zORB44u1Y5Szogk9hvRg5anbZDydcDDjseaSpgOw

Paturay Tineung

 

Paturay tineung, dua kata dalam Bahasa Sunda yang hari ini terasa berat untuk diucapkan.

Paturay artinya berpisah. Tineung adalah kenangan, rasa yang tertinggal di hati. Paturay tineung bukan sekadar tentang perpisahan, tetapi tentang kebersamaan yang pernah begitu nyata, yang perlahan berubah menjadi kenangan.

Hal yang paling berat dari sebuah perpisahan bukanlah melangkahkan kaki untuk pergi, melainkan menyadari bahwa ada hari-hari yang tidak akan pernah bisa terulangi lagi. Bagi seorang ASN, SK mutasi adalah sebuah keniscayaan. Ia datang membawa kabar tentang sebuah awal. Namun, di saat yang sama, ia juga mengantarkan kita menuju sebuah akhir.

Selama di BPDP, saya beberapa kali menerima SK mutasi internal. Salah satunya ketika saya mendapat amanah untuk berpindah dari LKCS ke SPI. Saya masih ingat betul hari itu.

Saat menerima SK, saya sedang di luar kantor. Begitu kembali, saya langsung menghadap Bu Aida, Kadiv LKCS.

Ia kemudian bertanya, “Gimana perasaanmu, Mas?”

Saya menjawab, “Biasa saja, Bu.”

Hanya dua kata.

Saya masih ingat perubahan ekspresinya mendengar jawaban saya yang datar itu. Bagi orang lain, jawaban itu mungkin terdengar seperti saya tidak punya perasaan. Padahal, mungkin justru sebaliknya. Saya hanya sedang belajar menyembunyikan rasa agar keputusan yang berada di luar kendali saya tidak ikut mengendalikan diri saya.

Sejujurnya, sampai sekarang saya menyesali jawaban itu. Bahkan, ketika saya menceritakan kejadian tersebut kepada istri, saya kena tegur.

“Kenapa jawabnya begitu?” katanya.

Saat itulah saya baru sadar, mungkin memang ada perasaan yang tidak pernah berhasil saya terjemahkan ke dalam kata-kata. Sejatinya, “biasa saja” bukan berarti saya tidak sedih. Saya hanya sedang berusaha untuk tidak dikuasai oleh kesedihan. Saat itu saya sedang mencoba menjalani apa yang saya kenal sebagai laku Stoik: dikotomi kendali.

Sederhananya, dikotomi kendali mengajarkan bahwa dalam hidup ada hal-hal yang dapat kita kendalikan dan ada yang tidak. Pikiran, sikap, pilihan, dan tindakan adalah wilayah kita. Tetapi keputusan orang lain, keadaan, hasil akhir, dan ke mana hidup membawa kita, bukan sepenuhnya milik kita.

Bagi saya, SK mutasi adalah sesuatu yang tidak berada dalam kendali saya. Karena itu, saya berpikir untuk tidak membiarkan selembar kertas menentukan apakah saya harus bahagia atau kecewa. Namun, seiring bertambahnya umur, semakin saya sadar bahwa memahami sesuatu dengan pikiran jauh lebih mudah daripada menjalaninya dengan hati. Sebab, hati manusia tidak sesederhana aliran filsafat.

Tiga tahun terakhir dalam karier saya merupakan masa dengan beban moral yang mungkin paling berat. Saya yang merasa diri sendiri masih jauh dari kata baik, tiba-tiba harus memikul amanah untuk ikut membuat BPDP jadi lebih baik lagi.

Yang lebih berat lagi, sering kali saya harus berhadapan dengan orang-orang yang saya kenal. Teman sendiri. Orang yang mungkin pagi harinya masih bercanda dengan saya, makan siang bersama, satu lift bersama, lalu beberapa hari kemudian harus saya datangi untuk mengungkap kekurangannya.

Dan, percayalah, itu tidak pernah mudah.

Ada malam-malam ketika saya tidak bisa tidur. Saya berpikir, mana yang harus saya dahulukan? Menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab saya, atau menjaga hubungan baik dengan teman? Apa pun yang saya pilih, tentu ada konsekuensinya.

Pak Hari, Kepala SPI saat itu, bahkan pernah berkelakar kepada saya, “Jangan-jangan mereka yang kita tegur itu nanti di akhirat malah gembira di surga, sementara kita yang sok-sokan mengingatkan malah tenggelam di neraka ya, Met.”

Kami pun tertawa mendengarnya. Di balik candaan itu, ada sesuatu yang saya rasa sangat nyata: menjadi auditor internal kadang berarti bersedia berada di posisi yang tidak nyaman.

Ketika pertama kali masuk SPI, para sesepuh internal audit pernah mengingatkan saya, “Risiko menjadi auditor internal adalah kehilangan teman.”

Kemudian saya membuktikan sendiri kebenaran kalimat itu. Ada masa ketika kami berpapasan di lorong dan sama-sama bingung harus menyapa seperti apa. Ada saat ketika bertemu di dalam lift, beberapa detik terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Padahal tidak ada permusuhan. Tidak ada kebencian. Mungkin hanya ada rasa tidak nyaman karena saya pernah menyampaikan sesuatu yang tidak ingin didengar.

Pada akhirnya, saya belajar menerima bahwa mungkin itulah harga dari sebuah amanah. Ada pekerjaan yang membuat kita disukai. Tetapi ada juga pekerjaan yang mengharuskan kita tetap berjalan meskipun tidak disukai.

Saya mencoba menganggap semua itu sebagai risiko pekerjaan. Bukan karena saya tidak punya perasaan, tetapi justru karena saya punya perasaan. Setiap teguran, setiap catatan, setiap temuan, dan setiap perdebatan itu sering kali terus berputar di kepala. Saya membawanya pulang.

Perjalanan saya sebagai ASN berawal dari sebuah permintaan sederhana almarhum Bapa. Waktu itu, ia meminta saya pindah kuliah ke kampus kedinasan.

Selama menjalani karier, saya beberapa kali hampir berhenti menjadi PNS. Bahkan pernah, SK pemberhentian saya dibatalkan pada hari kerja terakhir saya sebagai PNS. Saat itu, saya benar-benar patah hati pada negara. Sangat kecewa. Ada fase ketika saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang saya perjuangkan?

Mungkin, dari kekecewaan-kekecewaan itulah saya mulai belajar tentang Stoikisme. Belajar menerima apa yang tidak bisa saya ubah. Belajar berdamai dengan apa yang tidak bisa saya kendalikan. Namun, sampai hari ini pun saya belum bisa menjalankannya dengan kaffah. Saya masih bisa sedih. Saya masih bisa kecewa. Saya masih bisa berharap. Saya masih manusia yang punya perasaan.

Saya pun kemudian mencoba melihat perjalanan saya sebagai ASN dari sudut yang berbeda. Saya mulai menganggap bahwa mungkin perjalanan ini bukan semata-mata tentang saya. Mungkin ini adalah bagian dari upaya saya menjalankan sesuatu yang pernah diminta oleh almarhum Bapa.

Ada satu hal yang sampai sekarang sering muncul dalam pikiran saya. Saya kerap membayangkan, bagaimana kalau suatu hari Bapa datang ke kantor ini. Kemudian ia bertemu dengan pimpinan. Bertemu dengan teman-teman saya. Lalu ia bertanya, “Bagaimana si Rahmat di kantor?”

Saya akan malu kalau jawabannya buruk. Saya malu kalau ada orang yang bercerita bahwa saya tidak menjadi orang baik. Saya malu kalau ada yang mengingat saya karena ucapan atau perbuatan yang menyakitkan. Dan, saya akan jauh lebih malu kalau sampai Bapa menyesal karena dulu pernah meminta saya menjadi PNS.

Hari ini, setelah tiga tahun di SPI dan setelah melewati begitu banyak hal bersama di BPDP, saya sadar bahwa ternyata pekerjaan bukan hanya meninggalkan hasil. Ia meninggalkan hubungan. Ia meninggalkan cerita. Ia meninggalkan luka yang mungkin tidak sengaja kita toreh. Pun meninggalkan kebaikan yang mungkin tidak pernah kita sadari.

Selama bersama Bapak, Ibu, dan teman-teman semua, tentu ada begitu banyak cerita. Ada tawa. Ada kesibukan. Ada perjuangan. Ada perbedaan. Ada rasa kesal, mungkin. Ada juga hari-hari yang sederhana, tetapi ternyata kelak justru menjadi sesuatu yang paling kita rindukan.

Ada kalanya saya terlalu serius. Ada kalanya candaan saya kelewatan. Mungkin ada ucapan saya yang tidak pada tempatnya. Mungkin ada sikap saya yang tanpa saya sadari membuat seseorang tidak nyaman.

Untuk semua itu, hari ini saya ingin meminta maaf. Bukan sekadar karena ini adalah momen perpisahan. Tetapi karena saya sadar, dalam perjalanan selama ini, saya mungkin tidak selalu menjadi versi terbaik dari diri saya.

Saya mohon maaf.

Dan, terima kasih.

Terima kasih untuk semua orang yang pernah berjalan bersama saya. Terima kasih karena pernah menegur saya. Terima kasih karena pernah membantu saya. Terima kasih kepada yang pernah tidak setuju dengan saya. Karena semuanya, dengan caranya masing-masing, telah membuat saya menjadi manusia yang sedikit lebih baik.

Pada akhirnya, mungkin memang benar bahwa SK menentukan ke mana kita pergi. Tetapi SK tidak pernah bisa menentukan apa yang akan kita tinggalkan. Ia hanya lembaran kertas. Yang membuat sebuah perjalanan berarti adalah manusia-manusia yang kita temui di sepanjang jalan.

Hari ini saya tidak ingin mengingat BPDP hanya sebagai sebuah kantor. Saya ingin mengingatnya sebagai sebuah bagian dari hidup saya.

Tempat saya pernah belajar. Tempat saya pernah kecewa. Tempat saya pernah tertawa. Tempat saya pernah kehilangan teman. Tempat saya menemukan teman. Dan, tempat saya pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup orang lain.

Mungkin setelah hari ini kita tidak lagi bertemu sesering sekarang. Mungkin kursi kita akan berbeda. Ruang kita akan berbeda. Kesibukan kita akan berbeda. Tetapi saya berharap ada satu hal yang tidak ikut berpindah: kenangan baik tentang kita. Mungkin, itulah arti paturay tineung yang sesungguhnya.

Tidak semua perpisahan butuh penjelasan panjang. Kadang, ia hanya datang sebagai jarak yang perlahan membentang. Yang bisa kita lakukan hanyalah menerima, bahwa ada orang yang memang hanya ditakdirkan berjalan bersama kita pada sebagian perjalanan, lalu perlahan mengambil jalan yang berbeda.


Gedung Surachman Tjokrodisurjo, 11 September 2026.

Tabik.

Muhamad Rahmat

Baca Juga
Terbaru Lebih lama
Abah
Generasi Micinial

Artikel Terkait

2 komentar

  1. Menjadi auditor memang harus siap menerima kenyataan bahwa tidak semua orang suka diberitahu bahwa yang dia perbuat itu salah, tidak suka dikoreksi.

    Fly higher, pak. Sukses di tempat baru.

    Afrinaldi,
    Fellow Kancut Keblenger member

    BalasHapus
  2. Meskipun baru beberapa bulan kenal, terimakasih banyak bimbingannya komandan. Jangan lupa termenung menatap langit.

    BalasHapus