yang kemudian disimpan dalam Powerwall 2 (baterai litium-ion 14-kWh) untuk kemudian dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.

Menurut CEO Tesla ini, genting suryanya mampu menyediakan pasokan listrik yang memadai untuk kebutuhan rumah. Bahkan dapat diintegrasikan untuk memenuhi kebutuhan energi mobil listrik. Hal ini dinilai dapat mengurangi kebutuhan manusia terhadap penggunaan listrik secara konvensional atau energi dari fosil.

Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, yang terjadi sejak tahun 1970-an mendapat perhatian yang cukup besar dari banyak negara di dunia. Selain jumlahnya yang tidak terbatas, pemanfaatan energi matahari juga tidak menimbulkan polusi yang dapat merusak lingkungan. Cahaya atau sinar matahari dapat dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan teknologi sel surya atau fotovoltaik.

Komponen utama sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan menggunakan teknologi fotovoltaik adalah sel surya. Saat ini terdapat banyak teknologi pembuatan sel surya. Sel surya konvensional yang sudah komersil saat ini menggunakan teknologi wafer silikon kristalin yang proses produksinya cukup kompleks dan mahal.

Secara umum, pembuatan sel surya konvensional diawali dengan proses pemurnian silika untuk menghasilkan silika solar grade (ingot), dilanjutkan dengan pemotongan silika menjadi wafer silika. Selanjutnya wafer silika diproses menjadi sel surya, kemudian sel-sel surya disusun membentuk modul surya. Tahap terakhir adalah mengintegrasi modul surya dengan BOS (Balance of System) menjadi sistem  PLTS.

Indonesia adalah negara yang disinari matahari sepanjang tahu, sehingga memiliki potensi energi matahari yang cukup besar. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, potensi energi surya di Indonesia sangat besar yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp dengan pemanfaatan baru sekitar 10 MWp. Saat ini pemerintah telah mengeluarkan roadmap pemanfaatan energi surya yang menargetkan kapasitas PLTS terpasang hingga tahun 2025 adalah sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun. Jumlah ini merupakan gambaran potensi pasar yang cukup besar dalam pengembangan energi surya di masa datang.

Kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE akan memberikan 100.000 unit panel surya (solar home system/SHS) kepada 400.000 rumah tangga di daerah yang belum teraliri listrik. Rasio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 55-60 % dan hampir seluruh daerah yang belum dialiri listrik adalah daerah pedesaan yang jauh dari pusat pembangkit listrik, maka PLTS yang dapat dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif sangat tepat untuk dikembangkan.

Dirjen EBTKE Rida Mulyana mengatakan pembagian tersebut direncanakan menggunakan dalam APBN mulai tahun 2017 ini dan kemudian dilanjutkan tahun depan. "Tahun ini kita akan memulai nya dan dilanjutkan tahun depan mudah- mudahan nantinya bisa seluruh desa karena masih 2500 desa yang belum terlistriki," jelasnya saat membuka Sosialisasi Program Pengampunan Pajak (Tax Amnesti) Wajib Pajak pada Subsektor EBTKE di Jakarta, Rabu, 18 Januari 2017.
#15HariCeritaEnergi 5015351952448997186

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping