zORB44u1Y5Szogk9hvRg5anbZDydcDDjseaSpgOw

"Aku ga main dulu ya, lagi korona!" seru Jagoan yang berdiri di pintu ketika ada temannya mengintip dan berteriak dari balik pagar, mengajak bermain. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun masih banyak yang berkeliaran dan tidak menjaga jarak. Padahal pihak pengelola Perkampungan Budaya Betawi rutin berpatroli, mengimbau warga untuk tetap rebahan di rumah. Kadang mereka juga mengusir warga yang masih nakal memancing ikan di danau depan rumah. 

Jagoan cukup bisa bekerja sama di tengah serangan korona. Ia bisa memahami alasan untuk tidak keluar rumah. Jagoan pun, meski terpaksa, bisa menerima alasan ketika di akhir Maret kami sempat kesulitan mendapatkan susu moka favoritnya. Dia bisa menerima keadaan yang mengharuskannya jadi anak rumahan. Memang, sih, sejak awal tahun dia sudah jadi anak rumahan. Sering dia menolak diajak jalan dan lebih memilih di rumah. Bahkan kalau diajak ke mal kelamaan, dia cenderung demam setelahnya.

Saking jarangnya keluar rumah sampai tak sadar kalau rambutnya sudah gondrong. Jagoan terakhir potong rambut pas awal Maret lalu. Itu pun sekaligus menjadi kali terakhir Jagoan diajak ke mal. Waktu itu itu di Indonesia belum terdeteksi adanya korona. Kemarin, akhirnya rambut Jagoan dipangkas di rumah oleh ibunya.

Banyak iklan mengenai edukasi cuci tangan dan pencegahan penularan infeksi korona mambantu Jagoan memahami kondisi saat ini. Pernah muncul pemikiran yang lucu di kepalanya, sesaat setelah kami memberi pemahaman bahwa kita harus di rumah dan di kuar pun banyak tempat umum yang ditutup. Bahkan rumah sakit pun ditutup untuk umum karena korona, jadi jangan pecicilan supaya tidak celaka.

"Ambu, kalau ibu-ibu gimana?" tanya Jagoan pada ambunya. 
"Ya di rumah." sahut ambu. 
"Maksudnya ibu-ibu yang belum menikah?" 
"Hah?" ambu masih tak paham pertanyaan anak sulungnya itu. 
"Jadi lama dong, Mbu. Nikahnya. Kan korona, jadi pada tutup." 
Abah dan ambu pun terkekeh mendengar kelakarnya.

Sagala pemahamannya mengenai korona membuat ia tahu betul harus memakai masker, topi, dan celana panjang ketika keluar rumah. Ia pun paham harus sering mencuci tangan. Namun, saking lamanya kami #dirumahaja, ia jadi punya persepsi kalau sedari saat ini hingga nanti abah dan ambu akan tetap di rumah dan tidak perlu ke kantor.

Anak Rumahan

Efek positif dari korona adalah berkumpul di rumah. Sebelumnya, kalau pagi abah jarang terlihat dan malam hanya menghabiskan sisa tenaga untuk bermain. Sekarang, abah kerja dengan selingan tendangan Jagoan mengajak bercanda atau teriakan jagoan untuk meminta sesuatu. Jagoan pun lebih banyak mengeksplorasi lingkungan dalam rumah bersama kami, dari membuat lintasan Hot Wheels sepanjang-panjangnya hinnga mengepel, dari belajar dan bereksperimen hingga main games. Semua dilakukan bersama. 

Kadang abah suka bete, kalau kerja pagi sampai sore banyak gangguan, ambu cuma nyengir. Padahal ambu suka teriak-teriak minta tolong ke abah kalau pas lagi kerja Jagoan mencari perhatian. Apalagi jam kerja ambu sore sampai malam, tenaga dan fisik sudah sisa-sisa penghabisan bumil trimester tiga.

Pernah, kami ajak Jagoan keluar pada malam hari kedua masa transisi dengan menggunakan roda empat untuk melihat situasi Jakarta. Namun, ia bersikeras mempertanyakan alasan harus keluar jika korona masih ada. Kami pun memberikan pengertian agar Jagoan benar-benar paham dengan melihat langsung kalau kondisinya memang belum memungkinkan untuk membeli mainan baru, termasuk mainan dinosaurus baru, main ke tempat main, atau kalau susu habis jangan langsung menangis. Karena terkadang dia beranggapan kami mengarang cerita atau mengada-ada untuk menolah permohonannya. 

Alhasil, ia pun tertidur dalam perjalanan di balik maskernya karena ketakutan melihat jalanan di depan Transmart Cilandak, PIM, Carrefour Lebak Bulus, Poins Square, dan Gandaria City yang mayoritas gelap. Pengalaman itu akan semakin membuatnya yakin bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja, sehingga ia akan merasa baik-baik saja menjadi anak rumahan hingga pandemi ini usai.
Baca Juga
Terbaru Lebih lama
Ambu
Pendidik

Artikel Terkait

Posting Komentar