zORB44u1Y5Szogk9hvRg5anbZDydcDDjseaSpgOw

Melirik Reksa Dana Pasar Uang


Saya pernah membahas mengenai reksa dana pasar uang, baik sebagai diversifikasi portofolio maupun sebagai salah satu instrumen yang diperlukan untuk menjalankan strategi market timing reksa dana. Kali ini kita akan melihat sisi lain dari reksa dana pasar uang, yaitu sebagai instrumen untuk menjaga nilai uang.

Reksa dana pasar uang adalah reksa dana yang menempatkan portofolionya ke dalam instrumen-instrumen pasar uang. Instrumen pasar uang terdiri dari efek-efek utang yang masa jatuh temponya kurang dari setahun. Misalnya adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito, dan obligasi yang masa jatuh temponya kurang dari setahun. Untuk reksa dana pasar uang syariah portofolionya berupa Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI), Sertifikat Investasi Mudharabah Antar-Bank (SIMA), Certificate of Deposit Mudharabah Mutlaqah (CD Mudharabah Mutlaqah), dan Certificate of Deposit Mudharabah Muqayyadah (CD Mudharabah Muqayyadah).

Dengan portofolio seperti itu, bisa dibilang bahwa reksa dana pasar uang adalah reksa dana dengan tingkat risiko paling rendah. Tapi tentu saja return yang didapat juga lebih kecil jika dibandingkan dengan reksa dana lainnya. Meski demikian, return reksa dana pasar uang masih lebih tinggi daripada deposito. Ditambah lagi, atas bunga deposito dikenakan PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar 20% sedangkan reksa dana bukan merupakan objek pajak.

Keunggulan lainnya adalah likuiditas yang tinggi. Kita dapat melakukan subscription maupun redemtion kapan pun dengan redemtion time T+1 atau T+2, tergantung produknya. Subscription fee dan redemtion fee reksa dana pasar uang juga 0% alias tidak dikenakan fee.

Akan tetapi, harus tetap diingat bahwa reksa dana adalah produk investasi. Artinya reksa dana pasar uang tidak dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) seperti halnya deposito. Oleh karena itu, reksa dana pasar uang tetap memiliki resiko. Misalnya apabila terdapat instrumen dalam portofolionya yang mengalami gagal bayar.

Berbeda dengan jenis reksa dana lainnya, NAB/UP reksa dana pasar uang cenderung tetap pada angka Rp1.000,00. Hal ini terjadi karena keuntungannya langsung dikonversikan ke dalam UP. Jadi UP kita akan cenderung bertambah dengan NAB/UP yang cenderung tetap.

Melihat kondisi pasar saham kita saat ini yang folatilitasnya sangat mencenungkan, reksa dana pasar uang bisa menjadi salah satu alternatif instrumen investasi, terutama bagi investor dengan profil risiko yang konservatif.  Bisa juga reksa dana pasar uang menjadi transit sementara ketika kita masih ragu untuk masuk ke pasar saham. Namun, sebelum berinvestasi di reksa dana pasar uang kita harus meluruskan niat terlebih dahulu. Jika tidak, sebentar-sebentar kita akan melakukan redemtion karena redemtion time-nya memang cukup singkat dengan fee 0%. Sedikit curcol.
Baca Juga
Abah
Generasi Micinial

Artikel Terkait

Posting Komentar