fiscus-wannabe
1889931491244934
Sedang Proses ...

Jika Aku Menjadi


Jika aku menjadi adalah reality show di salah satu teve swasta, entah sekarang masih tayang atau tidak. Pernah ada faksi yang mengkritik program tersebut karena dianggap terlalu mengeksploitasi kemiskinan. Menurutnya, penonton hanya diajak untuk menangisi "kengenesan" nasib kaum miskin, tapi setelah itu nihil aksi nyata.

Namun, bukan itu benang merah yang ingin saya coba uraikan.

Tiga tahun lalu, sewaktu baru masuk kerja, saya gagal paham, sehingga muncul tanda tanya di kepala ini soal banyaknya teman di kantor yang mau-maunya berangkat kerja naik kereta komuter Jabotabek, gencet-gencetan seperti ikan asin. Barulah dua tahun kemudian, setelah menikah dan berkeluarga, saya pun mengalami dan merasakan sendiri setiap pagi dan sore hari harus gencet-gencetan di dalam gerbong KRL. Semenjak itu pula saya paham alasan mereka memilih KRL untuk berangkat dan pulang kerja.

Pun saya pernah bertanya-tanya soal beberapa teman di kantor yang memilih jalan hidup sebagai PJKA (Pergi Jumat Kembali Ahad). Jumat malam mereka pergi meninggalkan Jakarta menuju kampung halaman, menemui anak isteri, dan kembali ke Jakarta di Ahad sorenya. "Kenapa ga diajak ke Jakarta aja?" begitu saya pernah bertanya. Barulah ketika saya mendapat kesempatan untuk menjalani hidup sebagai PJKA saya paham alasan-alasan mereka memilih rel yang panjang dan tidak banyak berliku ini sebagai jalan hidupnya.

Sama dengan kereta komuter yang beberapa gerbongnya sudah menjadi markas kelompok-kelompok tertentu. Di kereta api ekspres pun ada kelompok-kelompok yang sudah mengkavling gerbongnya untuk menjadi markas mereka. Seperti gerbong yang saya tumpangi kali ini misalnya, sebagian sudah dikavling sebagai markas para punggawa Lapangan Banteng.

Tampaknya ini yang dimaksud para pengkritik tadi. Bahwa menjadi penonton "Jika Aku Menjadi" tidak akan benar-benar membuat kita bisa memahami yang kita tonton. Harus ikut menjadi pelaku agar kita benar-benar memahami dan menghayati peran yang mereka mainkan dalam sandiwara kehidupan ini.

Meminjam, mengubah, dan menambahi kata-kata Soa Hok Gie, bahwa pernikahan adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya, untuk menemukan sendiri jawabannya. Sepertinya kata-kata itu ada benarnya, karena setelah menikah dan menghadapi sendiri tanda tanya itu, saya berhasil menemukan sendiri jawaban atas tanda-tanda tanya tadi.
Personal 6407855570518308107

Posting Komentar Blogger Disqus

emo-but-icon

Beranda item

Laman Facebook

Statistik

Langganan Surel

Pemirsa

Kliping